Jakarta, swarabhayangkara.com – Jakarta, pagi itu lumayan cerah, langit seperti ikut merestui. Restu apa ya?
Nun, di bawah kubah megah Masjid Istiqlal yang masih kinclong, Sabtu pagi barusan, 28 Juni 2025, 100 pasangan dari penjuru Jabodetabek mengikat janji suci dalam sebuah Nikah Massal Gratis yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Sebuah akad bukan semata dua insan, tetapi perayaan atas cinta yang sederhana, namun kokoh karena disahkan langit — dan kini juga oleh negara. Bukankah itu keren dan wow!
Acara dimulai pukul sembilan pagi. Ayat-ayat suci dilantunkan Ust.Qadar Rasmadi Rasyid, qari berprestasi internasional, mengalun lembut menyentuh hati-hati yang berdebar menanti momen sakral. Dan kemudian, Menteri Agama KH. Nasaruddin Umar berdiri memberi nasihat, seperti seorang ayah kepada anak-anaknya yang hendak mengarungi samudera pernikahan.
“Pernikahan bukan sekadar ikatan manusia. Ini adalah mitsaqan ghaliza — perjanjian agung. Malaikat hadir, jin mendengarkan, dan langit mencatat,” ucap Menag. “Seperti pernikahan Nabi Adam dan Hawa, ini adalah pesta spiritual.”

Coba siapa yang tidak melow dengarnya. Apalagi ia juga mengingatkan, konflik dalam rumah tangga bukanlah bencana, melainkan bagian dari proses mendewasakan cinta. “Pagi bisa berselisih, malam menjadi pengantin baru,” katanya bijak, sambil menasihati agar tidak ada orang tua, tetangga, apalagi media sosial yang terlalu dalam mencampuri.
Tak lupa, Menag menegaskan pentingnya pencatatan resmi. Tanpa akta, hak sipil jadi samar. Tanpa legalitas, nama di kartu keluarga bisa absen, dan rukun Islam kelima, haji, tak bisa dijalani. Karena cinta, juga butuh diurus oleh negara.
Sementara itu, Abu Rokhmad, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, menyampaikan bahwa nikah massal ini hanya awal. Akan ada 1.000 pasangan yang menyusul, dalam gelombang-gelombang suci yang membasuh negeri dengan harapan.
“Pernikahan yang berkah akan menumbuhkan keluarga berkah, dan keluarga berkah akan membangun bangsa yang berkah. Menuju Indonesia Emas 2045,” katanya, suaranya penuh keyakinan.
Usai akad, tangan menggenggam buku nikah — lambang legalitas, saksi bahwa cinta mereka bukan sembunyi-sembunyi. Masing-masing pasangan pun pulang membawa seperangkat alat salat, mushaf Al-Qur’an, kosmetik dari Wardah, dan dana pembinaan Rp2,5 juta. Tak hanya itu, malam mereka pun ditutup di hotel, sebagai awal bulan madu yang disediakan negara.
Hari ini, di jantung Ibu Kota, cinta disahkan. Bukan hanya oleh penghulu, tapi juga oleh rakyat dan republik.
NMC







