NASIONAL

Ketika Kurban Dikalahkan oleh Potongan Video”

33
×

Ketika Kurban Dikalahkan oleh Potongan Video”

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – 
Di sebuah zaman ketika kebenaran harus bersaing dengan kecepatan jempol, seekor kambing bisa lebih tenang menunggu nasibnya dibanding manusia yang panik oleh potongan video. Begitulah nasib pernyataan Nasaruddin Umar—dipangkas bukan dengan pisau sembelih, melainkan dengan gunting digital yang lebih kejam: menghilangkan konteks.

Video itu beredar seperti kabar duka yang belum tentu ada jenazahnya. Judulnya dibuat garang: kurban dilarang, diganti uang. Sebuah narasi yang terasa lebih cocok untuk drama murahan ketimbang forum kebijakan.

Padahal, di panggung Gebyar Ramadan Keuangan Syariah 2026, yang lahir bukan larangan—melainkan gagasan: bagaimana ibadah kurban bisa lebih tertata, lebih luas manfaatnya, lebih rapi dari sekadar seremoni tahunan penuh darah dan foto-foto.

Namun publik kita punya kebiasaan lama: alergi pada penjelasan panjang, tapi rakus pada kesimpulan pendek.
Thobib Al Asyhar mencoba meredam kegaduhan yang tak perlu itu. Ia seperti orang waras di tengah pasar yang menjual kepanikan. Tidak ada pelarangan. Tidak ada penghapusan. Yang ada hanya opsi—dan di negeri ini, opsi sering dianggap ancaman.

Sebab memberi pilihan berarti menuntut tanggung jawab berpikir. Dan berpikir—sayangnya—tidak viral. Padahal, kurban bukan sekadar tradisi memotong leher hewan dengan khidmat yang setengah sadar. Ia adalah simbol tunduknya manusia pada perintah Tuhan—sebuah gema dari kisah Ibrahim yang diuji, dan Ismail yang berserah.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:
“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini sudah lama ada, tapi sering kalah pamor dengan caption sensasional.
Seakan-akan Tuhan menilai timeline, bukan ketakwaan.

Adapun tata cara kurban—yang tidak pernah berubah sejak wahyu diturunkan, meski algoritma terus diperbarui—sejatinya sederhana namun sarat makna:
•Niat lillahi ta’ala, bukan demi eksistensi digital.

•Hewan yang sehat dan layak, bukan sekadar murah dan cukup untuk difoto.
•Waktu penyembelihan yang sah, selepas salat Id hingga hari tasyrik.
•Menyebut nama Allah saat menyembelih, bukan menyebut nama sponsor.
•Tidak menyiksa hewan, karena belas kasih tidak berhenti pada manusia.
•Distribusi daging yang adil, agar kurban tidak berubah jadi pesta segelintir orang.

Dan jika pelaksanaan itu diserahkan kepada lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional, itu bukan pengkhianatan terhadap ibadah—melainkan upaya agar kurban tidak berhenti di pagar rumah sendiri.

Namun, di mata sebagian orang, sistem dianggap lebih mencurigakan daripada hoaks. Ironinya, umat lebih cepat marah karena merasa ibadahnya “diutak-atik”, daripada marah pada kebiasaan memelintir informasi. Seolah-olah kurban hanya tentang menyembelih hewan, bukan menyembelih ego, prasangka, dan kemalasan berpikir.

Padahal yang paling sering dikorbankan hari ini bukan kambing atau sapi—
melainkan akal sehat. Dan di tengah riuh itu, satu hal tetap sunyi: bahwa ibadah tidak pernah berubah, yang berubah hanyalah cara manusia salah memahaminya.