Gaya HidupIBU KOTA

Masjid Apung An-Nur di Pesisir Ancol: Ketika Wisata Mengajak Bersujud, Jangan Sampai Ibadah Cuma Jadi Latar Foto

10
×

Masjid Apung An-Nur di Pesisir Ancol: Ketika Wisata Mengajak Bersujud, Jangan Sampai Ibadah Cuma Jadi Latar Foto

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Di Jakarta, kota yang gedung-gedungnya terus meninggi sementara persoalan warganya kadang tak kunjung menemukan jalan turun, sebuah rumah ibadah hadir di atas perairan Pantai Ancol.

Namanya Masjid Apung An-Nur Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikannya pada Jumat, 16 Oktober 2026, sebagai destinasi baru wisata religi di kawasan Taman Impian Ancol, Jakarta Utara.

Masjid ini datang membawa harapan: agar wisata tidak melulu soal bersenang-senang, laut tidak hanya menjadi latar swafoto, dan perjalanan tidak semata-mata berakhir dengan galeri telepon genggam yang penuh gambar, tetapi hati tetap kosong dari rasa syukur.

Di tengah gemerlap Ibu Kota, Masjid Apung An-Nur menawarkan sebuah persinggahan. Sebuah tempat untuk menundukkan kepala, merapatkan saf, dan mengingat bahwa manusia, setinggi apa pun jabatannya, sebanyak apa pun hartanya, tetaplah makhluk yang suatu hari akan kembali kepada Sang Pencipta.

Tentu saja, masjid ini patut diapresiasi. Namun, Jakarta juga punya kebiasaan yang perlu diawasi: merayakan peresmian dengan gegap gempita, mengabadikan seremoni dengan kamera, lalu terkadang membiarkan semangat peresmian menguap bersama spanduk yang diturunkan.

Jangan sampai masjidnya terapung di atas laut, sementara kepedulian terhadap nilai-nilai agama justru tenggelam di daratan.
Sebab, membangun rumah ibadah adalah pekerjaan yang mulia. Memakmurkannya, menjaga amanahnya, dan menjadikan nilai-nilai di dalamnya hidup dalam perilaku sehari-hari merupakan pekerjaan yang jauh lebih panjang.

Bahtera di Atas Laut, Sindiran bagi Mereka yang Kehilangan Arah
Masjid Apung An-Nur berdiri di atas kawasan perairan Pantai Ancol dengan luas bangunan 2.241 meter persegi. Arsitekturnya dirancang oleh Andra Matin, terinspirasi dari siluet bahtera kapal yang merepresentasikan kekayaan maritim Indonesia.

Desainnya dibangun melalui tiga elemen utama: badan kapal, layar, dan tiang-tiang kapal. Secara keseluruhan, bangunan itu menghadirkan gambaran sebuah bahtera besar yang seolah sedang berlabuh di tepian laut.

Ada filosofi yang menarik di balik bentuk tersebut. Bahtera membutuhkan arah agar tidak tersesat. Kapal membutuhkan kemudi agar tidak dihantam ombak tanpa tujuan. Begitu pula manusia membutuhkan pegangan agar tidak karam oleh keserakahan, kesombongan, dan ambisi yang tak mengenal batas.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang pandai berbicara tentang moral, tetapi gagap ketika harus mempraktikkannya. Ada yang fasih mengutip ayat, tetapi mendadak kehilangan ingatan ketika berhadapan dengan hak orang lain. Ada yang rajin menghadiri acara keagamaan, tetapi lupa bahwa kejujuran juga merupakan ibadah.

Di hadapan orang banyak, tutur katanya selembut embusan angin. Di belakang meja kekuasaan, keputusannya terkadang lebih tajam daripada karang.

Barangkali, bahtera Masjid An-Nur bisa menjadi pengingat bagi siapa saja: jangan merasa menjadi nakhoda kehidupan hanya karena memegang kemudi kekuasaan. Sebab, laut tidak pernah tunduk kepada jabatan, dan badai tidak pernah meminta izin kepada pangkat.

Al-Qur’an dalam surah Al-Hadid ayat 20 mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, serta ajang bermegah-megahan dan berlomba dalam kekayaan serta keturunan.

