ENTERTAIN

Blockchain Mengetuk Pintu Bioskop: Ketika SHOW Token Mengajak Film Indonesia Keluar dari Ruang Proposal

39
×

Blockchain Mengetuk Pintu Bioskop: Ketika SHOW Token Mengajak Film Indonesia Keluar dari Ruang Proposal

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – Di negeri yang lebih sering memproduksi proposal pendanaan daripada film yang benar-benar selesai diproduksi, kedatangan teknologi blockchain ke industri perfilman terdengar seperti kabar dari masa depan.

Ada yang menyambutnya sebagai revolusi, ada pula yang memilih menghitung risiko sambil memastikan dompet digitalnya tidak sekadar dipenuhi harapan.

SHOW Token resmi memperkenalkan ekosistem hiburan berbasis blockchain melalui peluncuran bertajuk “Bridging Crypto and Entertainment: Invest Beyond the Screen” di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Misinya terdengar ambisius: mempertemukan sineas, investor, dan penonton dalam satu ruang digital yang menjanjikan pendanaan lebih terbuka, transparan, sekaligus mendunia.

Boleh jadi inilah babak baru industri perfilman Indonesia. Sebab selama ini, jalan menuju layar lebar sering kali lebih ditentukan oleh tebalnya isi rekening dibanding kuatnya isi skenario. Banyak naskah yang mati muda, bukan karena buruk, melainkan karena modalnya kehabisan napas sebelum kamera sempat menyala.

CEO SHOW Token, Akshay Melwani, menilai Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan cerita. “Indonesia memiliki kekayaan cerita yang luar biasa. Tantangannya adalah akses menuju pasar internasional.”

Kalimat itu terasa seperti cermin yang memantulkan wajah industri kreatif nasional. Negeri ini memang kaya legenda, budaya, dan kisah yang tak pernah habis ditulis. Ironisnya, yang lebih cepat menyeberangi lautan justru drama dari negeri lain, sementara cerita lokal masih sibuk mencari ongkos perjalanan.

Melalui teknologi blockchain berbasis Ethereum ERC-20, SHOW Token menawarkan sistem pendanaan yang diklaim lebih transparan melalui mekanisme smart contract. Semua transaksi tercatat, semua proses dapat ditelusuri, dan setiap pihak diharapkan memperoleh haknya sesuai kesepakatan.

Setidaknya, blockchain berusaha menghapus satu penyakit lama: ruang gelap dalam urusan pembiayaan. Sebab bukan hanya film yang mengenal istilah “plot twist”, laporan keuangan pun kadang memiliki bakat serupa.

Secara hukum, pengembangan ekosistem digital semacam ini berjalan dalam koridor Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang memperkuat pengaturan aset keuangan digital di Indonesia.

Sementara bagi industri perfilman, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman menegaskan bahwa negara berkewajiban mendorong tumbuhnya industri film nasional sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan dan ekonomi kreatif.

Dengan kata lain, inovasi dipersilakan berlari. Hanya saja, lintasan itu tetap diberi pagar bernama regulasi.

SHOW Token menghadirkan lima pilar ekosistem, mulai dari SHOW Movie, SHOW AI & Marketplace, SHOW Capital & Index, SHOW Token, hingga SHOW Kids. Penonton bukan lagi sekadar membeli tiket, tetapi ditawari kesempatan menjadi bagian dari perjalanan sebuah film melalui konsep Decentralized Executive Producing.

Di atas kertas, gagasan itu terdengar romantis. Penonton diajak merasa memiliki karya yang mereka dukung. Namun sejarah mengajarkan, memiliki nama di daftar pendukung jauh lebih mudah daripada memiliki hak menentukan arah cerita.

Perusahaan juga menyiapkan dana investasi sebesar 100 juta dolar Amerika Serikat untuk mendukung industri kreatif Asia Tenggara dengan Indonesia sebagai prioritas. Langkah itu mulai diwujudkan melalui keterlibatan sebagai Executive Producer film Cerita Lila, yang diklaim berhasil meraih sekitar 500 ribu penonton pada pekan pertama, disusul proyek Sihir Tanah Kubur dan puluhan film lainnya.

Chief Operating Officer SHOW Token, Joshua Khubani, menegaskan bahwa tujuan perusahaan bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan membangun sistem pendanaan baru yang lebih efisien bagi para kreator.

Di sinilah pertaruhannya. Sebab teknologi boleh secanggih apa pun, tetapi film tetap dinilai dari cerita yang mampu menyentuh penontonnya, bukan dari rumitnya algoritma yang menopang pendanaannya.

Al-Qur’an mengingatkan dalam QS. Al-Hasyr ayat 18, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Ayat itu seolah menjadi pengingat bahwa setiap inovasi perlu dibangun dengan tanggung jawab, bukan sekadar euforia. Blockchain mungkin mampu mencatat setiap transaksi tanpa cela, tetapi ia belum bisa menuliskan kejujuran, integritas, dan kualitas sebuah karya.

Tiga hal itulah yang pada akhirnya menentukan apakah sebuah film hidup dalam ingatan penonton, atau sekadar menjadi data yang tersimpan rapi di dalam jaringan.

SHOW Token kini telah membuka pintu baru bagi perfilman Indonesia. Tinggal satu pertanyaan yang menunggu dijawab oleh waktu: apakah ini benar-benar babak baru bagi industri kreatif nasional, atau hanya episode lain dari kisah panjang manusia yang selalu percaya bahwa teknologi dapat menyelesaikan semua persoalan, bahkan ketika persoalan utamanya bukan mesin, melainkan keberanian untuk melahirkan karya yang jujur.