NASIONAL

Parade Ekoteologi di Puputan: Saat Daur Ulang Plastik dan Daur Ulang Janji Berjalan Beriringan

179
×

Parade Ekoteologi di Puputan: Saat Daur Ulang Plastik dan Daur Ulang Janji Berjalan Beriringan

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Denpasar — Lapangan Puputan Badung, Jumat (13/2/2026) pagi, berubah menjadi lautan warna.

Sekitar 600 peserta dari berbagai jenjang Widyalaya—mulai Pratama (PAUD) hingga Utama (SMA)—berbaris dalam Parade Budaya Bhakti Pertiwi Widyalaya yang secara resmi dilepas Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar.

Kegiatan ini menjadi rangkaian peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya, merujuk pada terbitnya PMA Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Widyalaya. Sebuah regulasi yang kini genap dua tahun, dan mulai diuji bukan hanya oleh teksnya, tetapi oleh realitas pelaksanaannya.

Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, menyebut parade budaya ini sebagai implementasi nyata regulasi sekaligus penguatan eksistensi Widyalaya sebagai lembaga pendidikan umum berciri khas agama Hindu.

“Saat ini telah berdiri sekitar 146 Widyalaya di Indonesia. Ini menunjukkan komitmen umat Hindu menghadirkan pendidikan berkarakter,” ujarnya.

Angka 146 tentu terdengar impresif. Meski demikian, publik masih menanti data lanjutan: berapa yang telah memiliki fasilitas memadai, tenaga pendidik tetap, dan dukungan anggaran berkelanjutan? Dalam birokrasi, berdiri sering kali lebih mudah daripada bertahan.

Parade ini juga disebut sebagai perwujudan program ekoteologi Kementerian Agama. Para peserta diwajibkan menggunakan sarana berbahan daur ulang sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan. Botol plastik, kardus, dan kertas bekas menjelma ornamen kreatif, seolah menyampaikan pesan bahwa sampah pun bisa diberi makna.

Sayangnya, di luar lapangan, persoalan lingkungan jarang selesai hanya dengan kreativitas sehari. Hutan tetap terancam, alih fungsi lahan terus berlangsung, dan kebijakan ekologis sering kali lebih lambat dari seremoni ekologis.

Menteri Agama menegaskan bahwa parade ini bukan sekadar pementasan seni.
“Yang kita saksikan adalah representasi kesadaran ekoteologi, menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam,” ujar Menag.

Tri Hita Karana disebut sebagai fondasi nilai tersebut. Harmoni dengan Tuhan, harmoni dengan sesama, harmoni dengan alam. Konsep yang agung—yang tantangannya bukan pada pemahaman, melainkan pada konsistensi penerapan.

Di sela parade, lomba mewarnai dan menggambar di Museum Bali digelar untuk anak-anak Widyalaya. Mereka mewarnai alam yang hijau dan langit yang biru, barangkali lebih jernih daripada warna kebijakan yang kerap abu-abu.

Dirjen Bimas Hindu juga mengapresiasi hibah lahan dari Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Gianyar untuk pembangunan Widyalaya Negeri. Dukungan daerah disebut sebagai amunisi penting.

Namun, seperti lazimnya amunisi birokrasi, ia tetap memerlukan mesiu berupa keputusan anggaran pusat. Lahan bisa tersedia, desain bisa disiapkan, proposal bisa ditumpuk rapi—tetapi tanpa tanda tangan final, semua itu hanya akan menjadi arsip yang menunggu giliran dibaca.

Menteri Agama menekankan bahwa Widyalaya harus menjadi penguat karakter di tengah degradasi moral. Pendidikan, katanya, tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga pembinaan etika dan akhlak.

Pernyataan itu sukar dibantah. Hanya saja, pendidikan karakter kerap diuji bukan di ruang kelas, melainkan pada keteladanan kebijakan dan integritas tata kelola. Anak-anak mungkin bisa diajari menjaga bumi lewat daur ulang, tetapi mereka juga belajar dari bagaimana orang dewasa mengelola kekuasaan.

Parade Budaya Bhakti Pertiwi Widyalaya ini diharapkan menjadi agenda tahunan setiap 13 Februari. Sebuah tonggak baru bagi eksistensi Widyalaya.

Pertanyaannya sederhana: apakah ekoteologi akan berhenti sebagai estetika parade, atau menjelma etika kebijakan? Apakah pendidikan berkarakter akan menjadi sistem yang kokoh, atau sekadar tema yang indah?

Di Lapangan Puputan, anak-anak berjalan dengan kostum daur ulang dan senyum tulus. Mereka telah menjalankan bagiannya dengan baik. Kini, giliran para pemegang regulasi membuktikan bahwa yang didaur ulang bukan hanya plastik—melainkan juga pola pikir lama yang sering kali lebih sulit terurai daripada sampah itu sendiri.

Jayalah Widyalaya. Jayalah Pertiwi—tentu saja, bukan hanya di panggung parade.