Oleh: Rioberto Sidauruk/Pemerhati Globalisasi
Jakarta,29/5 -Ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron berkunjung ke Asia Tenggara, mulai dari Vietnam, Indonesia dan menutup perjananan di Singapura, banyak yang menganggap bahwa itu sebagai perjalanan diplomatik biasa, tetapi di balik kunjungan tersebut ada pertanyaan yang lebih dalam: Apa sebenarnya keinginan Macron di kawasan Asia Tenggara?
Perancis sebagai negara yang memiliki wilayah luar negeri yang tersebar di Pasifik dan Samudra Hindia, tentu ingin memastikan bahwa posisinya sebagai kekuatan global tetap relevan, apalagi di tengah ketegangan besar antara AS dan Tiongkok.
Tujuan Diplomasi Macron
Hasrat Macron lebih dari sekadar menjaga kekuatan Prancis di Indo-Pasifik. Dengan menyuarakan kebijakan luar negeri yang menghindari ketegangan antara dua kekuatan besar ini, Macron sebenarnya ingin menegaskan kembali peran Prancis sebagai negara yang tetap bebas aktif—sebuah pendekatan yang mengingatkan kita pada kebijakan luar negeri era Charles de Gaulle.
Di sisi lain, Macron mungkin sedang berusaha menciptakan ruang diplomatik yang lebih fleksibel bagi negara-negara kecil dan menengah, termasuk Indonesia. Dengan persaingan yang semakin memanas antara AS dan Tiongkok, apakah Macron hanya mencari keuntungan politik bagi Prancis, atau ada agenda lebih besar di balik niatnya untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara seperti Indonesia?
Mungkin jawabannya tidak sesederhana itu—bisa jadi, ini adalah langkah untuk mendorong Prancis menjadi pemain utama yang mampu menggerakkan diplomasi global tanpa terjebak dalam ketegangan kekuatan besar.
Strategi Prancis di Indo-Pasifik
Ambisi tersebut pertama kali diungkapkan pada tahun 2019, dua tahun setelah masa jabatan pertama Macron, ketika pemerintah Prancis merilis Strategi Indo-Pasifik mereka – yang pertama bagi negara Eropa.
Berbeda dengan negara-negara tetangganya di Uni Eropa, Prancis memandang dirinya sebagai kekuatan yang tinggal di Indo-Pasifik: tujuh wilayah luar negeri mereka terletak di kawasan tersebut dan menampung 1,65 juta warga negara Prancis.
Perlu kita perhatikan, bahwa 93 persen dari zona ekonomi eksklusif Prancis diperkirakan berada di Indo-Pasifik. Pada peta Indo-Pasifik Prancis, Asia Tenggara terletak di antara pulau-pulau berdaulat mereka di Samudra Hindia, seperti La Reunion, dan pulau-pulau mereka di Pasifik, seperti Wallis dan Futuna.
Dalam beberapa tahun terakhir, melalui kehadiran Prancis di Indo-Pasifik, Paris merasakan dampak dari persaingan AS-Tiongkok di seluruh kawasan. Akibatnya, Macron mempromosikan strategi Prancis yang berusaha menghindari logika persaingan kekuatan besar dan menekankan kerja sama dengan negara-negara Asia yang sepemikiran.
Meskipun pejabat Prancis mungkin menyampaikan kekhawatiran atas kebijakan maritim Tiongkok, mereka menolak untuk memberikan sentralitas pada isu-isu dalam keterlibatan mereka dengan mitra lokal.
Menghindari Persaingan Besar
Dalam kebijakan luar negeri yang penuh dengan pertarungan antara dua kekuatan besar—AS dan Tiongkok—Prancis justru memilih untuk tetap berada di luar arus utama persaingan ini. Macron menyarankan agar Prancis, alih-alih terjebak dalam pertarungan kekuatan besar, berfokus pada kolaborasi dengan negara-negara Asia yang sepemikiran.
Langkah berani Macron, mengingatkan kita pada kebijakan luar negeri Charles de Gaulle, yang dengan tegas menolak ketergantungan total pada salah satu blok besar, dan memilih untuk tetap bebas aktif.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Indonesia, yang juga terperangkap dalam persaingan ini, apakah pilihan Prancis ini bisa menjadi contoh? Kita harus bertanya: Apakah Indonesia, dengan politik luar negeri bebas aktifnya, seharusnya hanya menjadi penonton dalam pertarungan global yang terus memanas, atau seharusnya mengambil peluang untuk mengarahkan kebijakan luar negeri yang lebih independen, yang tidak terjebak dalam ketegangan kekuatan besar?
Indonesia, dengan posisi strategisnya di kawasan Asia, dapat belajar banyak dari pendekatan Prancis yang cerdas ini—yakni menjaga jarak dari persaingan yang merugikan dan tetap fokus pada pembangunan kemitraan yang lebih seimbang.
Prancis dan Indonesia: Mitra Strategis?
Macron mungkin merasakan dampak persaingan AS-Tiongkok, namun, pendekatan yang dia tawarkan adalah solusi pragmatis yang bisa menjadi model bagi Indonesia—kekuatan menengah yang tak ingin terperangkap dalam konfrontasi dua negara besar, melainkan memilih untuk memanfaatkan posisinya dengan bijak untuk kepentingan jangka panjang kawasan.
Indonesia, dengan kebijakan luar negerinya yang bebas aktif, dapat mengubah dinamika ini menjadi keuntungan strategis, memperkuat kemitraan dengan negara-negara yang sepemikiran, dan menjaga kedaulatan tanpa terikat dalam persaingan yang menguras energi. (r10)







