NASIONAL

Air Bah Tanpa Surat Tugas, Bantuan Negara Datang Menyusul

160
×

Air Bah Tanpa Surat Tugas, Bantuan Negara Datang Menyusul

Sebarkan artikel ini

 

swarabhayangkara.com, Padang — Negara akhirnya datang. Setelah air bah lebih dulu menyapa rumah-rumah warga, melipat sajadah, menggenangi kitab suci, dan memaksa ribuan orang mengungsi, Kementerian Agama menyusul dengan angka yang rapi: Rp10,225 miliar.

Ini aAmngka yang menenangkan di atas kertas, meski lumpur di lapangan belum sepenuhnya mengering.

Dilansir dari laman resmi kemenag.go.id, bantuan tersebut diserahkan Inspektur Jenderal Kemenag Khairunas kepada Kantor Wilayah Kemenag Sumatra Barat dan UIN Imam Bonjol Padang. Penyerahan ini disebut sebagai wujud “kehadiran negara”—sebuah frasa sakral yang selalu terdengar paling lantang justru setelah bencana menuntaskan pekerjaannya.

“Atas penugasan langsung Menteri Agama, saya hadir di Sumatera Barat,” ujar Irjen Khairunas di Padang, Selasa (30/12/2025), memastikan bahwa negara benar-benar hadir, setidaknya dalam bentuk sambutan resmi, pidato empatik, dan daftar nominal bantuan yang terperinci hingga rupiah terakhir.

Menurutnya, bantuan ini lahir dari empati, keikhlasan, dan ketulusan ASN Kementerian Agama. Empati yang diharapkan mampu mengeringkan luka, meski hujan tak pernah diminta izin sebelum turun, dan sungai tak pernah membaca surat edaran sebelum meluap.

Sebelumnya, Menteri Agama Nasaruddin Umar telah lebih dulu menyerahkan bantuan di Aceh, disusul Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i di Sumatra Utara. Kini giliran Sumatra Barat—seolah bencana telah disusun rapi dalam agenda kunjungan kenegaraan.

Tak lupa, doa turut disertakan. Doa menjadi ikhtiar spiritual resmi, melengkapi ikhtiar administratif. Sebab di negeri ini, ada penderitaan kerap dipeluk oleh dua tangan: satu membawa proposal, satu lagi membawa doa.

Selain bantuan utama, Kemenag juga menyalurkan masing-masing Rp100 juta kepada Pondok Pesantren Harakatul Qur’an dan Pondok Pesantren MTI Batang Kabung. Sebuah pengingat bahwa saat banjir datang, ruang belajar, rumah ibadah, dan kitab-kitab suci sama rapuhnya dengan rumah warga biasa.

Total Rp8,16 miliar bersumber dari APBN untuk rehabilitasi sarana pendidikan dan keagamaan. Sementara melalui program Kemenag Peduli, digelontorkan tambahan Rp2,065 miliar—mulai dari bantuan tunai, pengurangan UKT mahasiswa, pembersihan ruang belajar, hingga santunan bagi 33 ASN terdampak. Semua tertata rapi, kecuali cuaca dan aliran air.

Irjen Khairunas menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada empati. Pernyataan ini penting, sebab empati saja memang tidak cukup untuk membangun kembali rumah yang hanyut, apalagi kepercayaan bahwa bencana bukan sekadar takdir, melainkan juga soal kelalaian kolektif.

Ia juga mengingatkan pentingnya ekoteologi—bersahabat dengan alam, menjaga sungai, menanam pohon. Sebuah nasihat bijak yang terdengar agung, meski sering baru digaungkan setelah hutan gundul selesai menunaikan akibatnya.

“Duka umat adalah duka Kementerian Agama,” pungkasnya.

Kalimat itu indah. Namun warga di tepian sungai barangkali berharap satu tambahan kecil: agar duka tak selalu datang lebih dulu, sementara negara menyusul belakangan dengan pidato, spanduk, dan angka bantuan yang baru terasa setelah segalanya terlanjur hanyut. (Is)