swarabhayangkara.com, Tasikmalaya —Kiprah H. Mulyadi dalam bidang pertanian, ketahanan pangan, sosial kemasyarakatan, seni, dan budaya mendapat apresiasi dari Majelis Adat Sunda. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, H. Mulyadi menerima Anugerah Piagam Penghargaan Budaya & Sosial Kemasyarakatan.
Penghargaan tersebut diberikan pada Selasa, 18 Agustus 2026, dalam kegiatan yang berlangsung di Taman Wisata Batu Ampar, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.
Agenda tersebut sekaligus menjadi ruang silaturahmi antara tokoh masyarakat, penggiat budaya, pelaku sosial, dan berbagai elemen masyarakat.
H. Mulyadi dinilai memiliki konsistensi dalam menjalankan aktivitas yang berkaitan dengan pertanian, ketahanan pangan, sosial kemasyarakatan, serta pelestarian seni dan budaya.
Dalam keterangannya, Mulyadi menyampaikan bahwa penghargaan yang diterimanya memiliki makna khusus karena berkaitan dengan kiprahnya di bidang pertanian dan ketahanan pangan.
Ia mengatakan, program pertanian yang dijalankan tidak hanya berfokus di Jawa Barat, tetapi mulai dikembangkan di sejumlah daerah lain di Indonesia.
“Yang kita jalankan ada padi, jagung dan kedelai. Kita tidak hanya di Jawa Barat, sekarang juga sedang tanam di Sumatera Utara, Jambi, Lampung, Banyuwangi dan akan dikembangkan ke daerah lainnya,” ujar Mulyadi.
Menurutnya, pengembangan kedelai menjadi salah satu perhatian penting karena kebutuhan nasional masih cukup besar dan sebagian masih dipenuhi melalui impor. km
Karena itu, pengembangan produksi kedelai di berbagai daerah dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong Indonesia menuju swasembada pangan.

Mulyadi menyebut, rencana pengembangan tersebut antara lain dilakukan melalui penanaman kedelai di Sumatera Utara yang ditargetkan mulai berjalan pada awal September.
Program serupa juga dipersiapkan di Lampung, Riau, Jambi, Pulau Jawa hingga Jawa Timur.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan ketahanan pangan dan pertanian di Indonesia, bukan hanya di satu daerah,” katanya.
Budaya Menjadi Fondasi Pembangunan
Selain ketahanan pangan, rangkaian kegiatan tersebut juga menyoroti pentingnya budaya sebagai bagian dari pembangunan bangsa.
Mulyadi menilai pembangunan tidak semestinya hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memiliki perspektif budaya dan lingkungan.
Menurutnya, pengalaman sejumlah negara maju menunjukkan bahwa kemajuan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan lingkungan.
“Semua pembangunan harus berwawasan budaya dan berwawasan lingkungan. Budaya harus tetap dijaga karena menjadi bagian dari identitas dan kekuatan sebuah bangsa,” ujarnya.
Ia juga menilai keberadaan komunitas dan kampung adat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi lokal di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Kampung adat, kata dia, tidak sekadar menjadi tempat tinggal masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertahankan adat, tradisi, nilai sosial, dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam konteks budaya Sunda, nilai-nilai seperti silih asah, silih asih, dan silih asuh dinilai tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern.
Silih asah mengandung semangat untuk saling berbagi pengetahuan, silih asih menekankan kepedulian dan kasih sayang, sementara silih asuh mencerminkan sikap saling membimbing dan menjaga.
Dorong Generasi Muda Kenali Budaya
Kegiatan penghargaan tersebut juga menjadi momentum untuk mengajak generasi muda agar tidak meninggalkan budaya lokal di tengah derasnya perkembangan digital.
Mulyadi mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Namun, menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan dukungan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Ia menilai kampung adat menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kelestarian adat dan tradisi. Keberadaan masyarakat hukum adat juga perlu mendapat perhatian agar nilai-nilai budaya tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Dalam kesempatan tersebut, Mulyadi juga menyinggung pentingnya memberikan ruang kepada para penggiat budaya untuk terlibat dalam kegiatan kebangsaan, termasuk peringatan Hari Kemerdekaan.

Menurutnya, kegiatan budaya dan momentum kemerdekaan dapat menjadi sarana mempertemukan berbagai elemen masyarakat sekaligus memperkuat rasa kebangsaan.
