NASIONAL

Sambut Muharam 1457 H, Kemenag Luncurkan Program Ngaji Fasholatan dan 1.000 Masjid Ramah Disabilitas dan Lansia

255
×

Sambut Muharam 1457 H, Kemenag Luncurkan Program Ngaji Fasholatan dan 1.000 Masjid Ramah Disabilitas dan Lansia

Sebarkan artikel ini

 

Jakarta,  swarabhayangkara.com — Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1457 Hijriah, Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia meluncurkan dua program unggulan: Ngaji Fasholatan dan pengembangan 1.000 Masjid Ramah Penyandang Disabilitas dan Lansia. Peluncuran program ini digelar dalam kegiatan bertajuk “Kick Off Program Ngaji Fasholatan dan 1.000 Masjid Inklusif” di Jakarta, Selasa (24/6).

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., menjelaskan bahwa peluncuran ini merupakan komitmen Kemenag untuk menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat yang inklusif, ramah, dan terbuka bagi semua kalangan, termasuk kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas.

“Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah semata, tetapi juga ruang aman, nyaman, dan penuh penghormatan bagi semua lapisan masyarakat,” ujar Abu Rokhmad.

Ia menggambarkan pentingnya peran sosial masjid, terutama bagi kaum lansia. “Bayangkan para lansia bertemu sahabat seangkatannya di masjid, saling menyapa dan bercerita. Masjid bisa menjadi tempat paling indah bagi mereka jika kita benahi dengan sungguh-sungguh,” lanjutnya.

Menurut Abu Rokhmad, konsep masjid inklusif bukan hanya menyangkut aspek fisik bangunan, tetapi juga cara pandang pengurus dan jemaah. “Semua warga negara berhak mendapat akses layanan keagamaan yang aman dan bermartabat,” tegasnya.

Terkait program Ngaji Fasholatan, Abu Rokhmad menekankan bahwa gerakan ini merupakan upaya penguatan karakter berbasis spiritual. Ia menyebut kualitas salat sebagai pondasi utama dalam membangun kehidupan pribadi dan sosial yang lebih baik.

“Kalau salatnya benar, maka akhlaknya pun akan terbentuk. Ngaji Fasholatan bukan hanya memperbaiki bacaan dan gerakan, tetapi juga membangun kesadaran diri dalam beragama,” jelasnya.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah mulai merancang skema Bantuan Operasional Masjid (BOM) sebagaimana madrasah yang mendapatkan BOS (Bantuan Operasional Sekolah). “Kami bermimpi masjid juga mendapatkan perhatian serupa. Kalau BOS dihitung per siswa, mengapa tidak kita ukur nilai kontribusi jamaah masjid?” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Dr. Arsad Hidayat, M.A., mengungkapkan masih minimnya aksesibilitas masjid bagi kelompok rentan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, dari 47 masjid yang ditinjau, 46 di antaranya belum ramah terhadap penyandang disabilitas dan lansia.

“Ini menunjukkan bahwa kita masih abai dalam memperlakukan masjid sebagai ruang publik yang adil dan inklusif,” ujar Arsad.

Ia menambahkan bahwa Kemenag telah menerbitkan Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 958 Tahun 2021 sebagai dasar regulasi pengembangan masjid ramah disabilitas dan lansia. “Standar yang diatur mencakup jalur landai, toilet khusus, hingga pelatihan bagi pengelola masjid agar mampu melayani semua jamaah secara manusiawi,” jelasnya.

Masjid Istiqlal dan Masjid el-Syifa Ciganjur disebut sebagai contoh baik penerapan fasilitas inklusif. Selain itu, Kemenag juga berkolaborasi dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an untuk menghadirkan Al-Qur’an ramah disabilitas sebagai bagian dari literasi ibadah yang setara.

“Masjid harus jadi ruang yang memuliakan siapa pun. Tugas kita adalah memastikan semangat ini turun ke tingkat paling bawah, hingga ke pengurus masjid desa,” pungkas Arsad.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PBNU KH Masyhuri Malik menyatakan dukungan penuh terhadap program masjid inklusif yang diinisiasi Kemenag. Ia menyebut para pengelola masjid sebagai mujahid yang menjaga warisan ulama dan nilai Islam raḥmatan lil-‘ālamīn.

“Jangan anggap remeh pekerjaan mengurus masjid. Ini bagian dari jihad kemanusiaan,” tegasnya.

KH Masyhuri juga menekankan pentingnya membangun masjid yang tidak hanya hidup secara spiritual, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial yang sehat, terutama bagi lansia. “Kalau lansia aktif di masjid, itu bisa menambah umur dan semangat hidup mereka,” ujarnya.

Ia menutup dengan harapan bahwa program ini tidak berhenti di tataran seremoni semata. “Tindak lanjut jauh lebih penting dari sekadar launching. Kalau tidak ada keberlanjutan, belum bisa disebut mujahid sejati,” tutupnya.

NMC