swarabhayangkara.com, Jakarta — Di antara riuh industri musik yang serba cepat, Vonny Sumlang justru memilih berjalan perlahan. Bukan karena tertinggal, melainkan karena ia sedang menata sesuatu yang lebih dalam dari sekadar nada: makna.
Suara yang dulu menggema lewat “Ratu Sejagad” kini tak hanya mencari harmoni di panggung, tetapi juga di dalam jiwa. Waktu telah membawanya pada fase baru—lebih hening, lebih teduh, namun justru terasa semakin utuh.
Dalam perjalanan terkininya, Vonny tak hanya sibuk merampungkan karya-karya lama yang sempat tertunda. Ia juga menapaki ruang spiritual yang lebih luas, tanpa sekat, tanpa prasangka.
Kini, ia dikenal semakin religius—bukan dalam arti sempit, melainkan dalam cara ia memandang kehidupan dan sesama. Aktivitas sosial keagamaan menjadi bagian dari kesehariannya. Ia hadir, membantu, dan terlibat di tengah masyarakat tanpa pernah mengotak-ngotakkan perbedaan.

Menariknya, sebagian besar lingkar pertemanannya kini justru berasal dari kalangan Muslim. Di situlah ia menemukan kehangatan yang sederhana, sekaligus kedalaman nilai yang ia cari.
Bahkan, dalam momen Ramadan, Vonny turut menjalankan ibadah puasa. Bukan sekadar mengikuti, tetapi sebagai bentuk pencarian—sebuah upaya meraih kekayaan ruhani sekaligus menjaga kesehatan jasmani.
“Puasa itu bukan hanya menahan lapar,” seolah begitu yang ia rasakan, “tapi juga belajar menahan diri, membersihkan hati.”
Di sisi lain, perjalanan musiknya tetap berjalan. Lagu-lagu dari mini album 2016 kembali ia buka satu per satu, seperti membaca ulang surat lama yang belum sempat terkirim.
Maafkan, sebuah lagu bernuansa doa, menjadi salah satu yang ingin segera ia wujudkan dalam bentuk video klip.
Bersama John Will, ia meracik ulang emosi—menghadirkan karya yang tak hanya enak didengar, tetapi juga terasa.
Ia tetap menjadi Vonny yang dulu: penyanyi tanpa batas genre. Pop, dangdut, hingga qasidah—semua mengalir tanpa sekat. Namun kini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan yang menyelinap di setiap nada yang ia pilih.
Platform seperti YouTube pun menjadi jembatan baru bagi karyanya untuk kembali menemukan pendengar, menjangkau generasi yang mungkin belum pernah mengenal suaranya.
Vonny Sumlang hari ini bukan sekadar tentang nostalgia. Ia adalah tentang perjalanan pulang—dari panggung gemerlap menuju ruang batin yang lebih sunyi, namun penuh cahaya.
Dan di sanalah, di antara nada dan doa, ia kembali bernyanyi. Bukan lagi hanya untuk didengar, tetapi untuk dirasakan.







