NASIONAL

Ngaji Budaya 2025: Merajut Harmoni Islam dan Budaya

390
×

Ngaji Budaya 2025: Merajut Harmoni Islam dan Budaya

Sebarkan artikel ini

 

Jakarta, swarabhayangkara – Program Ngaji Budaya kembali digelar tahun ini dengan tema “Deklarasi Istiqlal dalam Perspektif Budaya.” Acara yang berlangsung di Auditorium HM. Rasjidi ini bertujuan untuk memperkuat harmoni antara Islam dan budaya Nusantara, sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan yang moderat dan inklusif.

Dalam masyarakat yang semakin kompleks, pendekatan dakwah berbasis budaya menjadi kunci penting dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang berakar pada kearifan lokal. Ngaji Budaya 2025 hadir sebagai ruang dialog dan edukasi yang membuka wawasan tentang peran budaya dalam penguatan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Mengapa Islam dan Budaya Perlu Berjalan Seiring?

Sejak awal penyebarannya di Nusantara, Islam berkembang melalui proses akulturasi dengan budaya lokal. Tradisi keislaman yang khas dan unik pun terbentuk, mencerminkan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, tantangan modernisasi sering kali menggerus warisan budaya Islam yang telah mengakar.

Melalui Ngaji Budaya 2025, peserta diajak untuk memahami bagaimana budaya dapat menjadi media dakwah yang efektif. Dengan menghadirkan para pakar dan budayawan, acara ini bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan ngaji itu sendiri, adalah :

  1. Memperkuat pemahaman tentang keterkaitan antara Islam dan budaya dalam perspektif Deklarasi Istiqlal, yang menekankan pentingnya harmoni dan inklusivitas dalam membangun peradaban.
  2. Mendorong pelestarian budaya Islam di Nusantara sebagai warisan intelektual dan spiritual yang tetap relevan dalam menghadapi perkembangan zaman.
  3. Membuka ruang dialog interaktif antara ulama, budayawan, dan masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam membangun peradaban Islam berbasis nilai-nilai lokal.

Acara ini menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh di bidang agama dan budaya, di antaranya:

  • Farid F. Saenong, Ph.D (Staf Khusus Menteri Agama)
  • Prof. Dr. Oman Fathurrahman (Akademisi dan Filolog)
  • Susi Iffaty (Lesbumi NU)

Peserta kegiatan ini berasal dari berbagai kalangan, termasuk pegawai Kementerian Agama, mahasiswa UNISIA Jakarta dan UIN Jakarta, FKDT Jakarta, santri, penyuluh agama Islam, serta masyarakat umum yang tertarik dengan tema budaya dan keislaman.

Ngaji Budaya 2025 mendapatkan respons positif dari para peserta. Antusiasme yang tinggi menunjukkan bahwa pendekatan dakwah berbasis budaya tetap relevan di era modern.

Ke depannya, program ini akan terus dikembangkan sebagai wadah untuk merumuskan strategi dakwah berbasis budaya yang kontekstual. Selain itu, diharapkan Ngaji Budaya dapat membangun jaringan komunitas yang aktif dalam pelestarian budaya Islam, sehingga Islam dapat terus dipahami sebagai agama yang selaras dengan kearifan lokal dan tetap relevan sepanjang zaman.

NMC