ENTERTAIN

“Syetan Munafik”: Kolaborasi Besar Malaysia–Indonesia yang Gagap di Cerita dan Eksekusi

198
×

“Syetan Munafik”: Kolaborasi Besar Malaysia–Indonesia yang Gagap di Cerita dan Eksekusi

Sebarkan artikel ini

 

swarabhayangkara.com, Jakarta – “Syetan Munafik”, kolaborasi besar Malaysia–Indonesia gagap di cerita dan eksekusi. Kolaborasi industri dua negara melalui film “Syetan Munafik” patut dicatat sebagai langkah ambisius dalam membangun jembatan kreatif dua negara serumpun.

Film produksi United Nine Creative Sdn. Bhd. ini didistribusikan di Indonesia oleh PT Edar Nuansa Cinema (ENC), dengan dukungan jejaring TRANGI9 Indonesia, serta melibatkan deretan nama besar dari kedua negara.

Namun, di balik kemasan kolaborasi internasional dan semangat persaudaraan yang diusung, Syetan Munafik justru menghadirkan ironi: sebuah proyek besar yang tersandung pada fondasi paling mendasar dalam sinema—cerita, akting, dan eksekusi teknis.

Deretan Nama Besar, Hasil yang Tak Seimbang
Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor lintas negara, antara lain Almarhum Ashraf Sinclair, Zila Bakarin, Ruminah Sidek, Dato’ Jalaludin Hassan, Faizal Husin, Linda Hashim, Dea Lestari, dan Tessa Mariska, bersama sejumlah pemain pendukung lainnya. Dari sisi produksi, film ini diproduseri oleh Dato’ Mohd Rusdi bin Shair, dengan distribusi Indonesia di bawah arahan Toto Soegriwo (Komisaris PT ENC) dan Teddy Prangi (Direktur PT ENC).

Sayangnya, kekuatan nama besar tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas film yang dihasilkan. Justru di sinilah letak kekecewaan terbesar: materi cerita yang lemah membuat para pemain, sekelas apa pun mereka, kehilangan ruang untuk menunjukkan kapasitas terbaiknya.
Cerita Usang dan Skenario Tak Fokus
Secara garis besar, Syetan Munafik mengisahkan tragedi hilangnya sekelompok pelajar 25 tahun silam di sebuah “alam fantasi” berdimensi gelap, yang kembali terkuak ketika generasi baru mencoba menyelidiki misteri tersebut. Tema horor-religi dan dimensi mistik sejatinya menyimpan potensi besar.

Namun potensi itu tidak berkembang karena skenario yang tidak fokus, narasi yang kabur, serta konflik yang dibangun tanpa ketegasan arah. Film seolah ragu menentukan identitasnya sendiri: apakah ingin menjadi horor psikologis, horor religi, atau misteri tragedi kampus. Akibatnya, penonton dibiarkan mengikuti cerita yang berjalan, tetapi tanpa kejelasan tujuan dan kedalaman makna. Keberadaan manusia bertopeng dalam film ini malah semakin membuat film ini aneh dan menyebalkan.

Di tengah perkembangan film horor Indonesia yang kini tampil lebih segar, berani, dan kontekstual, Syetan Munafik justru terasa tertinggal. Struktur ceritanya mengingatkan pada pola sinetron atau FTV—cukup aman, datar, dan minim eksplorasi—yang membuat film ini terasa usang untuk ukuran layar lebar era kekinian.

Akting Tak Terangkat, Karakter Minim Kedalaman
Penampilan para pemain pun belum mampu menyelamatkan kelemahan cerita. Mayoritas akting terasa datar, dengan dialog yang kurang natural dan emosi yang tidak terbangun secara organik. Bahkan kehadiran almarhum Ashraf Sinclair, yang menjadi salah satu daya tarik utama film ini, belum mampu memberi dampak emosional signifikan—bukan karena kualitas personal sang aktor, melainkan karena karakter yang ditulis tanpa kedalaman psikologis.

Alih-alih menjadi penghormatan sinematik yang kuat, film ini justru menempatkan nama besar Ashraf Sinclair dalam narasi yang tidak cukup kokoh untuk menopang warisan aktingnya.

Teknis Produksi yang Ketinggalan Zaman
Dari sisi teknis, kelemahan film ini semakin kentara. Pengambilan gambar, tata sunting, hingga penggunaan efek visual kerap terasa tidak presisi. Atmosfer horor yang seharusnya mencekam justru sering patah oleh editing yang kurang rapi dan visual yang tidak mendukung ketegangan. Dalam beberapa adegan, efek yang ditampilkan malah memancing gelengan kepala, bukan rasa takut.

Hal ini menjadi kontras tajam dengan film-film horor Indonesia mutakhir yang semakin matang dalam membangun atmosfer melalui visual dan tata suara yang subtil namun efektif.

Kolaborasi Penting, Hasil Mengecewakan
Sebagai proyek kolaborasi Malaysia–Indonesia, Syetan Munafik tetap memiliki nilai simbolik yang penting. Upaya membangun ekosistem produksi lintas negara dan memperluas distribusi hingga bioskop daerah patut diapresiasi. Bahkan inisiatif penggalangan dana untuk korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan kepedulian sosial yang patut dihormati.

Namun dalam konteks sinema, film ini diprediksi sulit mendapatkan atensi luas dari penonton Indonesia. Jarak antara ekspektasi dan realisasi terlalu lebar, terutama mengingat embel-embel “kolaborasi dua negara” yang semestinya menghadirkan standar kualitas lebih tinggi.

Syetan Munafik akhirnya menjadi pelajaran penting bahwa kolaborasi besar tidak otomatis melahirkan karya besar. Tanpa cerita yang kuat, skenario yang fokus, dan keberanian artistik yang relevan dengan zamannya, film berisiko terjebak sebagai proyek seremonial semata—megah dalam pernyataan, namun rapuh dalam tontonan.  Tapi semoga saja penonton membludak dengan doa yang super khusyuk (Is)