NASIONAL

Joyful Ramadan dan 20 Program Nasional: Ketika Spiritualitas Diukur dengan Rundown Kegiatan

250
×

Joyful Ramadan dan 20 Program Nasional: Ketika Spiritualitas Diukur dengan Rundown Kegiatan

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Ramadan tahun ini kembali hadir dengan kemasan resmi dan tagline berbahasa Inggris.

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama meluncurkan 20 program nasional bertajuk Joyful Ramadan Mubarak 1447 H/2026 M. Sebuah paket lengkap yang menjanjikan penguatan layanan keagamaan sekaligus solidaritas sosial—tentu saja dalam format yang terstruktur, terkoordinasi, dan terkonferensi pers.

Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad menyebut, Joyful Ramadan merupakan ikhtiar menghadirkan bulan suci yang tak hanya khusyuk secara spiritual, tetapi juga produktif secara sosial. Negara, kata dia, hadir melalui layanan yang humanis, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan umat.

“Ramadan bukan sekadar ritual individual, tetapi momentum transformasi spiritual, sosial, dan kebangsaan. Karena itu, Bimas Islam menyiapkan sekitar 20 program yang dilaksanakan secara nasional agar Ramadan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat,” ujar Abu dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Ramadan kini tak lagi sekadar soal sahur, tarawih, dan tadarus, tetapi juga tentang manajemen program, optimalisasi simpul layanan, dan penguatan konten digital.
Masjid, KUA, dan Penyuluh: Tiga Serangkai Layanan

Dari 20 program yang disiapkan, Bimas Islam membaginya ke dalam tiga fokus utama. Pertama, penguatan layanan keagamaan. Masjid didorong menjadi pusat ibadah sekaligus pemberdayaan, KUA diposisikan sebagai simpul pembinaan keluarga sakinah, dan penyuluh agama ditegaskan sebagai agen literasi keislaman.

Penguatan itu diwujudkan melalui bimbingan ibadah, konsultasi keluarga, edukasi zakat dan wakaf, hingga pendampingan keagamaan yang diklaim mudah diakses selama Ramadan. Targetnya jelas: layanan menjangkau hingga akar rumput—tempat di mana Ramadan selama ini sudah berjalan tanpa perlu peluncuran resmi.

Dakwah Ramah, Moderat, dan Siap Digital
Fokus kedua adalah literasi keislaman yang mencerahkan melalui dakwah yang ramah, moderat, dan menyejukkan. Materi dakwah Ramadan diarahkan pada isu keluarga, ekonomi umat, dan kebangsaan, dengan penguatan konten digital agar pesan keagamaan lebih relevan.

“Kami ingin memastikan narasi keagamaan selama Ramadan menghadirkan ketenangan, optimisme, dan semangat kebersamaan. Dakwah harus edukatif, solutif, dan memperkuat harmoni sosial,” kata Abu.

Di era algoritma, rupanya pahala pun harus kompatibel dengan format digital.
Filantropi Produktif dan Bazar Ramadan
Fokus ketiga menyasar pemberdayaan sosial ekonomi melalui optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Program seperti Indonesia Berdaya Ramadan, TerasZAWA, hingga Indonesia Berzakat digulirkan untuk memperkuat filantropi produktif, termasuk bazar Ramadan dan dukungan bagi UMKM berbasis masjid.

Konsepnya terdengar mulia: ibadah vertikal dipadukan dengan dampak horizontal. Tinggal memastikan agar semangat berbagi tak berhenti pada spanduk dan seremoni pembukaan.

Gen Z dan Masjid yang “Relevan”
Tak ketinggalan, generasi muda juga menjadi sasaran. Program seperti Future Leaders of Masjid, Qari Goes to Campus, Halal Goes to Campus, hingga Sakinah Fun Walk dirancang agar Gen Z merasa masjid adalah ruang yang “ramah dan relevan”.

“Masjid harus menjadi ruang yang ramah dan relevan bagi generasi muda. Melalui berbagai program ini, kami ingin menyiapkan calon pemimpin masjid sekaligus menanamkan nilai keislaman yang moderat dan berdaya,” ujarnya.

Upaya ini setidaknya menunjukkan bahwa dakwah kini harus bersaing dengan timeline dan trending topic.

Dari Sidang Isbat hingga Masjid Ramah Pemudik
Rangkaian Joyful Ramadan juga mencakup agenda formal kenegaraan seperti Sidang Isbat, Peringatan Nuzulul Quran tingkat nasional, Tarawih Keliling lintas kementerian, hingga Salat Id di Masjid Istiqlal. Program lain seperti Masjid Ramah Pemudik dan Ekspedisi Masjid Indonesia turut melengkapi daftar panjang kegiatan.

Pelaksanaan program disebut terkoordinasi hingga daerah, termasuk wilayah perbatasan dan 3T melalui program Dai di Tapal Batas Negeri, serta kegiatan di Ibu Kota Nusantara.

Abu berharap Joyful Ramadan memberi dampak berlapis: peningkatan kualitas ibadah, penguatan solidaritas sosial, hingga harmoni kebangsaan.

“Melalui Joyful Ramadan, Kementerian Agama ingin menghadirkan Ramadan yang menggembirakan, bermakna, dan berdampak. Negara hadir untuk melayani, membersamai, dan menguatkan umat dalam menjalani ibadah dengan tenang dan penuh harapan,” pungkasnya.

Ramadan, pada akhirnya, memang tak pernah kekurangan makna. Tantangannya bukan pada jumlah program, melainkan pada sejauh mana semangat pelayanan benar-benar terasa di masjid kecil, gang sempit, dan rumah-rumah sederhana—tempat Ramadan telah lama berlangsung tanpa perlu diberi nama berbahasa asing.