ENTERTAIN

Di Antara Sunyi dan Cahaya: Tiga Dekade Pencarian Batin Connie Constantian

119
×

Di Antara Sunyi dan Cahaya: Tiga Dekade Pencarian Batin Connie Constantian

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Ada kisah yang lahir dari keramaian panggung, dan ada pula kisah yang tumbuh diam-diam di dalam hati manusia. Ia tidak gaduh, tidak pula terburu-buru diceritakan. Ia menunggu waktu, seperti benih yang lama tertanam sebelum akhirnya muncul ke permukaan.

Demikianlah perjalanan spiritual yang dijalani Connie Constantian. Lebih dari tiga puluh tahun ia menyusuri jalan batin yang sunyi—jalan yang kadang tidak dipahami oleh dunia luar, tetapi terasa begitu nyata bagi jiwa yang menjalaninya.

Kini, setelah sekian lama menyimpan kisah itu sebagai rahasia pribadi, Connie perlahan membuka pintu ceritanya kepada publik melalui podcast di kanal YouTube yang tengah ia kembangkan.

“Awalnya itu pengalaman yang sangat pribadi. Saya menyimpannya sendiri selama bertahun-tahun. Tapi kemudian saya merasa ada panggilan untuk membagikannya,” tuturnya.

Barangkali memang begitulah perjalanan spiritual bekerja: ia tidak selalu dimulai dari keramaian, melainkan dari kesendirian. Dari pertanyaan-pertanyaan kecil tentang hidup, tentang makna, tentang siapa manusia sebenarnya di hadapan Tuhan.
Al-Qur’an menggambarkan pencarian itu dengan cara yang sederhana namun dalam:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
— (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat itu seperti pelita kecil di dalam gelap: bahwa ketenangan jiwa tidak lahir dari gemerlap dunia, melainkan dari kedekatan hati dengan Sang Pencipta.

Ketika Kisah Batin Menjadi Karya
Perjalanan batin Connie kini tidak hanya hadir dalam podcast. Ia juga tengah menyiapkan sebuah film dokumenter yang akan merekam perjalanan hidupnya sejak masa kecil hingga pengalaman spiritual yang membentuk keyakinannya hari ini.
Prosesnya masih berada pada tahap penulisan cerita—sebuah proses yang mungkin sama dalamnya dengan perjalanan yang sedang ia kisahkan.

“Film ini akan menceritakan perjalanan hidup saya dari kecil sampai pengalaman spiritual yang saya alami,” katanya.

Baginya, film tersebut bukan sekadar hiburan. Ia ingin menjadikannya sebagai ruang refleksi, sebuah kisah yang mungkin dapat menemani orang-orang yang sedang mencari makna hidup.

Sebab dalam hidup, manusia sering kali merasa berjalan sendirian. Padahal sesungguhnya setiap manusia sedang menempuh perjalanan batinnya masing-masing.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
— (Hikmah yang sering dikutip dalam tradisi tasawuf)

Pesan ini mengandung makna mendalam: bahwa mengenal Tuhan sering kali dimulai dari keberanian manusia untuk memahami dirinya sendiri.

Tentang Bangsa dan Rasa Percaya Diri
Di tengah pembahasan spiritualitas, Connie juga menyinggung hal yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia: kurangnya penghargaan terhadap potensi bangsa sendiri.

Ia menilai masyarakat sering kali lebih mudah memuji karya luar negeri, sementara talenta lokal justru berjalan di ruang yang sempit.

“Bangsa kita punya kualitas besar. Tapi sering kali ruang untuk anak bangsa sendiri justru terbatas,” ujarnya.

Pandangan ini bukan sekadar kritik sosial. Ia juga refleksi tentang kesadaran kolektif—bahwa sebuah bangsa perlu belajar menghargai dirinya sendiri sebelum berharap dihargai dunia.

Satu Tuhan, Banyak Jalan
Dalam perjalanan spiritualnya, Connie juga menyampaikan pesan tentang persatuan antariman. Ia percaya bahwa berbagai agama pada dasarnya mengarah pada satu tujuan yang sama: mengenal dan mendekat kepada Tuhan.

“Intinya adalah satu cinta dalam keberagaman. Kita berbeda keyakinan, tetapi tetap menuju kepada Tuhan yang sama,” ujarnya.

Pemahaman ini sejalan dengan pesan universal yang juga terdapat dalam Al-Qur’an:
“Bagi tiap-tiap umat Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Jika Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Dia hendak menguji kamu terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepadamu.”
— (QS. Al-Ma’idah: 48)

Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari rencana besar kehidupan.

Jalan Pulang yang Sunyi
Tiga puluh tahun perjalanan spiritual bukanlah waktu yang singkat. Namun bagi mereka yang pernah berjalan dalam pencarian batin, perjalanan seperti itu sering kali terasa seperti satu napas panjang.

Sebab setiap langkah membawa manusia lebih dekat kepada satu kesadaran sederhana: bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang siapa kita di hadapan Tuhan.

Dan mungkin pada akhirnya, semua perjalanan manusia—betapapun panjangnya—hanyalah perjalanan pulang.
Pulang kepada cahaya yang sejak awal telah menunggu di dalam hati.