swarabhayangkara.com, Jakarta — Panggung musik boleh berpindah, tetapi Ancol tetap harus menjadi Ancol: tempat orang mencari angin laut, anak-anak bermain, keluarga menikmati liburan, dan warga Jakarta sesekali melarikan diri dari kemacetan tanpa harus benar-benar meninggalkan kota.
Rencana penyelenggaraan festival musik elektronik internasional Scream or Dance 2026 di kawasan Taman Impian Jaya Ancol akhirnya tidak dilanjutkan.
PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk memastikan festival tersebut tidak akan digelar di kawasan Ancol setelah manajemen melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak promotor, sekaligus menindaklanjuti aspirasi publik dan melakukan evaluasi terhadap rencana penyelenggaraan acara.
Keputusan itu disampaikan Ancol melalui keterangan resmi tertanggal 28 September 2026. Manajemen menyebut kesepahaman dengan promotor dicapai setelah mempertimbangkan berbagai aspek.
“Setelah berkoordinasi secara terbuka dan mempertimbangkan berbagai aspek, kami mencapai kesepahaman bahwa Scream or Dance 2026 tidak diselenggarakan di kawasan Ancol,” ujar Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Syahmudrian Lubis.
Bagi Ancol, keputusan tersebut bukan sekadar soal satu festival yang batal menggunakan salah satu sudut kawasan wisata. Manajemen justru menjadikannya momentum untuk memperkuat penataan berbagai kegiatan yang berlangsung di kawasan tersebut. Termasuk soal penjualan minuman beralkohol.
Ancol menyatakan pengaturan tersebut akan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku, karakter kawasan, serta keamanan dan kenyamanan pengunjung. Dengan kata lain, setelah musik berhenti berdentum di satu lokasi, pekerjaan rumah pengelola justru baru dimulai.
Sebab mengelola Ancol bukan pekerjaan sederhana. Kawasan ini bukan sekadar tempat konser, bukan sekadar pantai, bukan sekadar taman, dan bukan pula sekadar tempat orang mencari foto dengan latar matahari terbenam.
Ancol: Dari Rawa Menjadi Kota Rekreasi
Taman Impian Jaya Ancol memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ruang rekreasi Jakarta. Menurut laporan keberlanjutan Ancol, cikal bakal pengelolaan kawasan tersebut bermula dari Badan Pelaksana Pembangunan (BPP) Proyek Ancol yang berdiri dan beroperasi pada 19 Oktober 1966.
PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk sendiri berdiri pada 10 Juli 1992. Saat ini, Ancol mengelola kawasan sekitar 500 hektare di Jakarta Utara.
Kawasan yang dahulu merupakan wilayah rawa itu kemudian berkembang menjadi salah satu destinasi wisata terpadu terbesar di Indonesia. Di dalamnya terdapat berbagai ruang rekreasi, pantai, taman, wahana hiburan, kuliner hingga venue pertunjukan.
Ancol pun tumbuh menjadi salah satu wajah wisata Jakarta.
Di sinilah menariknya. Satu kawasan harus sanggup menjadi tempat anak-anak berlarian, keluarga menikmati akhir pekan, wisatawan menikmati pantai, sekaligus menjadi tempat konser dan berbagai acara hiburan. Sederhananya, Ancol harus bisa memainkan banyak lagu sekaligus tanpa membuat penontonnya saling berebut pengeras suara.
Musik Tetap Jalan, Hanya Panggungnya yang Berubah
Keputusan Ancol tidak berarti Scream or Dance 2026 berhenti sepenuhnya.
Informasi yang beredar pada akhir September menyebut festival tersebut tercantum akan berlangsung di Community Park PIK 2, Tangerang, pada 31 Oktober–1 November 2026. Dengan demikian, yang berubah adalah lokasi penyelenggaraannya, bukan keseluruhan keberadaan festival tersebut.
Scream or Dance sendiri dikenal sebagai festival musik elektronik dengan nuansa Halloween yang memadukan pertunjukan musik, atmosfer horor, instalasi tematik dan budaya cosplay. Jadi, bagi para penggemarnya, pesta belum tentu selesai. Hanya alamatnya yang berubah.
Sementara bagi Ancol, persoalannya lebih panjang daripada sekadar mengganti alamat pada poster acara.
