EkonomiNASIONAL

Dari Tanah Indramayu, Mimpi Swasembada Ditanam di Tengah Negeri yang Terlalu Lama Bergantung pada Kapal Impor

13
×

Dari Tanah Indramayu, Mimpi Swasembada Ditanam di Tengah Negeri yang Terlalu Lama Bergantung pada Kapal Impor

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Indramayu –  Di Indramayu, tanah tidak pernah sekadar tanah. Ia adalah kitab tua yang dibaca setiap musim oleh para petani. Di antara hamparan sawah yang selama berabad-abad menjadi saksi hubungan manusia dengan langit, hujan, dan harapan, kini kedelai mendapat giliran menjadi tokoh utama.

Rabu itu, di Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, seluas 210 hektare lahan disiapkan untuk sebuah pertaruhan besar bernama swasembada kedelai. Sebuah cita-cita yang terdengar sederhana, tetapi bagi negeri yang bertahun-tahun akrab dengan impor kedelai, ia tak ubahnya seperti upaya mengingat kembali jalan pulang yang lama terlupakan.

Di tengah seremoni yang dihadiri Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, ada satu nama yang lebih banyak disebut oleh masyarakat setempat. Bukan karena jabatan negara yang melekat padanya, melainkan karena perannya menggerakkan banyak orang untuk percaya bahwa lahan pertanian masih layak diperjuangkan.

Nama itu adalah H. Mulyadi. Sebagai Pembina Koperasi Bareng Bareng Sugih Bersama sekaligus Ketua Pelaksana program, ia berada di balik upaya mengumpulkan potongan-potongan harapan yang selama ini tercecer di desa-desa. Petani, koperasi, pemerintah, dan dunia usaha yang biasanya berjalan di jalurnya masing-masing, untuk sementara berhasil duduk di meja yang sama.

Sungguh ironis memang. Selama bertahun-tahun bangsa ini begitu bangga menyebut dirinya negara agraris, tetapi tahu dan tempe yang hadir setiap hari di meja makan justru sering bergantung pada hasil panen petani di negeri lain. Di pelabuhan-pelabuhan, kapal pengangkut kedelai datang silih berganti, sementara di desa-desa, lahan pertanian perlahan kehilangan daya tariknya di mata generasi muda.

Karena itu, ketika 360 kepala keluarga di Sukamulya memilih ikut terlibat dalam budidaya kedelai, yang sedang ditanam sesungguhnya bukan hanya benih. Yang ditanam adalah keyakinan bahwa desa tidak harus selalu menjadi penonton dalam pembangunan ekonomi.

Menurut H. Mulyadi, program ini bukan sekadar proyek pertanian. Ia adalah upaya membangun kesejahteraan masyarakat melalui keterlibatan langsung warga dalam proses produksi.

Pernyataan itu sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang menegaskan bahwa negara berkewajiban melindungi petani, meningkatkan kapasitas mereka, serta mendorong kesejahteraan melalui pengembangan usaha tani yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian rakyat. Artinya, koperasi bukan sekadar tempat menyimpan stempel dan buku administrasi yang berdebu di lemari kantor desa. Ia semestinya menjadi kendaraan ekonomi yang mengangkut kesejahteraan warga secara bersama-sama.

Dan di sinilah satir pembangunan sering menemukan wajahnya. Kita kerap berbicara tentang ketahanan pangan di ruang-ruang berpendingin udara, sementara petani berbicara tentang hal yang sama di bawah terik matahari. Kita sibuk membuat seminar tentang masa depan pertanian, sementara mereka sibuk memastikan tanaman tidak mati sebelum panen tiba.

Di Sukamulya, perdebatan itu untuk sementara berhenti. Yang berbicara adalah cangkul, benih, dan hamparan lahan. Hashim Djojohadikusumo yang hadir atas amanah Presiden Prabowo Subianto menilai Indramayu memiliki potensi besar menjadi salah satu sentra produksi kedelai nasional. Ia menekankan bahwa swasembada harus dimulai dari daerah dan bertumpu pada kekuatan masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Menurutnya, pembangunan pertanian hanya akan berhasil bila lahir dari kepercayaan masyarakat dan digerakkan oleh tokoh-tokoh lokal yang memahami denyut kehidupan petani.

Ucapan itu terasa relevan bagi Indramayu.
Daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional tersebut memiliki tradisi agraris yang panjang. Dalam kehidupan masyarakat Indramayu, sawah bukan hanya sumber penghasilan, melainkan bagian dari identitas budaya.

Tradisi sedekah bumi, mapag sri, hingga berbagai ritual syukuran panen mencerminkan hubungan erat antara masyarakat dan pertanian. Bagi sebagian warga, keberhasilan panen bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga bentuk penghormatan kepada alam yang telah memberi kehidupan.

Maka ketika kedelai mulai ditanam di lahan HGU PT PG Rajawali II, yang tumbuh bukan hanya tanaman. Ada harapan agar pertanian kembali menjadi jalan kesejahteraan.

Acara yang diawali penyerahan bantuan sosial, distribusi benih, peninjauan lahan, hingga penanaman simbolis itu memang tampak seperti sebuah seremoni biasa. Namun sejarah pembangunan sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana: orang-orang yang bersedia bekerja sama.

Jika kelak panen berhasil dan produktivitas meningkat, maka manfaat ekonominya akan dirasakan oleh ratusan keluarga yang terlibat.

Tetapi jika program ini ingin dikenang lebih lama daripada spanduk acara yang suatu hari akan pudar diterpa hujan, maka pekerjaan sesungguhnya baru dimulai setelah para tamu pulang, kamera dimatikan, dan panggung dibongkar.

Sebab swasembada pangan tidak lahir dari pidato. Ia lahir dari tanah yang terus ditanami, petani yang terus dilindungi, koperasi yang benar-benar bekerja, serta kebijakan yang tidak berhenti sebagai dokumen di atas meja birokrasi.

Dan di Sukamulya, Indramayu, sebuah benih bernama harapan sedang dicoba ditumbuhkan kembali. Semoga kali ini ia tidak kalah cepat tumbuh dibanding ketergantungan negeri ini pada impor.