NASIONAL

Imlek 2577 Kongzili: Doa Kedamaian di Tengah Negeri yang Masih Belajar Adil

209
×

Imlek 2577 Kongzili: Doa Kedamaian di Tengah Negeri yang Masih Belajar Adil

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kepada umat Konghucu dan seluruh warga bangsa yang merayakan. Ucapan tersebut disampaikan atas nama Kementerian Agama dan pribadi, Senin (16/2/2026), sebagai bentuk perhatian dan kebersamaan dalam perayaan keagamaan.

“Saya Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia, atas nama Kementerian Agama dan pribadi menyampaikan selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, gong he xin xi, kong he sin si wan she ru yi, kepada umat Konghucu dan warga bangsa yang merayakan. Semoga tahun yang baru ini membawa kedamaian, kesehatan, kebijaksanaan, dan kesejahteraan bagi kita semuanya,” ujar Menag di Jakarta.

Ucapan itu terdengar hangat dan penuh harapan—sebagaimana lazimnya setiap pergantian tahun. Di setiap Imlek, doa-doa tentang kedamaian dan kesejahteraan kembali dipanjatkan, seolah negeri ini selalu siap membuka lembaran baru, meski halaman lama belum sepenuhnya selesai dibaca.

Dalam pesannya, Menag menekankan pentingnya nilai keadilan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia.

“Keadilan adalah pondasi utama kehidupan berbangsa. Dengan keadilan yang ditegakkan, kemiskinan dapat kita atasi bersama melalui persaudaraan dan kepedulian sosial,” lanjutnya.

Pernyataan itu sulit dibantah. Keadilan memang pondasi. Hanya saja, seperti banyak pondasi lain di republik ini, ia kerap tertutup lapisan retorika yang tebal. Rakyat mendengar kata “keadilan” setiap tahun, tetapi masih menunggu bentuknya yang nyata—yang terasa bukan hanya di podium, melainkan di pasar, di kantor pelayanan, dan di ruang-ruang pengadilan.

Menurut Menag, menghadirkan keadilan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan semangat persaudaraan dan kepedulian sosial. Sebuah ajakan yang mulia—meski publik mungkin bertanya, apakah persaudaraan juga berlaku ketika berhadapan dengan birokrasi, atau hanya hangat dalam seremoni keagamaan?

Imlek 2577 Kongzili diharapkan menjadi momentum memperkuat kebersamaan dan solidaritas. Tahun baru dalam tradisi Tionghoa identik dengan harapan akan rezeki, keberuntungan, dan kehidupan yang lebih baik. Di tengah tantangan ekonomi dan ketimpangan sosial, doa tentang kesejahteraan terasa semakin relevan—dan semakin mendesak.

Indonesia yang majemuk memang membutuhkan lebih dari sekadar toleransi simbolik. Ia memerlukan keadilan yang konsisten, kebijakan yang tidak tebang pilih, serta keberanian untuk memastikan bahwa semua warga, apa pun latar belakangnya, merasakan perlakuan yang setara.

Ucapan selamat Imlek dari pemerintah adalah gestur penting dalam merawat kebinekaan. Namun seperti lampion yang hanya menyala saat malam perayaan, kebersamaan tak boleh redup setelah acara usai.

“Semoga tahun baru Imlek 2577 Kongzili memperkuat persatuan dan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia. Salam kebajikan,” pungkas Menag.

Semoga doa itu tak sekadar menjadi rutinitas tahunan. Sebab di negeri yang kaya perayaan ini, yang paling dirindukan bukan hanya ucapan selamat—melainkan keadilan yang benar-benar datang tepat waktu, tanpa perlu menunggu tahun baru berikutnya.