Oleh: Rioberto Sidauruk/Pemerhati Industri Strategis
Jakata, 25/5 (MSB) – Indonesia tak boleh lagi hanya jadi pasar. Indonesia harus jadi pemain utama, terutama ketika peluang emas seperti inisiatif Two Countries, Twin Parks (TCTP) datang mengetuk pintu. Dunia berubah cepat. Dan Indonesia, mau tidak mau, harus memilih: ikut membentuk arus atau tergulung olehnya.
Kunjungan Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, ke Indonesia pada 24–26 Mei 2025 bukan sekadar seremoni diplomatik biasa.
Pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta adalah momentum strategis—sebuah panggung besar untuk memperkuat fondasi kerja sama industri antara dua kekuatan Asia.
Salah satu topik utama yang dibahas? Tentu saja, TCTP.
TCTP: Jangan Sekadar Dikonsep, Tapi Harus Diuji!
Konsep TCTP bukan teori kosong. Ini adalah model kerja sama industrial yang telah terbukti berhasil, seperti yang terlihat pada proyek Kuantan dan Qinzhou antara Tiongkok dan Malaysia.
Kawasan industri kembar ini menciptakan simbiosis ekonomi yang nyata, menghadirkan iklim investasi yang menarik, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan sektor manufaktur secara konkret.
Sekarang, giliran Indonesia.
Kita diberi peluang untuk tak sekadar menonton, tetapi ikut mendesain arah industrialisasi yang berbasis kemitraan sejajar.
Indonesia bisa—dan harus—mengambil peran lebih besar di sektor strategis seperti teknologi, energi, dan manufaktur.
TCTP bukan sekadar proyek kawasan. Ini adalah kendaraan masa depan. Jika kita serius, maka kita bisa menjadi akselerator utama untuk mendongkrak daya saing industri nasional ke tingkat global.
Belajar dari Sang Raksasa: Tiongkok dan Strategi Besarnya
Perjalanan Tiongkok menjadi kekuatan industri nomor satu di dunia bukan terjadi dalam semalam.
Sejak reformasi era Deng Xiaoping, Beijing menjalankan kebijakan industri dengan visi jangka panjang yang solid, bukan tambal-sulam.
Tiongkok berani mengambil risiko, menyusun strategi, dan menjalankannya tanpa ragu.
Barry Naughton dalam bukunya The Rise of China’s Industrial Policy: 1978 to 2020, mengurai detail bagaimana Tiongkok memobilisasi sumber daya untuk membangun industri kelas dunia. Dari manufaktur dasar hingga teknologi tinggi—mereka merancang, bukan sekadar bereaksi.
Apakah kita siap melakukan hal yang sama? Harusnya, bisa. Karena Indonesia punya potensi yang tak kalah besar—asal berani melangkah.
Prabowo dan Industri 4.0: Momentum Tak Boleh Hilang
Di era Presiden Prabowo Subianto, tanda-tanda arah kebijakan mulai bergerak ke arah yang benar. Melalui Making Indonesia 4.0, pemerintah menyiapkan cetak biru transformasi industri berbasis digital.
Ini bukan mimpi kosong.
Pemerintah mulai mendorong adopsi teknologi robotika dan kecerdasan buatan, membangun infrastruktur digital, dan menciptakan sistem pendidikan vokasi berbasis kompetensi.
UMKM pun tak dilupakan. Justru mereka menjadi motor pertumbuhan jika diberi akses dan teknologi.
Namun, semua ini hanya akan jadi wacana bila tak ditindaklanjuti dengan keberanian politik dan komitmen nyata lintas sektor.
Sektor Swasta, Bangkit dan Ambil Peran!
Zhou Tianyong, dalam Mimpi dan Jalan Tiongkok Menuju Kejayaan, menekankan bahwa kebangkitan ekonomi tak akan terjadi tanpa peran vital sektor swasta.
Pemerintah memang harus mengarahkan, tapi eksekusinya butuh keberanian dan kreativitas pelaku usaha.
Indonesia harus mendorong sektor swastanya untuk lebih agresif: berinovasi, menanamkan modal, dan menjalin kemitraan luar negeri.
Bukan hanya jadi “subkontrak”, tapi jadi mitra strategis dalam mata rantai produksi global.
Di sinilah TCTP bisa menjadi panggung ideal: tempat pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas riset bersatu membangun mesin pertumbuhan baru.
Saatnya Menggenggam Masa Depan, Bukan Menunggu
Sinergi industri global bukan slogan. Ia nyata dan bisa diraih, jika Indonesia serius belajar dari pengalaman Tiongkok dan menjalankan kebijakan yang tak setengah hati.
Dengan inisiatif seperti TCTP, Indonesia memiliki peluang untuk menyusun ulang peta industrinya. Bukan hanya sebagai pelengkap, tapi sebagai penggerak.
Ingat: negara tak maju karena menunggu bantuan. Mereka maju karena menciptakan sistem yang membuat investasi dan inovasi tumbuh bersama.
Jadi, kita mau jadi apa? Penonton dalam pertandingan global? Atau pemain yang mendesain skenarionya?
TCTP adalah peluang langka. Jika dilewatkan, kita akan menyesal. Tapi jika dijalankan dengan tekad dan visi, sejarah akan mencatatnya sebagai titik balik industrialisasi Indonesia.(r10)







