NASIONAL

HAB ke-80 Kemenag: Doa yang Dihidangkan, Disana Ada  Lumpur yang Masih Dimakan Waktu

264
×

HAB ke-80 Kemenag: Doa yang Dihidangkan, Disana Ada  Lumpur yang Masih Dimakan Waktu

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – Di hari ulang tahunnya yang ke-80, Kementerian Agama ada lilin tanpa api. Aula berpendingin udara dipenuhi doa, pidato, dan senyum yang tertata rapi.

Nun di luar sana, hujan telah lama berhenti, tetapi lumpur masih setia tinggal—menempel di lantai rumah ibadah, di serambi madrasah, dan di kaki warga yang tak pernah diundang ke tasyakuran.
Perayaan itu disebut sederhana. Sebuah kata yang dalam kamus birokrasi berarti: tidak ada pesta besar, tapi tetap ada laporan keberhasilan. Dana yang biasanya menari di panggung seremoni kini “dipertobatkan”, dialihkan ke wilayah bencana. Negara pun bersedekah—setelah menghitung, setelah mengizinkan, setelah memberi stempel.

Nasarudin Umar, Menteri Agama berkata, ini solidaritas. Kalimatnya lembut, seperti doa selepas salat. Namun solidaritas, seperti iman, sering datang terlambat: ia lahir setelah air surut dan kamera siap merekam. Bencana lebih dulu mengetuk, barulah anggaran membuka pintu.

Tapi, dari penundaan itu lahirlah hikmah. Program yang lama terbaring di laci, menunggu tanda tangan dan tanggal, tiba-tiba menemukan jalan suci bernama relokasi. Anggaran pun bertobat, mengalir ke Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat—mengalir dengan angka, bukan air mata.
Rp155 miliar disebut dengan khidmat, seolah zikir yang diulang-ulang agar terdengar berkah. Angka itu menghibur telinga, tapi tidak selalu menghangatkan kaki warga yang menginjak lumpur dingin. Masjid dihitung, madrasah didata, pesantren dicatat. Semuanya rapi dalam tabel. Derita, seperti biasa, tak punya kolom sendiri.

Selerti biasa, negara datang dengan helm proyek dan spanduk kepedulian. Jembatan disambung kembali—setelah ia sempat lupa tugasnya. Mushaf Al-Qur’an dibagikan ribuan, meski sebagian lantai masjid masih basah dan doa-doa harus bergantian dengan bau tanah. Renovasi dimulai, sebab kerusakan sudah cukup stabil untuk difoto.

Lalu donor darah pun digelar. Hampir 300 kantong terkumpul. Darah mengalir, simbol kemanusiaan dipamerkan. Tapi bencana tak menunggu stok PMI, dan luka tak selalu sembuh dengan seremoni. Tubuh-tubuh lelah di pengungsian tak tercantum dalam rilis pers.

Dan dalam pidato penutup, kerukunan umat beragama dielu-elukan. Indeksnya tinggi, katanya. Mungkin setinggi podium tempat pidato dibacakan. Di bawahnya, warga hanya ingin satu hal yang lebih sederhana dari kerukunan: rumah yang kering, sekolah yang bisa dibuka, dan negara yang hadir sebelum doa menjadi siaran pers.

Lalu tema besar kembali diulang: Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju. Kata-kata itu mengambang di udara, ringan, tak perlu sepatu bot untuk mengucapkannya. Sebab yang berlumpur bukan lidah, melainkan kehidupan.
HAB ke-80 pun usai. Foto-foto disimpan, kursi dirapikan, karpet digulung. Doa telah selesai dibaca.

Namun  nun di Sumatra, lumpur belum membaca rilis. Dan rakyat—seperti biasa—masih belajar sabar, menunggu negara turun dari mimbar dan benar-benar berjalan di tanah.