NASIONAL

Negara Datang Membawa Angka: Menag Salurkan Rp596 Juta untuk Madrasah dan Korban Longsor Cisarua

169
×

Negara Datang Membawa Angka: Menag Salurkan Rp596 Juta untuk Madrasah dan Korban Longsor Cisarua

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Bandung Barat — Negara akhirnya tiba di lokasi bencana, membawa simpati, pernyataan moral, dan angka yang sudah dihitung dengan rapi.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyalurkan bantuan senilai Rp596 juta bagi madrasah, guru, dan keluarga siswa yang terdampak banjir dan longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (1/2/2026).

Bantuan tersebut diserahkan langsung Menag kepada para penerima, sebagai penegasan bahwa negara tidak absen—meski lebih sering datang setelah lumpur mengeras dan air surut.

Dalam keterangannya, Menag menyampaikan bahwa madrasah memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai ruang pengabdian dan pelayanan kemanusiaan. Dalam situasi darurat, madrasah disebut tetap berfungsi—sebuah pujian yang sekaligus mengakui bahwa di tengah krisis, madrasah sering kali bekerja lebih cepat daripada sistem bantuan itu sendiri.

“Madrasah ini sangat berjasa. Dalam kondisi darurat pun tetap menjadi bagian dari upaya kemanusiaan,” ujar Menag. Karena itu, katanya, negara wajib memastikan madrasah dan para gurunya dapat bangkit kembali—tentu setelah pendataan, verifikasi, dan seremonial selesai dilalui.

Bantuan yang disalurkan meliputi rehabilitasi rumah guru madrasah yang rusak parah akibat longsor. Total anggaran sebesar Rp300 juta dialokasikan untuk memperbaiki hunian para guru agar kembali layak dan aman. Layak, setidaknya menurut standar darurat pascabencana.
Selain itu, Kemenag juga memberikan bantuan sewa rumah bagi 21 guru madrasah terdampak dengan nilai total Rp126 juta. Bantuan ini dimaksudkan agar para guru tetap memiliki tempat tinggal sementara—karena mengajar di ruang kelas yang selamat tidak selalu berarti memiliki rumah yang sama nasibnya.

Di tengah upaya pemulihan, negara juga mencatat korban jiwa. Kementerian Agama menyalurkan santunan kepada keluarga 10 siswa madrasah yang wafat akibat banjir dan longsor, dengan total bantuan Rp160 juta. Santunan ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga, meski kehilangan jelas bukan sesuatu yang bisa diukur atau ditutup dengan angka berapa pun.

Sebagai bagian dari respons darurat, Kemenag turut menyalurkan bantuan pemulasaran jenazah sebesar Rp10 juta. Menag menegaskan bahwa pemulasaran yang layak merupakan bentuk penghormatan terakhir bagi korban—penghormatan yang datang setelah alam selesai menunjukkan kekuasaannya dan manusia sibuk menghitung dampaknya.

Menag memastikan bantuan ini bukan langkah terakhir. Jajaran Kementerian Agama di tingkat pusat dan daerah diminta terus melakukan pendampingan serta pendataan lanjutan terhadap kebutuhan madrasah dan keluarga terdampak. Pendataan itu penting, agar bantuan berikutnya bisa tepat sasaran—dan tidak lagi datang setelah korban belajar terlalu lama tentang arti bertahan sendiri.

Di Cisarua, madrasah perlahan membersihkan lumpur, guru menata ulang hidupnya, dan keluarga korban belajar berdamai dengan kehilangan. Sementara negara, seperti biasa, telah menjalankan perannya: hadir, mencatat, menyalurkan, dan menyatakan empati—dalam satu paket yang rapi dan dapat dipertanggungjawabkan secara administratif.