ENTERTAIN

CLBK: Ketika Cinta Kakek-Nenek Dipoles Menjadi Nostalgia, Namun Gagal Melahirkan Kejutan

12
×

CLBK: Ketika Cinta Kakek-Nenek Dipoles Menjadi Nostalgia, Namun Gagal Melahirkan Kejutan

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – Industri film Indonesia tampaknya sedang gemar membuka kembali lemari kenangan. Setelah berbagai kisah cinta remaja diperas hingga tetes terakhir, kini giliran romansa usia senja yang diangkat ke layar lebar melalui CLBK (Cinta Lama Babak Kedua), produksi MIR Productions yang dijadwalkan tayang mulai 2 Juli 2026.

Premisnya memang terdengar segar. Bukan lagi soal remaja yang galau karena pesan singkat tak dibalas, melainkan dua manusia renta yang dipertemukan kembali oleh waktu, setelah puluhan tahun memendam luka dan kenangan. Sebuah gagasan yang sebenarnya memiliki ruang luas untuk melahirkan drama yang matang sekaligus reflektif.

Sayangnya, di tengah harapan itu, CLBK lebih banyak berjalan di jalur yang aman. Ia bukan film yang buruk. Akting para pemain senior mampu menopang cerita, tetapi naskahnya terasa terlalu berhati-hati sehingga gagal menghadirkan kejutan yang benar-benar membekas. Film ini ibarat secangkir teh hangat di sore hari—nikmat diminum, namun rasanya cepat berlalu tanpa meninggalkan aroma yang lama dikenang.

Disutradarai sekaligus ditulis Ivander Tedjasukmana, film ini mempertemukan dua legenda perfilman Indonesia, Slamet Rahardjo dan Widyawati, sebagai Abi dan Sita. Keduanya adalah mantan kekasih yang dipisahkan keadaan, lalu dipertemukan kembali ketika usia tak lagi muda.

Pertemuan itu justru menyeret konflik lintas generasi. Rencana pernikahan cucu mereka, Raka dan Ambar, berubah menjadi arena tarik-menarik dendam masa lalu. Luka yang selama puluhan tahun dikubur, rupanya belum benar-benar menjadi sejarah.

Chemistry Slamet Rahardjo dan Widyawati menjadi denyut utama film ini. Pengalaman panjang keduanya membuat dialog terasa alami tanpa perlu banyak dramatisasi. Bahkan ketika cerita mulai kehilangan tenaga, kualitas akting mereka tetap mampu menjaga emosi penonton.

Adegan kilas balik era 1970-an yang diperankan Yusuf Mahardhika dan Gisellma Firmansyah cukup memberi warna, meski lagi-lagi tidak menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru. Formula nostalgia dipakai sebagaimana mestinya: rapi, manis, tetapi cukup mudah ditebak.

Sintya Marisca sebagai Ambar dan Iskak Khivano sebagai Raka juga tampil meyakinkan sebagai pasangan muda yang harus menanggung dosa percintaan generasi sebelumnya. Konfliknya relevan, meski penyelesaiannya terasa terlalu nyaman untuk ukuran drama keluarga.

Deretan pemain seperti Sarah Sechan, Kiki Narendra, Iyang Dharmawan, Febry Khey, hingga Annisa Kaila turut mengisi ruang cerita dengan baik, walau sebagian karakter hadir sekadar menjadi pelengkap alur.
Dalam konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (26/6/2026), Ivander mengaku naskah CLBK telah tersimpan hampir sepuluh tahun sebelum akhirnya diproduksi.

“Film ini sudah lama tersimpan dalam library saya. Hampir sepuluh tahun baru mendapat kesempatan diproduksi,” ujarnya.
Ia juga mengaku mendapat pengalaman berharga mengarahkan dua aktor senior sekaligus.

“Diberi arahan sedikit saja mereka langsung paham. Saya justru belajar banyak dari Pak Slamet Rahardjo dan Ibu Widyawati.”
Sementara itu, Co-Producer sekaligus Founder MIR Productions, Vladimir Rama, menyebut premis film ini berbeda dari kebanyakan film Indonesia.

Pernyataan itu memang tidak sepenuhnya keliru. Tokoh utama yang sudah memasuki usia senja memang masih jarang menjadi pusat cerita perfilman nasional. Namun, sebuah premis yang menarik bukanlah jaminan lahirnya film yang istimewa. Pada akhirnya, yang diingat penonton bukan sekadar ide, melainkan bagaimana ide itu diolah menjadi pengalaman sinematik yang menggugah.

Di sinilah CLBK terasa setengah langkah. Film ini cukup menghibur, cukup hangat, cukup emosional, tetapi berhenti di kata “cukup”. Ia tidak menghadirkan adegan yang benar-benar mengguncang, dialog yang akan terus dikutip penonton, ataupun konflik yang mampu menancap lama dalam ingatan.

Meski demikian, film ini tetap memiliki pasar. Penonton yang menyukai drama keluarga ringan dan kisah tentang kesempatan kedua dalam cinta kemungkinan akan menikmati perjalanan Abi dan Sita. Terlebih, komedi-komedi kecil yang disisipkan membuat suasana tidak tenggelam dalam kesedihan.

Barangkali memang demikian watak CLBK. Ia tidak berambisi menjadi mahakarya. Ia hanya ingin mengingatkan bahwa cinta tidak mengenal usia, sementara manusia sering kali terlalu terlambat berdamai dengan masa lalunya.

Dan mungkin, di situlah letak satirnya. Kita hidup di zaman yang terus memuja kisah-kisah baru, tetapi berkali-kali justru kembali menjual nostalgia. Sebab industri perfilman, sama seperti kehidupan, tahu bahwa kenangan adalah komoditas yang selalu menemukan pembelinya—meski tidak selalu melahirkan karya yang benar-benar baru.