swarabhayangkara.com, Jakarta — Di saat sebagian tempat wisata masih sibuk mengukur radius ledakan kembang api demi konten media sosial, Ancol Taman Impian memilih jalan sunyi yang jarang ditempuh industri hiburan: menekan tombol pause pada pesta, dan menyalakan lampu empati.
Manajemen Ancol resmi meniadakan pertunjukan kembang api pada malam pergantian tahun, sebagai respons atas bencana yang melanda Sumatera. Sebuah keputusan yang mungkin terasa “tidak meriah”, terutama bagi mereka yang menganggap tahun baru tak sah tanpa langit berisik dan asap warna-warni.
Alih-alih menghitung mundur menuju ledakan cahaya, Ancol mengajak publik menghitung ulang makna perayaan. Sebab, menurut Ancol, ketika sebagian saudara bangsa masih menghitung kehilangan, rasanya agak canggung merayakan tahun baru dengan letupan kegembiraan tanpa jeda nurani.
Namun jangan khawatir. Tahun baru di Ancol tidak sepenuhnya berubah menjadi ruang hening tanpa hiburan. Konser tetap berjalan. Musik tetap berdentum. Bedanya, kali ini dentuman diarahkan ke hati, bukan ke langit.
Di Pantai Carnaval Ancol, Konser Peduli Sumatera tetap digelar dan disiarkan langsung melalui Gempita SCTV, menghadirkan Dewa 19 feat Ello, Helloband, dan Five Minutes. Sementara di Pantai Festival, Konser New Palapa tetap menggoyang massa. Sebuah pengingat bahwa hiburan masih boleh ada, asal tidak kehilangan arah dan rasa.
Rangkaian acara tahun ini, menurut Ancol, difokuskan pada kebersamaan, doa, donasi, dan refleksi—empat kata yang jarang menjadi bintang utama malam tahun baru, kalah pamor dari “kembang api 10.000 tembakan”.
Ancol juga mengajak pengunjung untuk menjadikan pergantian tahun sebagai momen perenungan. Sebuah ajakan yang mungkin terdengar asing di tengah budaya selebrasi instan, tetapi terasa relevan di negeri yang kerap diuji oleh bencana.
“Tahun baru bukan hanya soal perayaan,” pesan Ancol, seolah mengingatkan bahwa empati tidak pernah kadaluarsa, bahkan saat kalender berganti angka.
Sebagai penutup, Ancol mengirimkan satu kalimat yang tak membutuhkan efek visual apa pun:“Pulihlah dan bangkitlah, Sumatera. Kami selalu ada.”
Dan malam itu, langit Ancol mungkin lebih gelap dari biasanya—namun barangkali, nurani bangsa justru sedikit lebih terang. (Is)







