ENTERTAIN

Macam Betool Ajaa: Tertawa di Tengah Invoice yang Belum Dibayar

146
×

Macam Betool Ajaa: Tertawa di Tengah Invoice yang Belum Dibayar

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – Di negeri yang percaya bahwa singkatan bisa menyulap nasib, lahirlah AIU-EO. Bukan partai, bukan ormas, apalagi gerakan perubahan—hanya tiga anak muda di sebuah ruko kecil dekat pasar, tempat debu menempel lebih setia daripada klien.

Alung, Igor, dan Ujay hidup dari proposal, doa, dan janji transfer yang sering kali lebih rajin dijanjikan daripada ditepati. Mereka disebut freelancer: istilah elegan untuk orang-orang yang bebas memilih mimpi, tapi tidak bebas dari lapar.

Macam Betool Ajaa sejak awal paham betul siapa yang sedang ia ceritakan: generasi kreatif yang masa depannya tergantung pada kalender acara dan saldo rekening yang tak pernah stabil. Dari Medan, mereka menatap hidup seperti menatap spanduk motivasi di pinggir jalan—optimistis dari jauh, tapi penuh typo jika didekati.

Lalu datanglah proyek yang katanya bisa mengubah segalanya: pesta pernikahan mewah milik seorang pengusaha kaya bernama Udin. Proyek emas. Proyek penyelamat. Proyek yang diyakini mampu membayar sewa ruko, cicilan hidup, dan harga diri sebagai pekerja kreatif. Dalam dunia AIU-EO, pesta bukan sekadar acara—ia adalah harapan yang disewa harian.

Namun seperti semua harapan dalam film ini, emas itu ternyata berongga. Igor mendapati bahwa pengantin perempuan bernama Sofia. Nama yang seharusnya tinggal sebagai arsip kenangan masa sekolah, kini muncul kembali sebagai masalah hidup. Sofia tidak datang membawa cinta, melainkan kewajiban. Ia akan menikah bukan karena ingin, tetapi karena keluarga harus melunasi utang budi—mata uang purba yang nilainya selalu lebih tinggi dari kebahagiaan individu.

Permintaan Sofia sederhana, nyaris kekanak-kanakan jika diucapkan di hadapan adat dan keluarga: batalkan pernikahan itu.

Di sinilah Macam Betool Ajaa memperlihatkan taringnya—meski tak pernah benar-benar menggigit. AIU-EO dihadapkan pada dilema yang terlalu akrab bagi anak muda hari ini: profesional atau manusia, kontrak atau nurani, invoice atau keberanian untuk merusak sistem yang sejak awal tak pernah ramah. Film ini menertawakan konflik itu dengan gaya sopan, seolah berkata: jangan serius-serius, nanti dianggap tidak tahu diri.

Sayangnya, keberanian ide tersebut tidak sepenuhnya tercermin dalam penggarapan. Film ini berjalan lurus, aman, dan patuh. Tidak jelek, tapi juga tak punya keberanian untuk menjadi istimewa. Seperti acara yang sukses karena tidak ada masalah besar, bukan karena ada keajaiban.

Akting para pemain pun terasa seperti daftar hadir produksi. Para pemeran utama tampil cukup, sekadar cukup, seolah mereka tahu bahwa eksplorasi emosi bukan bagian dari kontrak kerja. Terlalu nyaman untuk berani kotor. Andri Mashadi menjadi pengecualian kecil—ia harus bekerja ekstra keras menyesuaikan diri dengan logat dan gestur anak Medan, sebuah usaha yang terasa karena ia datang dari Jawa.

Sementara Mathias Muchus, dengan ketenangan aktor berpengalaman, kembali menjadi penonton paling santai di dalam filmnya sendiri: apa pun perannya, ia selalu tampak menikmati hidup, bahkan ketika naskah tidak menuntut banyak.

Namun di balik kesederhanaan teknis dan akting yang enggan berisiko itu, Macam Betool Ajaa tetap menyimpan sindiran yang diam-diam menyakitkan. Film ini berbicara tentang dunia kreatif yang gemar merayakan pesta, tapi lupa membayar mimpi. Tentang cinta yang harus menunggu izin keluarga. Tentang anak muda yang diminta profesional, tapi tidak pernah diperlakukan adil.

Ketika pesta hampir dimulai dan semua orang sibuk memastikan dekorasi tampak indah, film ini meninggalkan satu pertanyaan yang menggantung: siapa yang harus mengalah agar semuanya terlihat baik-baik saja? Jawabannya, seperti biasa, bukan mereka yang punya uang.

Macam Betool Ajaa adalah komedi romantis yang mengajak kita tertawa di bioskop, lalu pulang sambil menghitung ulang kompromi hidup masing-masing. Ringan di permukaan, getir di dalam—macam betul saja.