NASIONAL

Menteri Agama Perkenalkan “Kurikulum Cinta” di Sarasehan Ulama NU, Dorong Pendidikan Berbasis Toleransi

383
×

Menteri Agama Perkenalkan “Kurikulum Cinta” di Sarasehan Ulama NU, Dorong Pendidikan Berbasis Toleransi

Sebarkan artikel ini

 

Jakarta,  swarabhayangkara – Menteri Agama Nasaruddin Umar memperkenalkan konsep “Kurikulum Cinta” dalam Sarasehan Ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Jakarta pada Selasa (4/2/2025). Konsep ini bertujuan membangun generasi penerus yang menghargai keberagaman dan menjadikan cinta sebagai dasar dalam memahami perbedaan.

Acara ini dihadiri oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Iskandar, dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Dalam forum ini, Menag menegaskan pentingnya pendidikan agama yang berbasis cinta, bukan kebencian.

“Kami ingin menciptakan anak-anak bangsa yang tidak dicekoki dengan kebencian, tetapi dengan cinta yang dapat menyatukan perbedaan,” ujar Menag.

Menurutnya, Kurikulum Cinta akan mengajarkan bagaimana generasi muda dapat memahami dan menghargai perbedaan agama dengan perasaan tulus, bukan sekadar toleransi di permukaan.

Mengajarkan Agama dengan Cinta, Bukan Kebencian

Menag menegaskan bahwa setiap guru agama harus mengajarkan nilai-nilai kebaikan tanpa menanamkan kebencian terhadap keyakinan lain. Ia juga menambahkan bahwa toleransi sejati bukan sekadar menerima perbedaan, tetapi membangun persaudaraan berbasis cinta dan penghormatan.

“Kita tidak perlu menyatukan agama, tetapi yang penting adalah mengajarkan kebenaran agama masing-masing tanpa menanamkan kebencian kepada yang berbeda,” tegasnya.

Menag juga menyoroti bahaya provokasi yang dapat merusak persatuan bangsa. Jika nilai-nilai cinta ditanamkan sejak dini, maka akan lebih sulit bagi pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa untuk mempengaruhi generasi muda.

Peran NU dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menegaskan pentingnya peran ulama dan pengurus NU dalam memahami dan mendukung visi pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang harmonis.

“Posisi Nahdlatul Ulama adalah menyediakan diri untuk berkontribusi dalam upaya menjadikan visi ini sungguh-sungguh mencapai hasil yang diinginkan,” ujar Gus Yahya.

Ia juga mengingatkan bahwa para ulama dan pengurus NU perlu memahami visi ini lebih dalam, sehingga mereka dapat mengambil langkah konkret dalam menjaga persatuan dan perdamaian di Indonesia.

Konsep Kurikulum Cinta yang diperkenalkan Menag ini diharapkan dapat mewujudkan pendidikan agama yang lebih moderat, penuh kasih, dan bebas dari unsur provokasi, sejalan dengan semangat toleransi dan keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

NMC