NASIONAL

Merayakan Natal dengan Cara Indonesia: Ini Toleransi di Rumah Deolipa

250
×

Merayakan Natal dengan Cara Indonesia: Ini Toleransi di Rumah Deolipa

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Depok — Natal tidak selalu berbunyi lonceng gereja atau doa yang dilafalkan serentak. Di sebuah rumah di Depok, Kamis, 25 Desember 2025, Natal hadir dalam bentuk yang lebih sunyi namun bermakna: pintu yang terbuka, meja yang panjang, dan percakapan yang tak menanyakan asal keyakinan.

Pengacara Deolipa Yumara menggelar open house Natal di kediamannya. Sejak siang hari, wartawan dari berbagai media datang silih berganti. Tak ada sekat protokoler, tak ada jarak formal antara narasumber dan pewarta. Yang hadir hanyalah manusia—dengan cerita, tawa, dan saling sapa.

Suasana akrab tumbuh pelan-pelan. Percakapan mengalir seperti kopi yang diseruput tanpa tergesa. Di rumah itu, perbedaan tak diperdebatkan, melainkan diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Eka, salah satu wartawan yang hadir, mengaku terkesan dengan suasana kebersamaan yang tercipta. Baginya, peristiwa ini lebih dari sekadar perayaan Natal.

“Kami ini wartawan, sehari-hari meliput konflik, pertentangan, dan perbedaan. Tapi di sini, perbedaan justru dirawat dengan penuh hormat. Pengalaman seperti ini jarang ditemui, bahkan di banyak negara,” ujarnya.

Yang menarik, keluarga besar Deolipa yang hadir mayoritas beragama Muslim. Mereka duduk berdampingan, bercengkerama, dan merayakan Natal bukan sebagai ritual eksklusif, melainkan sebagai peristiwa kemanusiaan.

Deolipa Yumara menegaskan, Natal yang ia rayakan tidak berhenti pada makna keagamaan semata. Baginya, Natal adalah ruang persaudaraan.

“Indonesia dibangun di atas perbedaan. Kebersamaan seperti ini adalah wajah nyata Bhinneka Tunggal Ika. Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi tetap satu sebagai bangsa,” kata Deolipa.

Ia juga menyebut insan pers sebagai mitra strategis dalam kehidupan demokrasi—penjaga nalar publik, pengawal kejujuran, dan saksi perjalanan keadilan.

“Silaturahmi seperti ini penting. Hubungan harus dibangun di atas saling menghormati dan keterbukaan. Natal menjadi momentum yang tepat untuk itu,” ujarnya.

Bagi para wartawan, open house ini menjadi ruang informal yang langka: hubungan personal terjalin tanpa mengikis profesionalisme. Tidak ada wawancara resmi, namun justru di sanalah nilai-nilai paling jujur muncul.

Di tengah hiruk-pikuk bangsa yang kerap gaduh oleh perbedaan, rumah kecil di Depok itu seakan menjadi miniatur Indonesia—tempat toleransi tidak diperdebatkan, melainkan dipraktikkan.

Di situlah Natal menemukan maknanya:
harmoni dalam kebhinekaan, keindahan dalam keberagaman,dan kedamaian yang tumbuh diam-diam di bumi Nusantara yang indah. (Is)