NASIONAL

“Syawal yang Menari: Ketika Perempuan Sumatera Selatan Menjahit Rindu, Menjaga Warisan”

60
×

“Syawal yang Menari: Ketika Perempuan Sumatera Selatan Menjahit Rindu, Menjaga Warisan”

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – 
Di bawah langit Syawal yang masih beraroma kemenangan, langkah-langkah perempuan dari tanah Sumatera Selatan menjejak lembut di ruang megah Hotel Horison Bekasi. Mereka datang bukan sekadar hadir, melainkan membawa rindu yang lama disimpan, lalu dirajut kembali dalam satu simpul bernama halalbihalal.

Perkumpulan Wanita Palembang Sumatera Selatan (PWPSS) malam itu bukan hanya berkumpul—mereka menghidupkan kembali makna kebersamaan yang nyaris aus dimakan waktu.

Sekitar seratus lima puluh hati berdenyut dalam satu irama. Dari DKI Jakarta hingga berbagai penjuru, mereka hadir dengan cerita masing-masing, namun berpulang pada tujuan yang sama: menjaga agar kebersamaan tetap bernyawa, tak lekang oleh jarak, tak runtuh oleh zaman.

Di tengah mereka, Wiwied Tatung berdiri—bukan sekadar menyampaikan sambutan, tetapi meniupkan napas semangat ke dalam ruang yang telah penuh makna. Ia mengingatkan bahwa pertemuan ini bukan rutinitas yang berulang tanpa jiwa, melainkan tempat di mana persaudaraan ditempa kembali, diperkuat agar tak retak oleh waktu.

Sebuah kutipan dari John F. Kennedy melintas, seperti angin jauh yang menemukan rumahnya di hati para perempuan Palembang—tentang memberi tanpa menunggu, tentang mengabdi tanpa pamrih. Namun malam itu, kata-kata tidak menjadi pusat. Malam itu—ia menari.

Tari yang Mengalir Seperti Doa
Di tengah gemerlap cahaya, seni tari dari Sumatera Selatan hadir bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai doa yang menjelma gerak.

Tari Gending Sriwijaya mengalun anggun—warisan agung dari masa ketika kerajaan menyambut tamu dengan kehormatan setinggi langit. Setiap langkahnya adalah penghormatan, setiap lirikan mata adalah bahasa yang tak terucap.

Lalu Tari Tanggai menyusul, dengan jemari penari yang lentik, dihiasi kuku-kuku emas panjang yang berkilau seperti serpihan waktu. Gerakannya perlahan, seolah menyisir masa lalu, membawa pesan tentang kelembutan, keanggunan, dan martabat perempuan Palembang yang tak lekang oleh zaman.

Kain songket yang membalut tubuh para penari memantulkan cahaya—bukan sekadar kilau kain, tetapi kilas balik kejayaan Sriwijaya. Di sana, sejarah berdenyut, hidup dalam setiap helai benang emas yang ditenun dengan kesabaran dan cinta.

Musik tradisional mengalir pelan, seakan memanggil para leluhur untuk menyaksikan: bahwa budaya ini belum padam, ia masih hidup—di tubuh yang menari, di hati yang menjaga.

Harmoni yang Menyatukan Rasa
Di sela tarian, angklung berdenting, merangkai nada-nada Nusantara yang berbeda namun berpadu. Malam itu, seni menjadi jembatan—menghubungkan hati tanpa perlu bahasa.

Sebagaimana diungkapkan Wiwied, sebagian pertunjukan ini telah menembus batas negeri, melanglang ke panggung dunia. Di sana, tepuk tangan bukan sekadar suara—ia adalah pengakuan, bahwa budaya Indonesia berbicara dalam bahasa yang dipahami semua manusia: keindahan.

Di antara hadirin, Anwar Fuady menyaksikan dengan mata yang sarat pengalaman. Ia melihat lebih dari sekadar acara—ia melihat denyut perempuan yang terus bergerak, berbagi, dan memberi arti. Dari aksi sosial hingga panggung internasional, PWPSS menjelma menjadi lebih dari organisasi: ia adalah gerakan.

Malam kian hangat saat suara Reza Zakarya menggema, disusul irama enerjik dari DJ Mumu. Tawa pecah, langkah kaki menari bebas—seolah mengingatkan bahwa di tengah perjuangan, kebahagiaan tetap layak dirayakan.

Di sudut lain, Merry Hani memaknai malam itu sebagai simpul—tempat di mana hubungan tidak hanya dijaga, tetapi dipererat dengan rasa syukur yang tulus.

Dan ketika malam perlahan menutup tirainya, satu hal terasa jelas: Ini bukan sekadar pertemuan. Ini adalah janji yang diperbarui. Bahwa perempuan akan terus melangkah, menjaga budaya,
merawat bangsa.

Dan selama masih ada yang menari di bumi ini— selama jemari masih bergerak mengisahkan sejarah— budaya tak akan pernah mati.