Anya Geraldine menjadi salah satu daya tarik film ini. Sayangnya, cerita terasa biasa, teror kurang menggigit, dan sentuhan penyutradaraan Azhar Kinoi Lubis belum mampu menghadirkan kejutan.
swarabhayangkara.com, Jakarta – Film horor Indonesia sepertinya belum kehabisan cara untuk mengajak manusia berurusan dengan dunia gaib. Kali ini, Starvision menghadirkan Dewi Siluman Ular, film garapan sutradara Azhar Kinoi Lubis yang diproduseri Chand Parwez Servia.
Film ini menggelar press screening dan press conference di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Acara tersebut dihadiri Chand Parwez, Azhar Kinoi Lubis, penulis skenario Upi dan Ayu Anggraini Putri, serta sejumlah pemain, di antaranya Derby Romero, Anya Geraldine, Aulia Sarah, Aghniny Haque, dan Arswendy Bening Swara.
Ceritanya berkisah tentang Dedi (Derby Romero), seorang pria yang terhimpit persoalan ekonomi. Demi mendapatkan kekayaan dan menyelamatkan keluarganya, ia menempuh jalan pesugihan melalui pernikahan dengan Dewi (Anya Geraldine), sosok siluman ular. Namun, kekayaan yang diperoleh ternyata membawa konsekuensi mengerikan.
Dalam konferensi pers, Chand Parwez menyebut film ini memiliki sesuatu yang berbeda dari film horor lainnya.
Sayangnya, setelah menyaksikannya, saya justru kesulitan menemukan letak keistimewaan yang dimaksud.
Kisah pesugihan, perjanjian gaib, kekayaan instan, dan teror akibat melanggar kesepakatan sudah menjadi menu yang cukup akrab dalam perfilman horor Indonesia. Mengangkat cerita dari podcast viral Nikah Sama Jin memang menarik sebagai titik awal, tetapi sumber cerita yang viral tidak otomatis menjadikannya sebuah karya sinema yang istimewa.
Premisnya sebenarnya punya potensi. Persoalan ekonomi dan keputusasaan manusia bisa menjadi pintu masuk menuju horor psikologis yang kuat. Namun, cerita justru berjalan biasa-biasa saja. Konflik hadir tanpa ledakan emosi yang berarti. Pesan tentang bahaya keserakahan dan pesugihan pun terasa seperti formalitas, sekadar kewajiban sebuah film horor untuk menyisipkan pesan moral.
Anya Bersinar, Pemain Lain Kurang Menggigit
Satu hal yang layak mendapat acungan jempol adalah penampilan Anya Geraldine. Ia cukup berhasil memberikan daya tarik pada sosok Dewi Siluman Ular.
Sayangnya, penampilan sejumlah pemain lain terasa belum maksimal. Beberapa karakter seperti hadir hanya untuk melengkapi cerita, tanpa kekuatan akting dan pendalaman karakter yang membuat penonton benar-benar terikat secara emosional.
Justru kehadiran tiga komedian menjadi penyegar tersendiri. Humor mereka sesekali berhasil mencairkan suasana yang terasa monoton. Ironisnya, ketika film ingin menghadirkan ketegangan, justru unsur komedinya yang lebih berhasil menghibur.
Azhar Kinoi Kehilangan Sentuhan
Nama Azhar Kinoi Lubis tentu bukan nama sembarangan dalam genre horor. Ia pernah menggarap sejumlah film yang memiliki kekuatan atmosfer dan detail penceritaan.
Karena itu, ekspektasi terhadap film ini cukup tinggi.
Namun, dibandingkan beberapa karya horornya terdahulu, Dewi Siluman Ular terasa jauh dari kesempurnaan yang diharapkan. Detail cerita, pembangunan ketegangan, hingga kedalaman karakter belum tergarap maksimal.
Film ini tidak bisa dibilang buruk, tetapi juga tidak menawarkan sesuatu yang membuat penonton berdecak kagum. Semuanya berjalan seperti biasa. Tidak ada kejutan yang benar-benar membekas.
Siluman Ular yang Kurang Berbisa
Pada akhirnya, Dewi Siluman Ular menjadi tontonan yang masih bisa dinikmati, meskipun jangan berharap menemukan pengalaman horor yang luar biasa.
Ada Anya Geraldine yang memikat, ada komedi yang sesekali menyegarkan, dan ada cerita pesugihan yang sebenarnya menjanjikan. Sayangnya, semua itu belum diramu menjadi sebuah film yang memiliki daya gigit.
Kalau boleh sedikit nakal, menonton film ini masih lumayan ketimbang menghabiskan waktu menyaksikan drama-drama vertikal yang berseliweran di layar ponsel.
Namun, untuk ukuran film horor layar lebar, rasanya Starvision dan Azhar Kinoi Lubis masih punya pekerjaan rumah.
Sebab, siluman ular boleh saja kehilangan taring dalam cerita. Tetapi film horor jangan sampai kehilangan bisa untuk membuat penontonnya merinding. Dewi boleh siluman ular, tetapi terornya belum cukup berbisa.







