Surabaya, 14/10 (MSB) – Varrellind Judilaw Navynata Zeezar atau Elin Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Surabaya
yang tumbuh melalui berbagai ruang: organisasi, kepemudaan, komunikasi, hingga dunia pageant. Aktif sebagai organisatoris sekaligus Master of Ceremony, Elin terbiasa berada di tengah banyak orang, menyampaikan gagasan, serta terus mengembangkan dirinya.
Rabu (13/10/26).
Kecintaannya pada budaya membawanya melangkah di ajang Puteri Kebaya Jawa Timur 2026, hingga berhasil meraih gelar 3rd Runner Up Puteri Kebaya Jawa Timur 2026.
Bagi Elin, perjalanan ini bukan sekadar tentang sebuah gelar, tetapi tentang bagaimana kebaya dapat menjadi ruang untuk mengenal kembali identitas budaya dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.
Semangat tersebut ia wujudkan melalui ELIN — Education and Love Identity of Nusantara, sebuah advokasi yang memadukan edukasi, budaya, dan teknologi. Melalui media sosial, Elin ingin menjadikan kebaya bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tetapi sesuatu yang dipahami, dicintai, dan terus hidup di tengah perkembangan zaman.
1. Motivasi saya mengikuti Puteri Kebaya Jawa Timur 2026 berawal dari keinginan untuk mengenal budaya Nusantara lebih dalam, khususnya kebaya, sekaligus berkontribusi dalam memperkenalkannya kepada generasi muda.
Bagi saya, ajang ini bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang pengetahuan, kepribadian, dan tanggung jawab dalam membawa nilai budaya. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk terus mengembangkan diri, membangun kepercayaan diri, dan berani menyampaikan gagasan.
Meraih gelar 3rd Runner Up menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab baru bagi saya untuk terus berkontribusi dalam pelestarian budaya.
2. Sebagai mahasiswi Psikologi Universitas Negeri Surabaya, saya memaknai kebaya sebagai bagian dari identitas bangsa yang menyimpan sejarah, nilai, dan kebanggaan budaya.
Menurut saya, kebaya perlu diperkenalkan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda agar mereka tidak hanya mengenakannya, tetapi juga memahami makna di baliknya. Saya percaya bahwa modernitas dan tradisi dapat berjalan berdampingan. Generasi muda tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan kecintaan terhadap budaya sendiri.
Kuncinya adalah bagaimana kita menghadirkan budaya dengan cara yang relevan, kreatif, dan mudah diterima.
3.ELIN saya bangun dari keinginan untuk mendekatkan edukasi budaya kepada generasi muda dengan cara yang kreatif dan inklusif.
“Saya percaya bahwa kecintaan terhadap budaya perlu dimulai dari proses mengenal dan memahami” .
Melalui ELIN, saya ingin memperkenalkan kebaya sebagai bagian dari identitas bangsa yang memiliki nilai, sejarah, dan cerita.
Salah satu upaya yang ingin saya hadirkan adalah edukasi kebaya menggunakan bahasa isyarat. Bagi saya, pelestarian budaya seharusnya dapat diakses oleh siapa pun, termasuk teman Tuli, sehingga semakin banyak orang memiliki kesempatan untuk mengenal dan mencintai budaya Nusantara.
4. Saya memanfaatkan teknologi dan media sosial sebagai jembatan untuk memperkenalkan kebaya kepada generasi muda. Melalui ELIN, saya ingin menghadirkan konten edukasi berupa video pendek yang membahas makna, filosofi, dan keragaman kebaya Nusantara, termasuk dengan memperagakannya menggunakan bahasa isyarat.
Saya ingin menunjukkan bahwa edukasi budaya dapat dikemas secara menarik sekaligus inklusif.
Dengan begitu, kebaya tidak hanya dipandang sebagai busana untuk acara formal, tetapi juga dipahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Bagi saya, teknologi bukan sekadar alat untuk menyebarkan informasi, melainkan sarana untuk membuka akses edukasi budaya yang lebih luas.
5. Saya berharap generasi muda tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi juga ikut menjaga dan melestarikan warisan Nusantara.
“Saya ingin pelestarian budaya menjadi gerakan yang terbuka bagi semua orang, tanpa terkecuali.”
Setelah meraih gelar 3rd Runner Up Puteri Kebaya Jawa Timur 2026, saya ingin terus mengembangkan ELIN melalui edukasi digital yang kreatif dan inklusif, salah satunya dengan penggunaan bahasa isyarat. Saya berharap langkah ini dapat membantu semua orang memperoleh akses terhadap edukasi budaya sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih menghargai keberagaman.
Bagi saya, budaya akan semakin bermakna ketika bukan hanya diwariskan, tetapi juga dapat dipelajari dan dicintai oleh semua orang.







