NASIONAL

Ubah Nestapa Jadi Api: Festival Film Wartawan 2025 dan Warisan Cinta dari Wina Armada Sukardi

241
×

Ubah Nestapa Jadi Api: Festival Film Wartawan 2025 dan Warisan Cinta dari Wina Armada Sukardi

Sebarkan artikel ini

 

Jakarta, swarabhayangkara.com  – Di antara kabar duka dan langit Jakarta yang sempat muram, seberkas cahaya menyala dari panggung Festival Film Wartawan (FFW) 2025. Bukan sekadar sinar lampu sorot, melainkan nyala tekad, kobaran semangat yang lahir dari kehilangan mendalam atas  kepergian Wina Armada Sukardi, Presiden FFW,  yang selama ini menjadi api dalam perfilman tanah air.

Winq telah pergi. Namun suaranya tetap menggema. Gagasan-gagasannya masih mengalir seperti sungai dalam tubuh festival ini. FFW 2025 pun digelar bukan hanya sebagai penghargaan, tapi sebagai pernyataan: bahwa cinta kepada film dan kejujuran kritik takkan pernah mati.

“Kepergian Mas Wina adalah jeda, bukan titik,” ujar Benny Benke, Ketua Panitia FFW 2025, dalam lounching yang sarat haru, Rabu siang, 9 Juli 2025,   “Ia meninggalkan kita dengan warisan tak ternilai—ketulusan, keteguhan, dan integritas. Maka tahun ini, kami bekerja tidak hanya dengan profesionalisme, tetapi juga dengan hati.”

FFW bukanlah panggung megah bertabur glamor semata. Sejak awal, ia berdiri sebagai ruang sakral bagi para wartawan film—para penjaga gerbang budaya yang tekun menakar kualitas dan menggali makna. Dalam dunia yang makin riuh oleh promosi dan sensasi, FFW tetap berjalan di lorong sunyi kejujuran. Dan tahun ini, lorong itu diterangi cahaya Wina.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam pesannya menyebut wartawan film sebagai “denyut nadi yang menggerakkan kedewasaan industri.” FFW menjadi bukti bahwa kritik dan apresiasi bisa berjalan beriring, seperti nada dan harmoni yang mencipta simfoni.

Senada dengan itu, Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemenbud RI, Ahmad Mahendra,  menegaskan bahwa “Wina bukan sekadar penggerak, ia adalah jiwa. Semangatnya akan hidup dalam setiap diskusi, pemutaran, hingga pemberian penghargaan.”

Tahun ini, FFW hadir lebih dalam, lebih luas. Rangkaian acaranya bukan sekadar selebrasi, melainkan refleksi:

  • Forum Kritik Film & Literasi Media, ruang bagi para pemikir dan penulis untuk menggali ulang peran kritik dalam membangun cita rasa publik.
  • Pemutaran Karya Legendaris, mengenang film-film yang dulu pernah dibela Wina, film yang ia jaga seperti pusaka.
  • Anugerah Khusus Wina Armada Sukardi, bagi mereka yang setia pada integritas dan cita rasa dalam berkarya.

FFW 2025 adalah wajah dari keberanian untuk bangkit di tengah kehilangan. Seperti daun yang gugur memberi ruang bagi tunas baru, kepergian Wina membuka lembaran baru dalam sejarah festival ini.

Benny Benke yang juga seorang penyair mumpuni, menutup dengan satu kalimat yang menggantung di udara, lama setelah suaranya reda:
“Manusia datang dan pergi, tapi nilai-nilai mereka abadi.”

Festival Film Wartawan 2025 bukan sekadar acara. Ia adalah nyala. Ia adalah doa. Ia adalah cinta yang menjelma layar, kritik yang menjelma pelita, dan kehilangan yang menjelma arah.

Dan seperti api yang ditiup angin, FFW 2025 justru berkobar semakin terang. Sebentar lagi pendarannya menyejukan penikmat film tanah air.

NMC