NASIONAL

Doa Menggema, Bencana Menyisa: Akhir Tahun Diringkas dalam Dzikir, Awal Tahun Diserahkan pada Langit

197
×

Doa Menggema, Bencana Menyisa: Akhir Tahun Diringkas dalam Dzikir, Awal Tahun Diserahkan pada Langit

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Di tengah deretan bencana yang merenggut ribuan nyawa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, negara—melalui Menteri Agama Nasaruddin Umar—kembali menunaikan ritual tertuanya: mengajak umat berdoa.

Ajakan itu disampaikan dalam muhasabah malam akhir 2025 dan awal 2026 bertajuk Indonesia Berdzikir di Masjid Agung At-Tin, Jakarta Timur, Rabu (31/12/2025).

“Pada malam ini, kita menaruh perhatian dan doa untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” ujar Menag, menegaskan bahwa langit masih menjadi alamat utama harapan ketika bumi tak kunjung ramah.

Menag menyebut ribuan jiwa telah “dipanggil Allah SWT”, sembari mendoakan agar para korban wafat dalam keadaan husnul khatimah dan tergolong syahid. Sebuah penghiburan teologis yang menenangkan batin, meski belum tentu menenangkan tenda-tenda pengungsian yang bocor, dapur umum yang menipis, dan keluarga korban yang masih bertanya: setelah doa, apa lagi?

Dalam refleksi akhir tahun itu, Menag juga mengajak umat meningkatkan kualitas syukur. Menurutnya, syukur tidak cukup dilafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam kepedulian dan berbagi. Sebuah nasihat luhur, meski ironisnya sering kali terdengar paling nyaring dari mimbar, bukan dari kebijakan.

“Syukur tidak menunggu kaya,” tutur Menag. Sebuah kalimat bijak yang tampaknya ditujukan kepada jamaah—bukan kepada struktur kekuasaan yang justru memiliki kapasitas paling besar untuk mengubah nasib korban bencana, selain sekadar menyebutnya sebagai takdir.
Menag mengutip janji Tuhan, la-in syakartum la-aziidannakum, seraya menjelaskan bahwa tambahan nikmat bukan hanya materi, tetapi kelapangan hati.

Barangkali karena materi memang sering kali datang belakangan, atau bahkan tak pernah sampai, sementara kelapangan hati diharapkan menutup segala kekurangan.

Di akhir sambutan, Menag memohon doa agar pengurus Masjid Agung At-Tin diberi kekuatan untuk terus melayani umat dan menjaga masjid sebagai pusat ibadah serta kebersamaan. Doa kembali mengalir, seperti tahun-tahun sebelumnya—konsisten, khusyuk, dan nyaris selalu tanpa catatan evaluasi.

Acara Indonesia Berdzikir ini turut dihadiri Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis, Pimpinan Pengurus Masjid Agung At-Tin Mustaghfirin Mu’in, serta ribuan jamaah yang memadati masjid. Dzikir menggema, air mata jatuh, dan tahun pun berganti.
Sementara itu, di wilayah bencana, para korban masih menunggu satu hal yang tak bisa diturunkan dari langit: kehadiran nyata negara, yang tak hanya fasih berdoa, tetapi juga sigap bekerja—sebelum bencana berikutnya kembali disebut sebagai kehendak Tuhan.