Pemberian Anugerah Piagam Penghargaan Budaya & Sosial Kemasyarakatan kepada H. Mulyadi diharapkan tidak berhenti sebagai penghargaan simbolis. Apresiasi tersebut diharapkan menjadi pemicu untuk terus memperluas pengabdian di bidang pertanian, ketahanan pangan, sosial, seni, dan budaya.
Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya dilakukan melalui jalur pemerintahan dan sektor ekonomi, tetapi juga melalui kerja nyata masyarakat dalam menjaga pangan, lingkungan, kebersamaan, serta warisan budaya.
Dengan semangat kemerdekaan dan nilai-nilai budaya Sunda, kegiatan di Taman Wisata Batu Ampar diharapkan dapat memperkuat kepedulian terhadap budaya lokal sekaligus mendorong semakin banyak masyarakat mengambil peran dalam pembangunan berbasis komunitas.
Ketua Majelis Adat Sunda, DR. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN, Inspektur Jenderal Polisi (Purn.), turut menekankan bahwa budaya merupakan salah satu fondasi penting bagi kemajuan sebuah bangsa.
Menurut Anton, negara maju tidak selalu meninggalkan tradisi dan budaya. Sebaliknya, sejumlah negara maju justru tetap mempertahankan kebudayaan sebagai bagian dari identitas masyarakatnya.
“Mereka menjadi negara 10 besar di dunia dan mereka tetap menjaga alam. Negara-negara yang maju pun banyak yang berlandaskan budaya,” ujar Anton.
Ia mencontohkan Inggris, Jepang dan Jerman yang hingga kini tetap mempertahankan budaya di tengah kemajuan ekonomi, teknologi dan pembangunan.
“Lihat Inggris, budaya masih dipelihara. Jepang, budaya masih dipelihara. Jerman juga masih memelihara budaya,” katanya.
Penghargaan untuk Kiprah H. Mulyadi
Penerimaan award oleh H. Mulyadi menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Penghargaan itu sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap sosok yang selama ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan pertanian, sosial kemasyarakatan, seni dan budaya.
Semangat yang dibawa H. Mulyadi dinilai sejalan dengan gagasan pembangunan berbasis masyarakat, yakni pembangunan yang tidak hanya mengejar aspek ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta keberadaan budaya lokal.
Dalam konteks tersebut, penghargaan bukan sekadar simbol, tetapi diharapkan menjadi penyemangat agar kiprah dan pengabdian kepada masyarakat terus dilanjutkan.
Anton menilai, bangsa yang tidak memiliki wawasan budaya akan menghadapi persoalan serius dalam mempertahankan identitasnya. “Apabila bangsa tidak berwawasan budaya, itu berarti bangsa itu akan menuju ke kehilangan jati dirinya,” tegas Anton.
Hormati Budaya di Mana Bumi Dipijak
Anton juga menyoroti pentingnya penghormatan terhadap budaya lokal. Ia memberikan contoh seorang pejabat yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, tetapi ketika berada di Jawa Barat mengenakan iket Sunda.
“Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung,” ungkap Anton.
Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk sederhana dari penghormatan terhadap budaya masyarakat setempat.
“Padahal beliau ini asli dari Kupang, tapi di sini beliau memakai iket Sunda. Ini penghargaan yang luar biasa,” ujarnya.
Anton juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah melakukan hal serupa ketika berada di Klaten dengan mengenakan iket khas daerah tersebut.
“Saya juga dulu sama. Ketika di Klaten, saya memakai iket Klaten, karena menghormati budaya,” tuturnya. Budaya dan Pembangunan Harus Berjalan Bersama
Kegiatan di Taman Wisata Batu Ampar diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran masyarakat bahwa pelestarian budaya, lingkungan dan ketahanan pangan merupakan bagian dari pembangunan nasional.
Penghargaan kepada H. Mulyadi juga menjadi simbol bahwa kerja-kerja masyarakat di bidang pertanian, sosial, lingkungan, seni dan budaya memiliki nilai penting dalam membangun bangsa.
Di tengah modernisasi, masyarakat diingatkan untuk tidak kehilangan akar budaya. Kemajuan teknologi dan ekonomi dapat terus berkembang, namun harus berjalan berdampingan dengan upaya merawat tradisi dan kearifan lokal.
Dengan semangat kemerdekaan, kegiatan tersebut diharapkan mampu mendorong semakin banyak masyarakat mengambil peran dalam pembangunan berbasis komunitas.
H. Mulyadi menerima award sebagai bentuk apresiasi atas kiprah dan pengabdiannya, sementara pesan pelestarian budaya menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa harus tetap berpijak pada jati diri dan kearifan lokal.







