NASIONAL

Saat Cinta Dijadikan Kurikulum: Widyalaya dan Ujian Implementasi”

183
×

Saat Cinta Dijadikan Kurikulum: Widyalaya dan Ujian Implementasi”

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Denpasar — Aula Auditorium Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, Kamis (12/2/2026), mendadak menjadi panggung besar harapan.

Di bawah tajuk “Widyalaya Berkarya, Pertiwi Berjaya”, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menggelar Malam Puncak Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya. Acara ini dibuka langsung oleh Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar.

Momentum tersebut merujuk pada lahirnya PMA Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Widyalaya—regulasi yang disebut sebagai tonggak transformasi pendidikan Hindu di Indonesia. Sebuah tonggak yang, setidaknya di atas kertas, tampak kokoh dan menjanjikan masa depan cerah.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa Widyalaya bukan sekadar sekolah. Ia mengibaratkannya seperti pesantren—ruang pembentukan karakter dan pencerahan batin.

“Widyalaya bukan hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang jujur, objektif, dan bijaksana. Guru adalah obor pencerahan,” ujar Menteri Agama.
Obor itu tentu diharapkan tidak sekadar menyala saat seremoni, lalu redup ketika lampu panggung dipadamkan.

Menteri Agama juga menekankan pentingnya penguatan nilai spiritual dan kearifan lokal, khususnya konsep Tri Hita Karana yang disejajarkan dengan program Ekoteologi Kementerian Agama. Pesannya jelas: manusia, Tuhan, dan alam harus hidup dalam harmoni.
Ironisnya, pesan menjaga alam kerap terdengar paling nyaring di ruang-ruang berpendingin udara, sementara di luar sana, alih fungsi lahan dan eksploitasi lingkungan terus berjalan dengan logika ekonomi yang lebih cepat dari doa.

“Bahasa agama mampu menyadarkan manusia untuk tidak merusak alam,” tegasnya.

Bahasa agama memang sakral. Tantangannya, ia sering kalah keras dari bahasa anggaran. Kepala Kanwil Kemenag Bali, I Gusti Made Sunartha, melaporkan bahwa kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pembinaan ASN se-Bali. Dari 4.011 ASN, sekitar 800 hadir langsung karena keterbatasan tempat. Ia juga menyampaikan sederet capaian: predikat Pelayanan Prima, Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), hingga Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Di negeri yang gemar penghargaan, daftar prestasi kadang lebih panjang dari daftar evaluasi. Namun publik tentu berharap, predikat “bersih dan melayani” tidak hanya terpampang di plakat, tetapi benar-benar terasa di meja pelayanan.

Di bidang pendidikan, terdapat 71 Widyalaya swasta di Bali. Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Gianyar telah menghibahkan lahan untuk pendirian Widyalaya Negeri. Proposal dan desain kurikulum berbasis boarding school disebut telah siap, tinggal menunggu dukungan lebih lanjut dari Kementerian Agama.

Di sinilah ironi birokrasi kerap menemukan bentuknya: lahan sudah ada, desain sudah jadi, semangat sudah menyala—tinggal menunggu keputusan yang entah sedang antre di meja mana.

Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, menyebut PMA Nomor 2 Tahun 2024 sebagai tonggak sejarah yang memberi dasar hukum kuat bagi Widyalaya. Dalam dua tahun terakhir, 146 Widyalaya telah berdiri dari tingkat Pratama hingga Utama.

“Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus melahirkan insan yang Siddha, Suddha, Saddhu, dan Siddhi,” ujarnya.

Konsep Siddha (cerdas), Suddha (jujur), Saddhu (bijaksana), dan Siddhi (paripurna batin) menjadi ideal yang diusung. Sebuah visi luhur di tengah realitas pendidikan nasional yang masih berjuang dengan disparitas mutu, keterbatasan fasilitas, dan kesejahteraan tenaga pendidik.

Pada kesempatan itu, Dirjen Bimas Hindu juga meluncurkan Panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang mengintegrasikan Dharma, Bhakti, dan Tri Hita Karana dalam prinsip Panca Cinta: cinta kepada Tuhan, ilmu, lingkungan, sesama, dan tanah air.
“Kurikulum Berbasis Cinta adalah ruh pendidikan Widyalaya. Inti semua agama adalah cinta,” tegasnya.

Cinta, dalam praktiknya, tentu membutuhkan dukungan anggaran, tata kelola yang konsisten, dan keberanian melakukan evaluasi jujur. Tanpa itu, ia berisiko menjadi slogan paling indah di spanduk acara.

Malam itu juga diresmikan Lambang, Mars, dan Hymne Widyalaya. Teratai dipilih sebagai simbol transformasi dan kemurnian jiwa—tumbuh dari lumpur namun tetap bersih. Sebuah metafora yang relevan, terutama di tengah tantangan birokrasi dan kompleksitas tata kelola pendidikan.

Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya menjadi momentum konsolidasi nasional pendidikan Hindu. Harapan besar digantungkan pada institusi ini sebagai rumah ilmu dan rumah karakter.

Namun seperti semua tonggak sejarah di negeri ini, pertanyaan akhirnya sederhana: apakah ia benar-benar menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh, atau sekadar penanda bahwa kita pernah berdiri dan bertepuk tangan di tempat yang sama?