NASIONAL

PBNU Gelar Puncak Harlah Ke-100 NU di Istora Senayan, Menandai Abad Pengabdian dan Peradaban

177
×

PBNU Gelar Puncak Harlah Ke-100 NU di Istora Senayan, Menandai Abad Pengabdian dan Peradaban

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta
Seratus tahun bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah jejak panjang doa, khidmah, dan kesetiaan merawat kehidupan.

Pada Sabtu, 31 Januari 2026, Nahdlatul Ulama genap berusia satu abad. Untuk menandai momentum bersejarah itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar Puncak Peringatan Harlah Ke-100 Masehi di Istora Senayan, Jakarta.

Peringatan ini diselenggarakan tepat pada tanggal berdirinya NU dalam kalender Masehi, sebagaimana disampaikan Ketua PBNU, Rumadi Ahmad. “Kita akan memperingati harlah ke-100 NU di Istora Senayan, pas pada tanggal pendirian NU, 31 Januari,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).

PBNU turut mengundang Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk hadir dan menyampaikan amanat kebangsaan dalam acara tersebut. Kehadiran Presiden diharapkan menjadi penanda kuatnya simpul sejarah antara NU dan perjalanan Republik.

Acara akan dimulai sejak fajar, pukul 06.00 WIB. Istora Senayan akan menjadi saksi lantunan istighosah kubro, mahallul qiyam, dan doa—sebuah ikhtiar batin yang mengawali perayaan akbar dengan ketundukan dan harap.

Selepas itu, pada pukul 08.00 hingga 09.00 WIB, akan digelar Rapat Akbar yang menghimpun seluruh unsur jam’iyyah NU. Dari mustasyar, syuriyah, a’wan, dan tanfidziyah PBNU, hingga jajaran PWNU, PCNU, lembaga, badan otonom, dan badan khusus—semuanya berkumpul dalam satu barisan khidmat.

“Disebut Rapat Akbar karena diikuti oleh seluruh elemen NU dari berbagai tingkatan,” tutur Rumadi.

Di tengah perayaan, NU juga menegaskan watak kepeduliannya. Donasi kemanusiaan untuk korban bencana alam di berbagai daerah Indonesia akan menjadi bagian penting dari rangkaian acara—sebuah pengingat bahwa usia panjang NU selalu berjalan seiring dengan empati sosial.

Puncak acara akan diisi dengan pemutaran video perjalanan 100 tahun NU, arahan Presiden Prabowo Subianto, pidato Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, serta taujihat Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Rangkaian ini menjadi refleksi, sekaligus peneguhan arah langkah NU ke depan.

Harlah Ke-100 NU mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia.” Tema ini, menurut Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, merupakan kelanjutan dari visi besar NU: Merawat Jagat, Membangun Peradaban.

“Jam’iyyah ini didirikan dengan visi membangun peradaban. Itu berarti bukan hanya untuk bangsa Indonesia, bukan hanya untuk kaum mukminin, tetapi untuk seluruh umat manusia,” ujarnya.

Seratus tahun telah dilalui. Doa-doa telah ditanam. Kini, NU kembali berdiri di simpang sejarah—mengawal kemerdekaan, merawat dunia, dan menapaki jalan peradaban dengan hikmah dan kasih.