NASIONAL

“Industri Hijau: Kunci Menuju NZE 2060”

202
×

“Industri Hijau: Kunci Menuju NZE 2060”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rioberto Sidauruk

Pemerhati Industri Strategis

Jakarta, 30/5 – Indonesia tengah menghadapi tantangan monumental: mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

“NZE” adalah keadaan di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer setara dengan jumlah yang bisa diserap atau dikurangi, sehingga dampaknya terhadap pemanasan global jadi seimbang.

 

Praktik mengurangi emisi sebanyak mungkin dan kemudian mengimbangi sisa emisi yang tetap ada adalah seperti penanaman pohon atau teknologi pengurangan emisi.

 

Target NZE 2060 bukan sekadar simbol ambisi; cara ini adalah panggilan untuk melakukan perubahan besar dalam cara kita berproduksi, berinovasi, dan mengelola sumber daya alam.

 

Dalam hal ini, ada satu sektor yang tak boleh dikesampingkan dalam upaya perubahan: industri manufaktur.

 

Sektor ini, meskipun berjalan menunjukkan kemajuan signifikan, memerlukan transformasi besar untuk arah dengan tujuan NZE 2060.

 

Industri: Penentu Arah Pencapaian NZE 2060

Sektor industri memegang peranan vital dalam pencapaian NZE 2060. Bagaimana tidak, sektor ini berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca global, yang harus dikurangi secara drastis.

 

Indonesia, dengan salah satu sektor manufaktur terbesar di dunia, berpotensi besar untuk memimpin dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

 

Pada 2023, Indonesia mencatatkan Manufacturing Value Added (MVA) sebesar 255,96 miliar dolar AS—angka tertinggi dalam sejarah bangsa dibidang manufaktur.

 

Posisi Indonesia yang kini berada di peringkat ke-12 dunia dan ke-5 Asia menunjukkan betapa pentingnya sektor ini bagi perekonomian.

 

Untuk berkelanjutan, capaian ini tak cukup hanya sampai di sini. Agar Indonesia benar-benar siap mencapai NZE 2060, sektor manufaktur harus bertransformasi.

 

Investasi besar-besaran dalam teknologi rendah emisi, penggunaan energi terbarukan, dan adopsi prinsip ekonomi sirkular bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.

 

Pertumbuhan yang Terhenti? Tantangan di Balik Angka Positif

Meskipun sektor manufaktur Indonesia menunjukkan kontribusi yang cukup signifikan terhadap PDB, ada kecenderungan stagnasi yang mengkhawatirkan.

 

Pada triwulan I 2025, catatan BPS kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB tercatat 17,50 persen, dengan kenaikan yang relatif stabil jika dilihat dari sisi kuartalan maupun tahunan.

 

Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, ada penurunan dalam laju pertumbuhannya—sebuah indikasi bahwa sektor ini mungkin menghadapi titik jenuh.

 

Di satu sisi, penurunan ini bisa dianggap sebagai fenomena normal dalam siklus ekonomi. Tetapi, dalam konteks NZE 2060, ini adalah alarm yang perlu diperhatikan.

 

Jika pertumbuhan sektor manufaktur hanya didorong oleh peningkatan produksi dan bukan oleh efisiensi energi atau pengurangan emisi, Indonesia akan kesulitan mempertahankan daya saingnya dalam jangka panjang.

 

Apakah Indonesia Menuju Deindustrialisasi?

Isu deindustrialisasi—penurunan kontribusi sektor industri terhadap PDB—bukanlah isu sepele.

 

Meskipun belum ada bukti kuat bahwa Indonesia sedang menuju deindustrialisasi, penurunan laju pertumbuhan sektor manufaktur harus diwaspadai.

 

Ketergantungan berlebihan pada energi fosil, kurangnya investasi dalam teknologi hijau, dan ketidaksiapan infrastruktur untuk mendukung transformasi industri berkelanjutan menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.

 

Apabila sektor manufaktur tidak beradaptasi dengan tuntutan global—yaitu, mengurangi jejak karbon, beralih ke energi terbarukan, dan memanfaatkan teknologi rendah emisi—maka Indonesia berisiko menghadapi stagnasi yang mengarah pada deindustrialisasi.

 

Ini bukan skenario yang dapat dianggap enteng.

 

Solusi: Menjawab Tantangan dengan Inovasi dan Investasi

Dalam menghadapi tantangan stagnasi dan memastikan sektor manufaktur berperan dalam pencapaian NZE 2060 maka rumusan kebijakan harus ada.

 

Jika kita terus menunda langkah strategis, Indonesia akan terjebak dalam ketergantungan energi yang semakin rentan terhadap krisis global.

 

Transisi energi di sektor manufaktur bukan pilihan, tetapi keharusan. Pabrik-pabrik kita perlu cepat beralih ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, agar tidak hanya memenuhi target emisi, tetapi juga memastikan ketahanan energi jangka panjang.

 

Tanpa aksi cepat, kita hanya akan melihat sektor manufaktur kita tenggelam dalam ketertinggalan.

 

Bukan hanya soal transisi energi, kita juga harus mendorong adopsi teknologi hijau yang lebih canggih.

 

Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) serta teknologi efisiensi produksi adalah langkah konkret yang bisa mengurangi pemborosan energi dan sumber daya alam.

 

Inilah saatnya bagi Indonesia untuk memanfaatkan industri hijau—seperti kendaraan listrik dan energi terbarukan—untuk membuka lapangan pekerjaan baru dan mendiversifikasi perekonomian.

 

Penguatan kebijakan pemerintah dengan insentif bagi perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi hijau serta pengembangan infrastruktur yang mendukung adopsi teknologi ini akan mempercepat transformasi ini.

 

 

Langkah Nyata Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin industri berkelanjutan di Asia, tetapi untuk itu, sektor manufaktur harus bertransformasi.

 

Sektor ini tidak boleh hanya fokus pada volume produksi, tetapi harus berkomitmen pada prinsip keberlanjutan yang lebih luas.

 

Dengan langkah-langkah strategis yang tepat—dari transisi energi hingga investasi dalam teknologi hijau—Indonesia dapat mencapai NZE 2060 dan menghindari bahaya stagnasi atau deindustrialisasi.

 

Pemerintah dan sektor swasta harus bekerja sama dalam menciptakan ekosistem yang mendukung transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

 

Jika tidak, tantangan ini akan berubah menjadi ancaman yang tak bisa diabaikan.(r10)