swarabhayangkara.com, Jakarta – Di negeri yang gemar menangisi sinetron sambil melupakan tetangga sendiri, hadir sebuah film berjudul ‘Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan’. Sebuah judul yang terdengar seperti doa terakhir seseorang yang sadar hidup modern lebih sibuk menyimpan password WiFi ketimbang mengingat wajah ibunya sendiri.
Film garapan Kuntz Agus ini datang membawa tema Alzheimer—penyakit yang perlahan menghapus manusia dari dirinya sendiri. Tema yang sesungguhnya tragis, sunyi, dan menakutkan. Sebab kematian paling kejam bukanlah ketika tubuh berhenti bernapas, melainkan ketika ingatan mulai mematikan orang-orang yang pernah kita cintai.
Sayangnya, film ini berjalan seperti seseorang yang lupa sedang menuju ke mana.
Sejak pembukaannya, ritme film sudah terseok-seok seperti kipas angin tua di ruang tamu rumah kontrakan. Lambat. Sangat lambat. Dan celakanya, kelambatan itu bukan dibangun sebagai kontemplasi artistik yang menusuk, melainkan seperti kereta ekonomi yang berhenti di setiap stasiun kecil tanpa pernah benar-benar membawa penonton menuju ledakan emosional yang besar.
Mungkin sang sutradara memang ingin menghadirkan suasana muram dan reflektif. Namun yang terjadi justru film ini seperti tenggelam dalam genangan melodrama yang terlalu hati-hati. Ia takut menjadi liar, takut menjadi pahit, bahkan takut melukai penonton. Padahal Alzheimer sendiri adalah luka yang brutal.
Film ini seakan ingin menangis, tapi sibuk merapikan mascara.Padahal premisnya kuat. Sangat kuat. Lulu Tobing yang memerankan Yuke Yolanda, seorang guru SD yang mulai kehilangan serpihan-serpihan memorinya akibat Alzheimer. Ada tragedi yang sunyi ketika seorang ibu perlahan lupa jalan pulang, lupa nama anaknya, bahkan lupa bahwa pernah ada pelukan yang membuat hidupnya bertahan.
Dan di situlah sebenarnya horor terbesar film ini.Bukan hantu. Bukan darah.
Bukan jumpscare murahan. Melainkan kenyataan bahwa manusia bisa hidup sambil perlahan menghilang.
Namun alih-alih menggali kengerian psikologis itu lebih dalam, film ini memilih jalur aman: percakapan panjang, musik sendu, tatapan kosong, lalu adegan-adegan yang terasa terlalu rapi untuk sebuah keluarga yang sedang runtuh.
Seolah penderitaan harus tetap fotogenik.
Meski demikian, akting para pemain patut diberi hormat. Selain yang tampil cukup datar seperti bapak-bapak iklan asuransi yang sedang menahan cicilan, justru pemain lain memperlihatkan dedikasi emosional yang kuat.
Lulu Tobing tampil penuh pengendalian. Ia tidak berlebihan memainkan lupa. Tidak menjadi teatrikal. Ada momen-momen kecil ketika matanya kosong beberapa detik, dan justru di sanalah Alzheimer terasa mengerikan. Bukan karena teriakan, melainkan karena sunyi.
Sementara generasi muda seperti dan mampu memberi denyut emosional yang membuat film ini tetap bernapas di tengah alurnya yang nyaris tertidur.
Tetapi lagi-lagi, masalah utama film ini ada pada keberaniannya yang setengah matang. Ia seperti ingin menjadi karya penting tentang keluarga dan kehilangan, namun enggan menyelam terlalu dalam ke lumpur emosional manusia.
Akibatnya, film ini terasa “baik”, namun tidak benar-benar membekas.
Padahal Alzheimer bukan sekadar lupa menaruh kunci motor. Alzheimer adalah penyakit degeneratif otak yang perlahan menghancurkan memori, kemampuan berpikir, perilaku, hingga identitas seseorang. Penyakit ini menjadi bentuk paling ironis dari kehidupan modern: manusia hidup lebih lama, tetapi perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Gejalanya sering dimulai dari hal kecil—lupa percakapan, lupa arah jalan, sulit mengenali wajah, perubahan emosi, hingga akhirnya tidak mampu mengenali keluarga sendiri. Penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui, namun faktor usia, genetika, gaya hidup, stres kronis, gangguan pembuluh darah, hingga pola tidur buruk disebut berkontribusi besar.
Dan dunia telah menyaksikan banyak tokoh besar akhirnya kalah oleh kabut ingatan ini , menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam pelukan Alzheimer.
Ia mengalami gangguan neurodegeneratif yang membuat tubuh dan memorinya terus melemah, bahkan dulu sempat dianggap pemabuk sebelum akhirnya dunia sadar: ia sedang dihancurkan Alzheimer. Begitulah penyakit ini bekerja. Ia tidak datang membawa pisau.
Ia datang membawa penghapus.
Dan mungkin di situlah ironi terbesar film ini. Ketika tema yang dibawanya begitu menghancurkan, justru penyajiannya terasa terlalu jinak.
Film ini ingin menjadi pukulan emosi, tetapi lebih sering terasa seperti tepukan pelan di bahu. Mengharukan, iya. Menyayat, belum tentu.
Meski demikian, film ini tetap memiliki nilai penting: ia mengingatkan bahwa keluarga bukan sekadar kumpulan orang serumah, melainkan kumpulan kenangan yang suatu hari bisa hilang tanpa izin.
Dan mungkin setelah lampu bioskop menyala nanti, sebagian penonton akan pulang sambil diam-diam memeluk ibunya lebih lama.
Sebab ada ketakutan yang tak pernah diajarkan sekolah kepada manusia:
bagaimana jika suatu hari orang yang paling kita cintai masih hidup… tapi sudah tidak lagi mengingat kita?