Peringatan itu terasa relevan di zaman ketika kemegahan sering lebih cepat memperoleh tepuk tangan daripada kejujuran, dan penampilan terkadang lebih mudah dijual daripada keteladanan.
Masjid boleh indah. Arsitektur boleh memukau. Namun, keindahan bangunan semestinya berjalan beriringan dengan keindahan akhlak orang-orang yang datang untuk memakmurkannya. Jangan sampai bahteranya tampak gagah, tetapi penumpangnya masih sibuk berebut kursi.

Foto2 Ancol

Lima Sudut Bintang, Lima Waktu Salat, dan Banyaknya Alasan untuk Lalai
Siluet denah Masjid Apung An-Nur menggambarkan bentuk bulan dan bintang yang lekat dengan identitas peradaban Islam. Bentuk dasar bangunan yang merepresentasikan bintang memiliki lima sudut, terinspirasi dari lima rukun Islam.

Komposisi bangunannya juga dibagi menjadi lima bagian sebagai simbol lima waktu salat dalam sehari. Sebuah rancangan yang bukan sekadar menawarkan keindahan visual, melainkan juga menyimpan pesan tentang kewajiban seorang Muslim.

Lima waktu salat telah menjadi penanda perjalanan sehari-hari seorang hamba. Subuh mengingatkan manusia untuk memulai hari dengan mengingat Allah. Zuhur menyela kesibukan. Asar mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Magrib menandai pergantian siang dan malam. Isya mengajak manusia menutup hari dengan kembali kepada-Nya.

Namun, manusia modern sering memiliki kemampuan luar biasa untuk mengatur jadwal, kecuali ketika harus menyediakan waktu bagi sesuatu yang benar-benar penting.

Rapat bisa berlangsung berjam-jam. Perjalanan demi kepentingan pribadi bisa direncanakan dengan teliti. Acara seremonial dapat disiapkan lengkap dengan susunan acara, dokumentasi, dan publikasi. Tetapi ketika azan berkumandang, selalu saja ada alasan yang terasa lebih mendesak.

Tentu tidak semua orang demikian. Namun, ironi itu patut menjadi bahan renungan.
Jangan sampai lima bagian bangunan hanya menjadi keindahan desain, sedangkan lima waktu salat sekadar menjadi kewajiban yang terus ditunda.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ma’un ayat 4–5: “Fa wailul lil mushalliin. Alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun.”
Artinya: “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) mereka yang lalai terhadap salatnya.”

Ayat tersebut bukanlah alasan untuk menghakimi ibadah orang lain. Sebaliknya, ia merupakan peringatan agar setiap Muslim berani memeriksa dirinya sendiri.
Sebab, yang paling mudah adalah menilai orang lain. Yang paling sulit justru mengoreksi diri sendiri.

Masjid Apung An-Nur semestinya tidak berhenti sebagai bangunan yang memikat mata. Ia perlu menjadi ruang yang mengingatkan manusia bahwa kesalehan bukan sekadar penampilan, melainkan juga kesungguhan menjalankan kewajiban dan menjaga perilaku.

Kapasitas 900 Jemaah, Semoga Bukan Hanya Penuh saat Peresmian
Pembangunan Masjid Apung An-Nur dimulai pada 1 Mei 2024 dan dinyatakan selesai pada 29 Juli 2026. Masjid ini berada di kawasan pengelolaan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk.

Bangunan utama memiliki kapasitas 600 jemaah, terdiri atas 460 jemaah laki-laki dan 140 jemaah perempuan. Sementara itu, area plaza dapat menampung sekitar 300 jemaah.

Dengan demikian, kapasitas keseluruhannya mencapai 900 jemaah.
Angka itu tentu menggembirakan. Semakin banyak ruang yang tersedia untuk beribadah, semakin besar pula kesempatan masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tetapi, ada satu pertanyaan yang layak diajukan: setelah seremoni peresmian selesai dan para tamu kehormatan kembali ke kesibukannya, bagaimana masjid ini akan dimakmurkan?

Sebab, masjid yang penuh pada hari peresmian belum tentu ramai pada hari-hari biasa. Kamera dapat mengabadikan kerumunan, tetapi tidak dapat menjamin keberlanjutan kehadiran jemaah.

Pita peresmian bisa dipotong dalam hitungan detik. Namun, membangun tradisi ibadah, menghidupkan kegiatan pendidikan, merawat kebersihan, serta mengembangkan kepedulian sosial membutuhkan komitmen yang tidak selesai dalam satu acara.

