swarabhayangkara.com, Jakarta – Dahulu, sebelum layar telepon pintar menjelma menjadi perpustakaan yang tak pernah tutup, anak-anak Indonesia mengenal para pahlawannya melalui lembar demi lembar komik.
Mereka tumbuh bersama Gundala, Godam, Sri Asih, Si Buta dari Gua Hantu, dan puluhan tokoh lain yang lahir dari tangan dingin komikus Nusantara. Kala itu, komik bukan sekadar hiburan. Ia adalah cermin zaman, ruang imajinasi, sekaligus cara bangsa ini bercerita tentang dirinya sendiri.
Lalu sejarah berbelok. Rak-rak toko buku perlahan dipenuhi manga Jepang. Setelah itu manhwa Korea datang dengan gelombang Hallyu yang tak hanya membawa drama dan musik, tetapi juga budaya membaca digital melalui webtoon. Indonesia menyambut semuanya dengan tangan terbuka. Terlalu terbuka, barangkali, hingga lupa menyisakan ruang bagi cerita ciptaannya sendiri.
Ironinya, negeri yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau, ratusan bahasa daerah, ribuan legenda, mitologi, cerita rakyat, kisah kepahlawanan, hingga horor yang seolah tak pernah kehabisan hantu, justru lebih dikenal sebagai konsumen cerita daripada penciptanya.
Mungkin karena negeri ini memang gemar menjadi penonton. Menonton kekayaan sendiri diproduksi orang lain. Di tengah ironi itulah, Indonesia K-Culture Youth Global Frontier: Webtoon Road in Indonesia yang digelar di Jakarta, Kamis (16/7/2026), terasa seperti angin yang berembus di ruang yang terlalu lama pengap.
SMB Holdings mempertemukan kreator Indonesia dan Korea Selatan, bukan sekadar untuk belajar menggambar, melainkan membangun jembatan agar cerita Nusantara dapat berjalan menuju panggung dunia.
Presiden Direktur SMB HUB Prospera, Lee Buyong, mengatakan revolusi telah terjadi. Buku tidak lagi menjadi rumah utama komik. Kini layar telepon genggam telah mengambil alih. “Dulu kita membaca komik dalam bentuk buku. Sekarang semuanya berpindah ke ponsel. Masa depan webtoon sangat menjanjikan,” ujar Lee Buyong.
Kalimat itu sesungguhnya lebih dari sekadar penjelasan teknologi. Ia adalah pengingat bahwa medium boleh berubah, tetapi cerita akan selalu mencari pembacanya. Namun, cerita tidak akan hidup hanya dengan pena digital. Ia membutuhkan ekosistem yang sehat.
Selama bertahun-tahun, banyak komikus Indonesia hidup dalam paradoks. Dipuji ketika menang lomba, tetapi dilupakan ketika harus membayar kebutuhan hidup. Karyanya dibagikan ribuan kali di media sosial, tetapi royalti sering kali tak kunjung tiba. Mereka diajak bangga menjadi kreator, tetapi masih harus berjuang agar profesinya benar-benar dihargai.
Padahal negara telah memberi dasar hukum. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menegaskan bahwa negara berkewajiban melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina objek pemajuan kebudayaan. Komik dan karya visual merupakan bagian dari ekspresi budaya yang layak dijaga keberlangsungannya.
Sementara Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif memberikan mandat agar pemerintah membangun ekosistem ekonomi kreatif melalui pengembangan talenta, akses pembiayaan, pemasaran, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga kolaborasi lintas sektor.
Sayangnya, undang-undang sering kali lebih rajin dibacakan dalam seminar daripada diwujudkan dalam kehidupan para kreator.
Komikus tidak membutuhkan tepuk tangan sebanyak mereka membutuhkan pasar yang sehat.
Mereka tidak sekadar memerlukan festival, tetapi juga distribusi. Tidak hanya lomba, tetapi perlindungan hak cipta. Tidak cukup pelatihan, tetapi investasi yang berani mempercayai cerita lokal.

Direktur SMB Holdings, Park Gun Yong, mengatakan kekuatan bangsa modern kini bukan hanya terletak pada teknologi dan industri manufaktur, melainkan pada kemampuan menghasilkan konten yang mampu berbicara kepada dunia.
“K-Content dicintai masyarakat dunia. Namun karya bagus saja tidak cukup. Konten harus terhubung dengan industri lain agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar,” ujar Park.
Pernyataan itu layak menjadi bahan renungan. Korea Selatan membangun industri hiburannya selama puluhan tahun melalui kebijakan negara, investasi swasta, pendidikan, perlindungan hak cipta, dan promosi global. Hasilnya, dunia mengenal Korea bukan hanya karena mobil atau telepon genggamnya, tetapi juga karena cerita-ceritanya.
Indonesia sesungguhnya memiliki bahan baku yang jauh lebih kaya. Cerita rakyat dari Sabang sampai Merauke. Mahabharata versi Jawa dan Bali. Hikayat Melayu. Kisah kerajaan Nusantara. Tradisi lisan. Mitos. Mistisisme. Horor. Semua tersedia melimpah.
Yang sering tidak tersedia hanyalah keberanian untuk percaya bahwa cerita Indonesia pantas menjadi milik dunia.
Ketua Asosiasi Kritikus dan Webtoon Korea, Park Se Hyun, bahkan mengaku sengaja mengajak para kreator Korea menjelajahi desa, museum, dan masjid di Indonesia agar mereka memahami kehidupan masyarakat secara langsung.
Bagi mereka, inspirasi bukan dicari di ruang rapat, melainkan di jalanan. Ia menilai kekuatan webtoon bukan terutama pada gambar yang indah, melainkan pada cerita yang membuat pembaca merasa dekat dengan tokohnya.”Indonesia memiliki keberagaman budaya yang luar biasa. Itulah kekuatan yang bisa melahirkan karya kelas dunia,” kata Park.
Editor E-Jong News, Lee Chul Ho, bahkan mengaku jatuh hati pada horor Indonesia. Menurutnya, kekayaan legenda Nusantara menghadirkan rasa takut yang berbeda dari negara lain.
Di situlah satir itu kembali menemukan rumahnya. Orang Korea datang untuk belajar tentang Indonesia.Sementara sebagian dari kita masih sibuk bertanya apakah cerita lokal cukup menarik untuk dijual.
Barangkali pertanyaan yang benar bukanlah apakah dunia mau membaca cerita Indonesia. Melainkan, apakah bangsa ini sendiri masih percaya kepada cerita yang lahir dari tanahnya.
Jika pemerintah konsisten menjalankan amanat undang-undang, industri membuka ruang yang adil bagi kreator lokal, platform digital memberikan panggung yang setara, dan masyarakat mulai mencintai karya anak bangsanya sendiri, maka webtoon Indonesia bukan sekadar akan menjadi tren sesaat.
Ia dapat menjelma menjadi duta kebudayaan, penggerak ekonomi kreatif, sekaligus bukti bahwa bangsa besar bukan hanya pandai mengimpor cerita. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu membuat dunia menunggu bab berikutnya dari kisah yang ditulis oleh anak-anak negerinya sendiri.







