IBU KOTA

Pemprov DKI dukung program literasi digital untuk mencegah judi online

192
×

Pemprov DKI dukung program literasi digital untuk mencegah judi online

Sebarkan artikel ini

 

Jakarta, 12/11 (MSB) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta memberikan dukungan penuh terhadap program literasi digital untuk mencegah judi online (judol) yang tengah digencarkan pemerintah pusat.

“Kami siap untuk mendukung program-program strategis dari pemerintah pusat, termasuk juga program yang terkait dengan literasi digital. Kita berharap langkah ini betul-betul bisa menyadarkan warga,” kata Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi DKI Jakarta Teguh Setyabudi  saat mendampingi Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid ​​​​​​​menyelenggarakan  literasi digital di Jakarta Utara, Selasa.

Literasi digital bertema “Pencegahan dan Penanganan Judi Online di Lingkungan Sekolah dan Masyarakat” diselenggarakan di RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) Intiland Teduh Semper dan SMA Negeri 92, Cilincing, Jakarta Utara.

Teguh pada kesempatan itu mengingatkan kepada masyarakat bahwa kemajuan teknologi tak hanya mendatangkan dampak positif, melainkan juga dampak negatif.

Oleh sebab itu, masyarakat pun perlu menyadari dampak-dampak negatif dari internet salah satunya adalah judi online. Terutama bagi para ibu rumah tangga (IRT) agar dapat menjaga anak bahkan suami agar tidak terjerat judi online.

“Terkait masalah bahaya judol ataupun hal-hal yang terkait negatif internet, ibu-ibu punya peran yang sangat besar untuk bisa menjaga keluarganya, menjaga anak-anaknya bahkan juga menjaga bapak-bapaknya,” kata Teguh.

Teguh memaparkan, pada tahun 2024 berdasarkan data dari PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) mencatat ada sekitar 1836 orang anak usia sampai dengan 17 tahun yang terlibat judi online di DKI Jakarta dengan nilai transaksi kurang lebih Rp2,29 miliar.

Dalam kesempatan yang sama, Meutya Hafid juga menyampaikan hal senada. Dia mengimbau kepada para orang tua yang hadir agar ikut membantu mengawasi dan memberantas judi online. Sebab, angka anak usia sekolah yang terlibat judi online  cukup tinggi.

“Dia pakai akun-akun orang tua. Bisa mengakses biasanya lewat game online,” ujar Meutya. (Raali)