Rasulullah SAW bersabda:
“Man banaa lillaahi masjidan, banallaahu lahuu mitslahu fil jannah.”
Artinya: “Barang siapa membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan baginya rumah seperti itu di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini memberikan kedudukan mulia bagi pembangunan masjid. Namun, niat yang ikhlas tetap menjadi hal mendasar. Kemegahan fisik bukanlah pengganti ketulusan, sebagaimana keramaian seremoni bukanlah ukuran tunggal keberhasilan.

Masjid ini akan menemukan makna terbesarnya ketika anak-anak datang belajar mengaji, jemaah menunaikan salat berjemaah, musafir memperoleh tempat beribadah, dan masyarakat merasakan manfaat keberadaannya. Bukan hanya ketika lampu-lampu dinyalakan untuk menyambut tamu penting.

Wisata Religi Gratis, Jangan Sampai Kesalehan Hanya Jadi Komoditas
Sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat, manajemen Ancol memberikan akses gratis untuk masuk ke kawasan Ancol melalui Pintu Gerbang Utama bagi pengunjung yang ingin mengunjungi Masjid Apung An-Nur.

Program ini berlaku pada 16–31 Oktober 2026, pukul 16.00–23.00 WIB.
Akses gratis tersebut hanya berlaku untuk tiket masuk orang, tidak termasuk tiket kendaraan maupun unit rekreasi lainnya. Pengunjung perlu melakukan reservasi terlebih dahulu melalui situs resmi Ancol, ancol.com⁠

Pengunjung yang melakukan reservasi melalui situs tersebut juga berkesempatan memperoleh voucher diskon untuk layanan makanan dan minuman atau food and beverage (FnB) di kawasan Ancol.
Program ini patut diapresiasi karena membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal masjid sekaligus menikmati kawasan wisata.

Namun, di sinilah wisata religi perlu menjaga keseimbangan. Ketika agama bertemu dengan industri pariwisata, keduanya memang dapat saling mendukung. Kawasan wisata memperoleh daya tarik baru, sementara masyarakat mendapatkan akses untuk beribadah.

Pelaku usaha juga berkesempatan memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan. Tidak ada yang keliru dengan itu. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai nilai spiritual hanya menjadi pemanis promosi, sementara tujuan komersial menjadi satu-satunya hal yang sungguh-sungguh dirawat.

Jangan sampai pengunjung lebih sibuk mencari sudut terbaik untuk berfoto daripada mencari waktu untuk bersujud. Jangan sampai masjid lebih dikenal karena keunikannya sebagai bangunan terapung daripada karena kegiatan ibadah dan sosial yang berlangsung di dalamnya.

Dan jangan sampai perjalanan yang disebut wisata religi hanya menjadi wisata biasa yang kebetulan memiliki masjid sebagai latar belakang.

Bukankah wisata religi seharusnya memberikan pengalaman yang berbeda? Bukan sekadar membuat orang datang, melainkan juga mengajak mereka pulang dengan membawa sesuatu yang lebih bernilai daripada foto dan cendera mata.

Barangkali, ukuran keberhasilannya bukan semata-mata berapa banyak pengunjung yang datang selama program gratis berlangsung, melainkan berapa banyak yang tergerak untuk memperbaiki diri setelah berkunjung.

Jakarta Boleh Modern, tetapi Jangan Kehilangan Kompas Moral Peresmian Masjid Apung An-Nur oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memperlihatkan upaya menghadirkan ruang keagamaan di tengah kawasan wisata modern.

Sebagai salah satu badan usaha milik daerah strategis di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ancol diharapkan terus mengembangkan kawasan yang bukan hanya memiliki daya tarik wisata, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Tanggung jawab itu mencakup peningkatan kualitas ruang publik, penguatan kehidupan sosial, pengembangan ekonomi kreatif, pemajuan budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.Masjid Apung An-Nur dapat menjadi bagian dari upaya tersebut apabila pengelolaannya dilakukan secara berkelanjutan dan terbuka bagi kebutuhan masyarakat.

Namun, pembangunan kota yang baik tidak cukup diukur dari banyaknya bangunan megah atau jumlah destinasi baru yang diresmikan.

