NASIONAL

Pamitan Manis Ditjen PHU,  Buku Tebal, Kenangan Panjang, dan Haji yang Tak Ingin Dilupakan

188
×

Pamitan Manis Ditjen PHU,  Buku Tebal, Kenangan Panjang, dan Haji yang Tak Ingin Dilupakan

Sebarkan artikel ini

 

swarabhayangkara.com, Tangerang Selatan — Penyelenggaraan haji 2025 menjadi semacam epilog yang ditulis dengan tinta rapi oleh Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama.

Setelah 75 tahun mengelola haji, Ditjen PHU memilih pamit dengan cara yang cukup khas birokrasi berpengalaman: menerbitkan buku yang sangat tebal, sangat serius, dan sangat penuh kenangan.

Buku berjudul Haji Indonesia Era Kementerian Agama diperkenalkan pada Rapat Kerja Nasional Kementerian Agama di Tangerang Selatan, Selasa (16/12/2025). Penyerahan buku oleh Dirjen PHU Hilman Latief kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, dan Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin menjadi simbol perpisahan yang elegan—tanpa air mata, tapi dengan ribuan halaman.

“Alhamdulillah, haji terakhir yang dikelola Kemenag berjalan sukses,” ujar Hilman Latief. Kalimat itu terdengar sederhana, namun menyimpan makna besar: tugas panjang telah ditunaikan, tongkat estafet siap diserahkan kepada Kementerian Haji dan Umrah mulai tahun depan.

Haji 2025 memang bukan perjalanan ringan. Kompleksitas masalah dan dinamika lapangan menjadikannya salah satu musim haji paling menantang. Namun, justru di titik itu, kepuasan jemaah tercatat tetap meningkat, bahkan Pemerintah Arab Saudi menilai penyelenggaraan haji Indonesia sebagai yang terbaik sepanjang masa. Sebuah penilaian yang terdengar seperti pujian perpisahan—singkat, tapi berkesan.

Hilman mengingat pesan Menteri dan Wakil Menteri Agama bahwa meski pengelolaan haji berpindah tangan, Kemenag tetap memiliki peran penting: menjaga ingatan. Dari sanalah gagasan buku ini lahir, sebagai memori kolektif umat Islam Indonesia yang pernah, sedang, dan akan terus merindukan haji yang terkelola rapi.

“Hari ini kami persembahkan buku Haji Indonesia Era Kementerian Agama. Semoga bisa menjadi pegangan dan pengingat bersama,” harap Hilman, seolah mengatakan bahwa sejarah tak boleh ikut pensiun.

Buku Akademik, Bukan Sekadar Kenangan

Penyusunan buku ini dikoordinasikan oleh Sesditjen PHU M Arfi Hatim bersama tim Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin, Banten. Buku setebal sekitar 2.300 halaman ini ditulis dalam waktu relatif singkat setelah musim haji selesai—sebuah kecepatan yang jarang, tapi patut dicatat.

Penyuntingan dipercayakan kepada Hadi Rahman dan Oman Fathurahman, filolog terkemuka yang sebelumnya juga menggarap buku Naik Haji di Masa Silam. Hasilnya, sebuah karya yang boleh jadi menjadi buku paling tebal tentang haji Indonesia, sekaligus salah satu yang paling serius.

Menurut M Arfi Hatim, buku ini disusun berbasis sumber primer Kementerian Agama dan referensi kredibel, dengan standar akademik yang ketat. Singkatnya, ini bukan buku nostalgia semata, melainkan arsip sejarah yang bisa diperdebatkan, dikaji, dan diwariskan.

Buku Haji Indonesia Era Kementerian Agama hadir dalam tiga jilid. Jilid pertama, Dari Masa ke Masa, menyajikan narasi kronologis penyelenggaraan haji dari 1950 hingga 2025. Jilid kedua, Ekosistem dan Kebijakan, membahas kebijakan haji dalam bingkai argumentatif. Jilid ketiga, Adaptasi dan Inovasi, menuturkan perjalanan pembaruan dalam pengelolaan haji.

“Tiga jilid ini berbeda sudut pandang, tapi satu kesatuan,” kata M Arfi. Sebuah penegasan bahwa haji, seperti birokrasi, adalah kisah panjang yang tak pernah berdiri sendiri.

Dengan buku ini, Ditjen PHU tak sekadar pamit. Ia meninggalkan jejak—tebal, rapi, dan sulit diabaikan—sebagai penanda bahwa selama 75 tahun, haji Indonesia pernah dikelola dengan penuh cerita, kerja keras, dan tentu saja, segudang catatan kaki. (Is)