ENTERTAIN

CLOUDY: Pulang dengan Nada, Menenun Ulang Arti Cinta

56
×

CLOUDY: Pulang dengan Nada, Menenun Ulang Arti Cinta

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Di sebuah kota yang tak pernah benar-benar tidur, musik sering lahir seperti kembang api: menyala terang, lalu lenyap sebelum sempat diingat.

Namun di antara hiruk-pikuk lagu viral yang berumur sekejap, hadir seorang penulis lagu belia bernama CLOUDY—membawa bukan sekadar suara, melainkan jejak perjalanan batin yang panjang dari lorong-lorong klasik Eropa hingga riuh napas Jakarta.

Ia kembali dari Berlin, kota yang dinginnya menajamkan disiplin dan melatih telinga pada simfoni para maestro. Di sana, ia menekuni partitur-partitur tua, memecah sunyi lewat komposisi, mengakrabi nama-nama agung seperti Beethoven dan Wagner. Namun, di balik kemegahan pendidikan itu, ada ruang hampa yang tak tertuliskan dalam notasi mana pun: krisis identitas.

“Di Eropa saya terlalu Asia. Di Indonesia saya dibilang kebarat-baratan,” begitu ia pernah berujar, lirih namun tegas. Ia sempat merasa menjadi penonton atas dirinya sendiri—berdiri di dua dunia, tanpa benar-benar memiliki salah satunya.
Tetapi kegelisahan, bagi seniman, bukanlah jurang. Ia adalah bahan bakar.

Dari retak itulah Cloudy menemukan nadanya. Ia belajar melepaskan diri dari kungkungan perfeksionisme klasik yang serba presisi. Jakarta—dengan debu, macet, dan denyut mudanya—mengajarinya satu hal: musik bukan sekadar rumus harmoni, melainkan getaran yang berani menyentuh luka dan rindu pendengarnya. Di situlah ia “pecah telur.” Ia tak lagi hanya memainkan musik; ia menghidupkannya.

Pada 14 Februari 2026, ketika orang-orang sibuk menukar bunga dan cokelat, Cloudy memilih memberi sesuatu yang lebih abadi: lagu. Sebuah tafsir ulang tentang rasa yang tak pernah selesai dibicarakan manusia—cinta.

Ia membawakan kembali “Arti Cinta”, lagu yang dahulu dipopulerkan oleh Ari Lasso dan ditulis oleh Ricky Five Minutes bersama sang legenda. Di tangan Cloudy, lagu itu tak lagi menggelegar dalam balutan rock; ia hadir dalam versi akustik yang lebih lirih, lebih intim—seperti bisikan di antara dua jiwa yang pernah saling percaya.

Di balik layar, ada tangan-tangan matang yang meraciknya. Nur Satriatama dan Seno M. Hardjo memproduksi ulang lagu tersebut dengan sentuhan minimalis kekinian—menanggalkan amarah gitar listrik, menggantinya dengan kelembutan yang mengendap. Eksekutif produser Farida Wijanarko menjadi sosok yang “mengetuk palu” atas keputusan ini. Di bawah naungan Prabawa Entertainment Indonesia, Cloudy diberi ruang untuk tumbuh tanpa kehilangan akar.

Hak cipta dan distribusi lagu mendapat restu dari Aquarius Pustaka Musik—label besar yang telah melahirkan banyak nama berpengaruh di industri musik nasional. Sebuah kepercayaan yang tak datang begitu saja, melainkan melalui keyakinan bahwa karya ini bukan sekadar nostalgia, melainkan jembatan.

“Saya ingin lagu ini menjadi penghubung,” kata Cloudy. “Anak muda bisa merasakan pahit-manisnya cinta. Yang dewasa, menemukan kembali ingatan tentang tanggung jawab dalam mencintai.”

Di situlah letak keberaniannya: ia tidak membatasi cinta pada generasi. Ia mengajak Gen Z dan para penikmat musik lama duduk di meja yang sama, berbagi cerita tentang rindu, pengorbanan, dan janji yang pernah diucapkan dengan sungguh-sungguh.
Cloudy mengidolakan Chrisye—seorang legenda yang percaya bahwa musik adalah napas panjang, bukan sensasi sesaat. Jejak itulah yang ingin ia ikuti: menghadirkan karya yang tak lekang oleh algoritma.

Apakah Cloudy akan menjadi “the next big thing” di industri musik Indonesia? Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti: ia telah memilih jalan yang tidak mudah—jalan yang menuntut ketulusan, bukan sekadar popularitas.

Dan di tengah langit Jakarta yang kadang mendung, kadang terang, Cloudy hadir seperti namanya: bukan badai yang menggelegar, melainkan awan yang perlahan meneduhkan—membawa hujan kecil bernama makna.