Kota juga perlu dinilai dari bagaimana warganya diperlakukan, bagaimana ruang publik dikelola, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana manfaat pembangunan dirasakan secara adil.
Sebab, kota yang modern bukan sekadar kota yang memiliki bangunan berarsitektur mutakhir. Kota yang modern juga harus memiliki kepekaan terhadap manusia yang hidup di dalamnya.

Dalam konteks ini, keberadaan masjid di kawasan wisata dapat menjadi simbol bahwa pembangunan fisik dan kehidupan spiritual semestinya tidak saling meniadakan.

Tetapi simbol harus diterjemahkan menjadi tindakan. Jika masjid mengajarkan kebersihan, lingkungannya perlu dijaga. Jika masjid mengajarkan persaudaraan, pelayanannya harus ramah. Jika masjid mengajarkan kejujuran, pengelolaannya perlu menjunjung tinggi amanah.
Jangan sampai pesan yang disampaikan dari mimbar begitu luhur, sementara praktik di luar masjid berjalan ke arah yang berlawanan.

Allah SWT berfirman dalam surah Ash-Shaff ayat 2–3:
“Yaa ayyuhalladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf’aluun. Kabura maqtan ‘indallaahi an taquuluu maa laa taf’aluun.”
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ayat ini mengandung teguran yang tajam bagi siapa saja yang gemar berbicara tentang kebaikan, tetapi enggan mewujudkannya dalam tindakan.
Pesannya tidak hanya relevan bagi individu, tetapi juga patut menjadi bahan renungan bagi setiap institusi yang membawa nama pelayanan, kemanusiaan, dan nilai-nilai moral.

Jangan Biarkan Masjid Terapung, tetapi Nurani Tenggelam
Nama An-Nur mengandung makna cahaya. Di tepi laut Jakarta, nama itu seakan membawa harapan agar masjid ini menjadi penerang, bukan hanya bagi pengunjung Ancol, melainkan juga bagi kehidupan sosial yang lebih luas.

Cahaya tidak memilih siapa yang boleh menerima terangnya. Ia menerangi jalan agar manusia dapat melihat arah, mengenali rintangan, dan menghindari jurang.

Begitu pula nilai-nilai agama. Ia semestinya tidak berhenti pada simbol, seremoni, atau kata-kata indah. Nilai itu harus hadir dalam kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan keberanian memperjuangkan kebaikan.
Masjid Apung An-Nur memiliki potensi menjadi ikon wisata religi baru Jakarta. Arsitekturnya menarik, lokasinya unik, dan kapasitasnya cukup besar untuk menampung masyarakat yang ingin beribadah.

Tetapi, jangan biarkan kemegahan itu membuat kita lupa pada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa masjid dibangun jika manusia yang datang tidak menjadi lebih baik?

Pertanyaan itu tentu bukan untuk mengecilkan arti pembangunan. Sebaliknya, ia merupakan pengingat bahwa pembangunan fisik perlu disertai pembangunan karakter. Sebab, membangun masjid di atas laut mungkin membutuhkan perencanaan teknis yang rumit.

Namun, membangun kejujuran di tengah godaan kekuasaan, menumbuhkan kepedulian di tengah sikap individualistis, dan menjaga amanah di tengah kepentingan pribadi sering kali jauh lebih sulit.

Di Ancol, ombak akan terus datang dan pergi. Kapal-kapal akan terus bergerak. Wisatawan akan silih berganti memenuhi kawasan rekreasi. Sementara Masjid Apung An-Nur berdiri sebagai penanda bahwa di tengah perjalanan duniawi, manusia tetap membutuhkan ruang untuk kembali mengingat Tuhannya.

Mudah-mudahan masjid ini tidak hanya membuat Jakarta semakin indah dipandang, tetapi juga semakin baik dijalani.
Jangan sampai bangunannya terapung di atas laut, tetapi kepedulian sosialnya tenggelam. Jangan sampai simbol bintangnya memiliki lima sudut, tetapi nilai-nilai Islam kehilangan tempat dalam perilaku. Dan jangan sampai wisata religinya ramai oleh pengunjung, tetapi sepi dari kesadaran untuk memperbaiki diri.

Sebab, pada akhirnya, Allah tidak membutuhkan kemegahan bangunan manusia. Manusialah yang membutuhkan masjid untuk belajar merendahkan hati.
Masjid boleh menjadi ikon kota. Namun, jangan sampai kesalehan hanya menjadi ikon di depan kamera.