NASIONAL

Ketika Jalanan Lelah, Masjid Membuka Pintu, Benarkah?

232
×

Ketika Jalanan Lelah, Masjid Membuka Pintu, Benarkah?

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – Di saat jalan-jalan nasional dipenuhi klakson panjang, mata merah, dan niat baik yang diuji rasa kantuk, negara akhirnya menemukan solusi paling klasik sekaligus paling spiritual: masjid.

Bukan pos polisi, bukan rest area berbayar, melainkan rumah Tuhan yang kembali diingat fungsinya sebagai tempat singgah manusia—yang kebetulan sedang lelah dan kehabisan kopi.

Kementerian Agama, dengan penuh kesadaran historis sekaligus keberanian simbolik, menyiapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik untuk libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Program ini diluncurkan di Karawang, daerah yang sudah lama akrab dengan kelelahan roda-roda kendaraan, Selasa (23/12/2025). Sebuah pesan sunyi disampaikan: ketika negara sibuk mengatur lalu lintas, masjid diminta membuka pintu dan hati.

Menteri Agama Nasaruddin Umar, dari layar virtualnya, mengingatkan publik bahwa masjid bukan sekadar tempat bersujud, tetapi juga tempat berhenti sejenak dari ambisi perjalanan. “Masjid adalah rumah bagi siapa pun,” katanya. Sebuah kalimat sederhana, namun cukup menohok di tengah dunia yang sering menanyakan identitas sebelum memberi air minum.

Dalam logika lalu lintas modern, kopi dan toilet bersih kadang lebih menentukan keselamatan ketimbang rambu-rambu. Maka imbauan Menag agar masjid menyediakan minuman hangat terdengar lebih realistis daripada banyak slogan keselamatan jalan. Bahkan, klaim bahwa masjid mampu menurunkan angka kecelakaan hingga 50 persen terdengar seperti satire alamiah: ternyata, iman dan istirahat adalah dua hal yang selama ini diremehkan dalam rekayasa transportasi.

Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad menyebut akhir tahun sebagai ruang pertemuan antara ibadah dan liburan—dua hal yang kerap dipisahkan, padahal sama-sama membutuhkan niat baik dan pengendalian diri. Natal dirayakan, tahun baru ditunggu, dan jalanan dipenuhi manusia yang pada dasarnya sedang menjadi musafir, entah menuju kampung halaman atau sekadar mengejar unggahan media sosial.

“Pada hakikatnya kita semua adalah musafir,” ujarnya. Sebuah pernyataan yang terdengar filosofis, namun juga ironis: manusia bergerak terus, tapi sering lupa tempat pulang, bahkan lupa berhenti.

Masjid Ramah Pemudik, kata Abu Rokhmad, adalah praktik keagamaan yang luhur. Luhur, karena di saat sebagian ruang publik sibuk menghitung untung rugi, masjid justru diminta memberi tanpa bertanya: siapa, dari mana, dan agamanya apa. Di sini, toleransi tidak dipamerkan lewat seminar, tetapi lewat pintu toilet yang tidak dikunci dan lantai yang dibersihkan.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Arsad Hidayat menegaskan, program ini bukan hal baru, hanya baru disadari. Sejak mudik Idulfitri, masjid sebenarnya sudah lama menjadi tempat istirahat alternatif—tanpa tiket masuk, tanpa barcode, dan tanpa iklan.

Masjid ramah, kata Arsad, bukan hanya ramah pemudik, tapi juga ramah lansia, ramah anak, ramah perbedaan, bahkan ramah persoalan sosial. Sebuah daftar panjang yang secara satir mengingatkan kita: betapa banyak urusan kemanusiaan akhirnya kembali dibebankan pada rumah ibadah.

Di tengah libur Nataru, ketika perbedaan keyakinan kerap disorot sebagai isu, masjid justru tampil sebagai ruang paling inklusif. Ia tidak bertanya siapa yang merayakan Natal, siapa yang meniup terompet tahun baru. Ia hanya menyediakan tempat duduk, air, dan sedikit ketenangan.

Maka, di saat jalanan penuh dan manusia kelelahan, negara seolah berbisik pelan:
Jika kau tak menemukan istirahat di dunia, mungkin kau perlu mampir sebentar ke rumah Tuhan.

Dan masjid pun, seperti biasa, membuka pintunya—tanpa konferensi pers. (Is)