NASIONAL

Natal 2025, Menag Ingatkan: Iman Tak Bisa Diselamatkan oleh Dekorasi, Tapi oleh Keluarga

246
×

Natal 2025, Menag Ingatkan: Iman Tak Bisa Diselamatkan oleh Dekorasi, Tapi oleh Keluarga

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Di tengah gemerlap lampu Natal, diskon akhir tahun, dan linimasa media sosial yang penuh ucapan damai instan, Menteri Agama Nasaruddin Umar justru mengajak umat Kristiani berhenti sejenak dan menengok sesuatu yang kerap terlupakan: keluarga.

Dalam Pesan Natal 2025 yang disampaikan Rabu (24/12/2025), Menag menegaskan bahwa Natal bukan sekadar ritual tahunan yang dirayakan dengan ornamen dan seremonial, melainkan panggilan serius untuk menyelamatkan keluarga—ruang paling awal tempat iman seharusnya bertumbuh, sebelum sibuk dikhotbahkan ke mana-mana.

Mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, Menag seolah mengingatkan bahwa gereja yang megah dan perayaan yang meriah tidak banyak berarti jika rumah-rumah justru dipenuhi retak, sunyi, dan percakapan yang tak lagi hangat.

“Jika keluarga dipulihkan, maka gereja akan bertumbuh. Jika gereja kuat, masyarakat menjadi rukun. Dan jika keluarga-keluarga kita tangguh, bangsa ini akan menemukan kembali arah dan harapannya,” ujar Menag—sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, namun terasa menampar di tengah realitas keluarga yang lebih sering sibuk menggenggam gawai daripada menggenggam doa.

Menag menyinggung kondisi sosial yang makin keras: polarisasi, tekanan ekonomi, hingga bencana yang silih berganti. Namun ironisnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru kerap berubah menjadi ruang paling rapuh—tempat iman mudah lelah dan kasih cepat habis.

Karena itu, Kementerian Agama menempatkan penguatan ketahanan keluarga sebagai agenda strategis. Sebab, tanpa keluarga yang sehat, nilai moderasi beragama hanya akan berhenti sebagai slogan, empati sekadar jargon, dan tanggung jawab sosial tinggal kutipan pidato.

“Keluarga yang sehat secara spiritual dan sosial adalah fondasi paling kokoh bagi Indonesia yang damai dan beradab,” tegas Menag, seakan mengingatkan bahwa bangsa ini tidak runtuh karena kurang slogan persatuan, melainkan karena terlalu banyak keluarga yang kehilangan arah.

Natal, menurut Menag, juga tidak boleh berhenti di altar dan panggung perayaan. Iman, katanya, harus menyentuh hal-hal paling praktis—termasuk cara manusia memperlakukan bumi yang kian lelah dieksploitasi atas nama kenyamanan.

“Iman harus menyentuh cara kita hidup. Mengurangi plastik, menanam pohon, menghemat energi—itulah bentuk syukur kita kepada Tuhan atas ciptaan-Nya,” ujarnya, di tengah ironi perayaan Natal yang sering kali justru meninggalkan lebih banyak sampah daripada kesadaran ekologis.

Lebih jauh, Menag mengingatkan bahwa Natal 2025 berlangsung di tengah duka banyak saudara sebangsa yang terdampak bencana. Sebuah kenyataan yang kerap tenggelam oleh pesta dan perayaan yang terlalu sibuk merayakan sukacita sendiri.

“Kekuatan Natal bukan pada kemewahan perayaan, melainkan pada keberanian untuk berbagi beban dengan mereka yang sedang terluka,” kata Menag, seolah menegur perayaan yang meriah namun lupa menoleh ke tenda-tenda pengungsian.

Menutup pesannya, Menag berharap Natal tidak lagi menjadi ajang lomba dekorasi atau sekadar formalitas tahunan, melainkan momentum untuk memulihkan makna iman, keluarga, dan kemanusiaan.

“Mari kita jadikan keluarga sebagai pelabuhan cinta yang menyelamatkan, sekaligus penjaga alam semesta yang Tuhan titipkan. Selamat Natal 2025 dan menyambut Tahun Baru 2026,” pungkasnya.
(Is)