NASIONAL

Dari Mimbar ke Algoritma: Ketika ASN Diminta Mensucikan AI di Usia 80 Tahun Kemenag

295
×

Dari Mimbar ke Algoritma: Ketika ASN Diminta Mensucikan AI di Usia 80 Tahun Kemenag

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama berlangsung khidmat, penuh pesan luhur, dan sarat harapan besar—bahkan mungkin terlalu besar untuk sekadar sambungan internet kantor.

Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta agar Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama tidak hanya menjadi penonton di era Artificial Intelligence (AI), melainkan turut “mewarnai” substansi AI dengan konten keagamaan yang mencerahkan.

Permintaan itu disampaikan Menag saat bertindak sebagai inspektur upacara HAB ke-80 di halaman kantor Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (3/1/2026). Di hadapan pejabat eselon, ASN, dan pengurus Dharma Wanita Persatuan, Menag menempatkan tantangan AI setara dengan ujian peradaban: cepat, kompleks, penuh ketidakpastian, dan—tentu saja—memerlukan ceramah yang tepat sasaran.

“Jika dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah, maka hari ini ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan,” ujar Menag.

Sebuah perbandingan historis yang ambisius: dari pusat penerjemahan ilmu dunia Islam abad pertengahan, kini berpindah ke ruang server dan algoritma—dengan harapan nilai ketuhanan bisa ikut terindeks, di-cache, dan tampil di halaman pertama.

Menag menegaskan bahwa algoritma masa depan tidak boleh “hampa nilai”. AI, menurutnya, harus dikawal agar menjadi alat pemersatu umat, bukan mesin produksi disinformasi dan perpecahan. Sebuah pesan moral yang kuat, meski di lapangan, AI sering kali lebih cepat belajar daripada sistem birokrasi yang masih menunggu disposisi.

Untuk menjawab tantangan besar itu, Menag meminta setiap ASN Kementerian Agama bertransformasi menjadi pribadi yang “agile”: lincah, adaptif, terbuka terhadap teknologi, inovatif, serta responsif melayani umat dengan empati dan integritas. Nilai-nilai ini, kata Menag, sejatinya bukan hal baru, melainkan warisan luhur tradisi keagamaan yang perlu diaktualkan kembali.

Di titik inilah ironi menjadi tak terelakkan: transformasi digital diminta berjalan cepat, sementara realitas administratif sering kali masih berjalan dengan kecepatan stempel basah.

Menag lalu menarik benang sejarah, mengingatkan bahwa agama pernah menjadi sumber pencerahan dunia. Baitul Hikmah disebut sebagai simbol kejayaan intelektual—bukan hanya perpustakaan, melainkan pusat riset global yang menjawab persoalan manusia dengan ilmu pengetahuan.

“Di sanalah nilai-nilai agama berpadu dengan rasionalitas untuk memajukan peradaban manusia. Semangat inilah yang perlu kita hidupkan kembali hari ini,” katanya.

HAB ke-80 Kementerian Agama sendiri mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”. Menag mengajak seluruh jajaran menyatukan tekad melanjutkan semangat Kemenag Berdampak dalam aksi nyata, termasuk dalam penguasaan teknologi yang beretika.

“Dengan fondasi yang kokoh, semangat pengabdian yang berdampak, serta penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis mampu mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” ujarnya optimistis.

Upacara pun ditutup dengan ucapan selamat dan seruan pengabdian. AI telah diberi amanat moral, algoritma telah dinasihati, dan ASN telah diingatkan. Tinggal satu pertanyaan kecil yang tersisa di usia 80 tahun ini: apakah sistem akan ikut bertransformasi secepat khutbahnya, atau AI justru lebih dulu belajar bersabar menghadapi birokrasi manusia?

“Selamat Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama,” tandas Menag—sembari harapan besar itu melayang, menunggu siapa yang lebih dulu benar-benar agile: aparatur atau algoritma.