NASIONAL

Enam Belas Pejabat Dilantik: Ketika Kursi Diharapkan Akhirnya Bertemu Orang yang Tepat

199
×

Enam Belas Pejabat Dilantik: Ketika Kursi Diharapkan Akhirnya Bertemu Orang yang Tepat

Sebarkan artikel ini

 

swarabhayangkara.com, Jakarta — Kementerian Agama kembali menggelar sebuah ritual kenegaraan yang selalu sarat harapan: pelantikan pejabat.

Selasa (30/12/2025), Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik 16 pejabat eselon II dan dua pejabat eselon III—sebuah momen yang, setidaknya di atas kertas, menandai babak baru menuju kinerja yang nyaris sempurna: orang-orang yang kapabel, ditempatkan di kursi yang seharusnya.

Di Aula Kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, sumpah jabatan kembali diucapkan. Kata-kata suci mengudara, integritas disebut, profesionalisme ditegaskan, dan publik—seperti biasa—diminta menaruh harapan besar.

Terlalu besar, mungkin. Bahkan Menteri Agama sendiri mengingatkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap pejabat Kemenag kerap setara malaikat, meski yang dilantik tetaplah manusia dengan godaan duniawi yang lengkap.

“Hindari hal-hal subhat, apalagi yang tercela,” pesan Menag. Sebuah kalimat sederhana, namun terasa seperti pagar tinggi di tengah ladang ranjau birokrasi yang selama ini kerap membuktikan bahwa jabatan sering kali lebih cepat mendidik gaya hidup ketimbang etos kerja.

Pelantikan ini disebut sebagai upaya memperkuat kinerja kelembagaan. Nama-nama bergelar doktor, magister, sertifikasi pengawasan, dan pengalaman panjang kini resmi menduduki posisi strategis: dari kepala biro, direktur, inspektur, hingga kepala kantor wilayah.

Secara administratif, susunannya nyaris tanpa cacat. Curriculum vitae mereka mengesankan; publikasi akademik, pengalaman struktural, dan rekam jejak keagamaan tersaji rapi.

Namun publik belajar dari sejarah: gelar panjang tidak selalu berbanding lurus dengan keberanian mengambil keputusan yang benar. Sertifikat integritas tidak otomatis kebal terhadap kompromi. Dan kursi empuk sering kali lebih cepat melunakkan prinsip daripada pidato pelantikan meluruskannya.

Menteri Agama menegaskan pentingnya bekerja tanpa pamrih, menjadi teladan, dan mewariskan sejarah pengabdian yang baik. Sebuah pesan luhur—sekaligus pengingat keras—bahwa jabatan di Kementerian Agama bukan sekadar posisi struktural, melainkan ujian moral harian yang diawasi publik, media, dan realitas sosial yang tak bisa dibungkam dengan seremoni.

Penempatan para pejabat ini diharapkan menjadi bukti bahwa orang yang tepat akhirnya berada di tempat yang tepat, bukan sekadar tepat relasinya, tepat waktunya, atau tepat kepentingannya. Sebab jika sistem seleksi benar-benar bekerja, maka yang lahir bukan hanya rotasi nama, melainkan perubahan cara kerja.

Kini bola berada di tangan para pejabat yang dilantik. Kinerja sempurna bukan lagi slogan, melainkan tuntutan. Publik tidak menunggu pidato lanjutan, tetapi keputusan yang adil, anggaran yang bersih, layanan yang manusiawi, dan keberanian berkata “tidak” pada praktik lama yang selama ini diam-diam dilestarikan.

Pelantikan telah selesai. Tepuk tangan mereda. Dan seperti biasa, ujian sesungguhnya baru dimulai setelah foto resmi dipajang di dinding kantor.

Berikut nama-nama pejabat yang dilantik:

Eselon II

  1. Dr. H. Muhammad Yunus, S.Ag., M.A g., menjadi Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik dan Kemahasiswaan Institut Agama Islam Negeri Bone;
  2. Dr. I Nyoman Dayuh, S.Ag., M.Si., menjadi Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar;
  3. Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag., M.M., Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali;
  4. Dr. Junaidin, S.Ag., M.A., menjadi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah;
  5. Dr. H. Musta’in Ahmad, S.H., M.H., menjadi Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta;
  6. H. Nugraha Stiawan, S.Sos.I, M.Ak., CGCAE., menjadi Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto;
  7. Dr. H. Muchlis Muhammad Hanafi, Lc., M.A., menjadi Direktur Penerangan Agama Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama;
  8. M. Arfi Hatim, M.Ag., menjadi Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pembangunan Bidang Agama Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Agama;
  9. H. Ahmadun, S.Ag., M.Pd., menjadi Inspektur I Inspektorat Jenderal Kementerian Agama;
  10. Dr. Khoirul Huda Basyir Habibullah, S.Ag., M.Si., menjadi Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Agama;
  11. Kastolan, S.Pd., M.Si., CGCAE., menjadi Kepala Biro Perencanaan dan Penganggaran Sekretariat Jenderal Kementerian Agama;
  12. Muhamad Iqbal, S.E., M.M., menjadi Inspektur V Inspektorat Jenderal Kementerian Agama;
  13. Dr. H. Wahid Arbani, S.Ag., M.S.I., menjadi Kepala Biro Umum, Akademik, Perencanaan, dan Keuangan Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan;
  14. Ni Wayan Pujiastuti, S.H., M.Si., menjadi Kepala Biro Akademik, Keuangan dan Umum Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja;
  15. Ida Bagus Ketut Drana Arimbawa, S.Pd., M.Si., menjadi Direktur Urusan Agama Hindu Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama;
  16. Dr. H. M. Arsyad Ambo Tuo, M.Ag., menjadi Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan Universitas Islam Negeri Palopo.

Eselon III

  1. Dr. Adimin Diens, S.Ag., M.Pd., menjadi Kepala Bidang Harmonisasi Umat Beragama Pusat Kerukunan Umat Beragama Sekretariat Jenderal Kementerian Agama
  2. Akmaldiya, S.E., menjadi Kepala Bagian Penatausahaan, Penghapusan, dan Pengendalian Barang Milik Negara Biro Keuangan dan Barang Milik Negara Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (Is)