NASIONAL

Mandat di Ufuk Timur Sumatera: AMKI Menitip Asa pada Eka Putra

124
×

Mandat di Ufuk Timur Sumatera: AMKI Menitip Asa pada Eka Putra

Sebarkan artikel ini

 

swarabhayangkara.com, Riau – Di antara desir angin yang melintasi Selat Malaka dan denyut nadi tanah Melayu yang tak pernah benar-benar sunyi, sebuah amanah diturunkan—bukan sekadar dokumen, melainkan kepercayaan yang berlapis harapan.

Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI), melalui Pengurus Pusatnya, resmi menyerahkan mandat kepada Eka Putra—seorang akademisi yang ditempa oleh ilmu dan pengalaman—untuk menumbuhkan dan merajut kepengurusan di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.

Mandat itu tertulis rapi dalam Surat Nomor 012/AMKI-MDT/IV/2026, yang ditandatangani oleh Tundra Meliala dan Dadang Rachmat di Jakarta, pada 2 April 2026—sebuah tanggal yang kini menjelma titik mula bagi perjalanan baru organisasi di tanah Sumatera.

Dalam suara yang tenang namun tegas, Tundra Meliala menuturkan keyakinannya. Bahwa langkah ini bukan sekadar ekspansi, melainkan bagian dari peta besar yang digambar AMKI untuk merangkul seluruh penjuru negeri.

Ia menyebut nama Eka Putra bukan tanpa alasan—kapasitas dan integritas menjadi dua sayap yang diyakini mampu membawa organisasi ini terbang lebih jauh.

Di tangan Eka Putra, tiga amanah utama berdenyut: membangun kepengurusan yang kokoh, merajut koordinasi dengan berbagai pihak, serta menunaikan tugas-tugas yang kelak akan menjadi fondasi bagi tumbuhnya AMKI di Riau dan Kepulauan Riau.

Mandat ini bukan waktu yang singkat—ia hidup hingga struktur berdiri, hingga organisasi berakar, atau hingga pusat berkata lain.

Lebih dari itu, Riau dan Kepulauan Riau bukan sekadar titik di peta. Ia adalah simpul strategis—tempat arus informasi, ekonomi, dan budaya saling bersilang. Di sanalah AMKI ingin hadir, memperkuat suara, merawat kolaborasi, dan memastikan media tidak sekadar bertahan, tetapi juga berkembang dalam arus konvergensi yang kian deras.

AMKI sendiri berdiri sebagai rumah besar bagi para pemilik media—dari lembaran koran yang masih beraroma tinta, gelombang radio yang tak terlihat, layar televisi yang bercahaya, hingga dunia digital yang tak berbatas.

Di tengah perubahan zaman, organisasi ini memilih tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga pelaku—mendorong lahirnya media yang sehat, independen, dan berkelanjutan.
Program-programnya mengalir seperti sungai panjang: pelatihan digitalisasi redaksi, sertifikasi kreator konten, advokasi regulasi, hingga forum konvergensi yang mempertemukan gagasan dan masa depan dalam satu ruang.

Dan kini, dengan mandat yang disematkan kepada Eka Putra, sebuah bab baru mulai ditulis di tanah Riau dan Kepulauan Riau—
tentang organisasi yang tumbuh, tentang kolaborasi yang dirajut, dan tentang harapan yang dititipkan pada mereka yang berani melangkah.

Sebab di balik setiap mandat, selalu ada satu hal yang tak tertulis: kepercayaan—
yang menunggu untuk dijawab dengan kerja, dedikasi, dan jejak yang kelak akan dikenang.