NASIONAL

“Kas yang Tak Pernah Diambil, Tapi Sudah Terlanjur Dicurigai”

24
×

“Kas yang Tak Pernah Diambil, Tapi Sudah Terlanjur Dicurigai”

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta  Di negeri yang gemar menggantungkan kebenaran pada seutas kabel internet dan sepotong video berdurasi setengah napas, kabar pun menjelma seperti kabut: tampak, tapi tak selalu nyata.  Maka, pada suatu siang di ibu kota, suara resmi itu pun turun dari menara birokrasi—lirih, namun dipaksa tegas.

Kementerian Agama Republik Indonesia, melalui lidah resminya, Thobib Al Asyhar, berdiri di hadapan riuh yang sudah terlanjur gaduh. Ia membawa satu pesan yang, ironisnya, harus diulang di zaman yang mengaku paling cerdas: tidak semua yang viral itu benar.

Katanya, tak pernah ada niat negara untuk menyentuh, apalagi menggenggam, uang kas masjid. Tak ada rencana tersembunyi, tak ada skenario diam-diam. Namun publik, seperti biasa, lebih dulu percaya pada gambar yang diberi teks ketimbang kenyataan yang membutuhkan verifikasi.
Sebuah potret Nasaruddin Umar, yang seharusnya tenang dalam bingkai kehormatan jabatan, dipinjam tanpa izin oleh imajinasi liar. Di bawahnya, disematkan kalimat yang tak pernah diucapkan—seolah kebenaran kini bisa diedit seperti stiker.

Dan kita pun sampai pada babak yang ganjil: ketika hoaks tak lagi sekadar bohong, melainkan diproduksi dengan niat estetika kegaduhan.

“Ini disinformasi,” kata Thobib, dengan nada yang mungkin sudah terlalu sering ia pakai. Sebab di negeri ini, klarifikasi sering kali datang terlambat—setelah kebohongan lebih dulu menjadi keyakinan.

Padahal, urusan kas masjid tetaplah sederhana: ia milik jamaah, dikelola oleh tangan-tangan yang dipercaya, oleh Dewan Kemakmuran Masjid yang bekerja dalam sunyi, tanpa perlu sorotan algoritma. Negara, setidaknya kali ini, memilih berdiri di luar pagar.

Namun satirnya, justru ketika pemerintah tidak ikut campur, publik sibuk menuduh sebaliknya.

Di tengah semua ini, imbauan pun kembali dilontarkan—sebuah nasihat klasik yang terus diulang seperti doa yang tak kunjung diamalkan: periksa sebelum percaya. Tapi di era di mana jempol lebih cepat dari akal, imbauan itu terdengar seperti bisikan di tengah pasar malam.

Begitulah, kebenaran hari ini bukan lagi soal apa yang terjadi, melainkan apa yang paling banyak dibagikan. Dan kita, entah sebagai warga atau sekadar penonton, terus hidup di antara dua hal: fakta yang lelah menjelaskan diri, dan kebohongan yang selalu punya energi untuk tampil lebih meyakinkan.