Ketika Hiburan Bertemu Karakter Kawasan
Setiap kota membutuhkan ruang hiburan.
Jakarta bahkan mungkin membutuhkan lebih banyak ruang untuk tertawa setelah sehari penuh berhadapan dengan macet, pekerjaan, harga kebutuhan hidup, dan notifikasi grup WhatsApp yang tidak mengenal kata libur.
Namun setiap ruang juga memiliki karakter.
Ancol sejak lama diposisikan sebagai destinasi wisata dan rekreasi bagi masyarakat luas. Karena itu, manajemen menegaskan kembali komitmennya menjadikan kawasan tersebut aman, nyaman, dan inklusif, sekaligus mempertahankan karakter sebagai destinasi wisata keluarga.
Di sisi lain, Ancol memang bukan kawasan yang steril dari acara hiburan besar.
Sejarahnya menunjukkan bahwa kawasan ini telah lama menjadi salah satu ruang pertunjukan dan rekreasi Jakarta. Pantai, taman, arena hiburan, pusat kuliner, hingga berbagai venue pertunjukan hidup berdampingan di kawasan yang luas tersebut.
Persoalannya adalah bagaimana semua itu diatur agar satu jenis hiburan tidak mengambil seluruh ruang kenyamanan jenis pengunjung lainnya.nKarena keluarga datang membawa anak. Wisatawan datang membawa kamera.Anak muda datang membawa energi. Musisi datang membawa suara. Dan pengelola datang membawa tanggung jawab. Semua harus mendapat ruang.
Aspirasi Publik dan Pekerjaan Rumah Ancol
Ancol menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul selama proses terkait rencana penyelenggaraan Scream or Dance 2026.
Manajemen juga menegaskan akan terus melakukan penataan terhadap penyelenggaraan event, termasuk pengaturan penjualan minuman beralkohol.
Langkah tersebut penting karena karakter sebuah destinasi wisata bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak acara yang dapat digelar.
Karakter juga dibentuk oleh bagaimana pengelola menjaga keseimbangan antara hiburan, keamanan, kenyamanan, keteraturan, dan keberagaman pengunjung.
Di situlah aspirasi publik menjadi bagian dari proses pengelolaan ruang publik.
Bukan berarti setiap suara harus selalu menghasilkan keputusan yang sama dengan keinginan semua orang. Namun ketika sebuah kawasan hidup dari masyarakat dan dikunjungi masyarakat, suara publik setidaknya layak didengar.
Dan kali ini, Ancol memilih mendengar.
Jakarta Ingin Jadi Kota Global, Ancol Harus Tetap Punya Karakter
Ancol menyebut penataan tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap Jakarta sebagai kota global yang aman, nyaman dan ramah bagi seluruh masyarakat.
Menjadi kota global tentu bukan berarti semua jenis acara harus masuk ke semua tempat.
Kota global justru membutuhkan tata kelola ruang yang matang.Ada tempat untuk keluarga.Ada tempat untuk olahraga.
Ada tempat untuk seni.Ada tempat untuk musik. Ada tempat untuk pesta.
Dan ada pula tempat untuk menikmati suara ombak tanpa harus bersaing dengan suara bass.
Ancol berada di persimpangan semua itu.
Karena itu, tantangan pengelola bukan sekadar mendatangkan sebanyak mungkin acara, melainkan memastikan setiap acara sesuai dengan karakter kawasan dan tetap memberi ruang bagi masyarakat yang datang untuk berekreasi.
Pada akhirnya, Ancol adalah ruang yang cukup luas untuk banyak cerita.Ada cerita tentang pantai dan matahari sore.
Ada cerita tentang anak-anak yang pertama kali melihat laut. Ada cerita tentang konser, tawa, kuliner dan keramaian.
Dan kini ada satu cerita baru: sebuah festival musik yang batal digelar di sana setelah aspirasi publik didengar dan dibicarakan bersama.
Musiknya mungkin pindah panggung.
Tetapi pekerjaan menjaga Ancol sebagai ruang hiburan untuk semua orang tetap berlangsung. Karena taman impian, seperti halnya kota, bukan hanya soal siapa yang paling keras suaranya.
Kadang, yang paling penting justru siapa yang masih bisa menikmati suasana setelah pengeras suara dimatikan.





