Jakarta, swarabhayangkara – Heboh, serombongan emak-emak menggeruduk Coto vs Konro dibilangan Setiabudi, Jakarta Selatan. Mereka mereka tumpah ruah dan nampak antusias serta penuh semangat hingga membuat para jurnalis dan KOl agak kebingungan dengan fenomena itu.
Usut punya usut, ternyata mereka datang berjejal karena mau mengikuti press screening film Coto vs Konro yang bergenre drama komedi. Tapi bisa jadi juga karena tergerak dengan iming-iming makan coto gratis selepas menonton film itu. Bukankah bani enak-emak kuliners handal?
Ini menjadi menarik juga sebagai strategi marketing film yang dibesut dan melibatkan cast serta crew dari daerah. Sebuah keberanian yang patut dipuji.
Sayangnya film yang digarap sekitar 2017 baru ditayangkan di 2025 ini hingga banyak hal yang pada akhirnya mengurangi keindahan realitas film ini. Jadi terkesan agak usang. Bahkan beberapa cast dan crewnya sudah berpulang ke Rahmatullah sebelum film ini ditayangkan. Bisa jadi disebabkan tata edar dan distribusi perfilman kita yang memang masih sengkarut.
Dua kuliner legendaris Makassar, Coto dan Konro, menjadi inspirasi utama dalam film komedi bertajuk Coto vs Konro. Film ini mengisahkan persaingan sengit dua keluarga penjaja kuliner ikonik yang berjuang untuk meraih gelar “Penguasa Kuliner Makassar”.

Disutradarai oleh Irham Acho Bahtiar dan ditulis oleh Ferdy K., film ini menggabungkan cerita ringan dengan nilai budaya lokal yang kental. Dengan humor segar dan adegan yang mengharukan, Coto vs Konro menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga integritas dalam berbisnis dan bersaing secara jujur, meskipun di tengah persaingan ketat.
Film ini menghadirkan deretan aktor dan aktris berbakat, termasuk Luthfi Sato, Awaluddin Tahir, Aty Kodong, Musdalifah Basri, dan Febby Putri Nilam Cahyani. Para pemeran sukses menghidupkan karakter-karakter yang terlibat dalam konflik penuh trik nakal namun tetap menghibur.
Selain menyajikan humor, Coto vs Konro juga menampilkan keindahan kota Makassar serta kelezatan kuliner khasnya, yang pastinya akan menggugah selera penonton.
Rencananya film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 6 Februari 2025. Dengan tema yang unik dan cerita yang menghibur. Sayang penggarapannya serba nanggung. Mungkin karena terpasung budget yang terbatas hingga ruang gerak sang sutradara jadi tak leluasa.

Contohnya ke-eksotikan Makassar yang kurang tereksplorasi dengan utuh. Padahal kalau ini digarap sempurna penonton akan terpuaskan dengan sajian gambar kota Makassar yang memesona, semisal Pantai Losari, Benteng Rotterdam, Trans Studio Mal dan sebagainya.
Keunikan dan cita rasa Coto dan Konro pun tidak tereksplor dengan ajeg. Padahal kuliner ini bukan hanya jadi daya tarik, tapi lebih dari itu biulsa menjadi kekuatan yang mampu membetot orang untuk menyambangi bioskop semisal yang disajikan film Chocolat, Rahasia Rasa, Filosopi Rasa atau Ratatouille.
Kurangnya ekspose cita rasa coto dan konro karena penulis dan sutradara cuma menjadikan dua kuliner itu sebagai perekat dari rangkaian kisah yang ada. Ngomong gampangnya cuma sekedar tempelan belaka dan bukan menjadi ruh dalam cerita secara keseluruhan. Satu pilihan yang patut disayangkan meski tetap harus dihormati pilihan mereka.
Yang juga patut disayangkan adalah keduanya juga tidak memanfaatkan kebiduan seorang Aty Kodong. Padahal banyak yang tahu kalau perempuan asal Selayar, Sulsel ini juara Juara Dua Kontes Dangdut Academy 2014. Untungnya Aty bermain bagus disini. Kalau soal ekting pemain lain, jam terbanglah yang akan membesarkan mereka.
NMC







