NASIONAL

Kemenag Luncurkan 16 Program Peaceful Muharam 1448 H, dari Lebaran Yatim hingga Gerakan Bersih Masjid

47
×

Kemenag Luncurkan 16 Program Peaceful Muharam 1448 H, dari Lebaran Yatim hingga Gerakan Bersih Masjid

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Tahun baru Islam kembali tiba. Tidak membawa pesta kembang api yang menerangi langit, tidak pula menghadirkan panggung hiburan yang membuat jalanan macet hingga dini hari.

Muharam datang dengan cara yang lebih sunyi, seperti seorang tua bijak yang mengetuk pintu hati manusia sambil bertanya, “Apa yang sudah kau perbaiki selama setahun terakhir?”

Pertanyaan itu terasa semakin relevan di tengah masyarakat yang sering kali begitu rajin memperdebatkan siapa yang paling saleh, tetapi terkadang lupa bertanya siapa yang paling peduli kepada sesama.

Mungkin karena itulah Kementerian Agama memilih menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah melalui gerakan nasional Peaceful Muharam 1448 H, sebuah rangkaian 16 program yang tidak hanya berbicara tentang ibadah, melainkan juga tentang kemanusiaan, lingkungan hidup, keluarga, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Peluncuran program dilakukan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dalam kegiatan Bimas Islam Talks: Peaceful Muharam 1448 H – Public Expose Kolaborasi Lembaga Filantropi Islam di Aula Utama Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan bahwa Peaceful Muharam harus menjadi momentum menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara langsung.
“Peaceful Muharam harus menjadi ruang untuk menebar maslahat dan menguatkan umat. Karena itu seluruh program yang disiapkan diarahkan agar memberikan dampak sosial yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut seolah menjadi pengingat bahwa agama sejatinya tidak diturunkan untuk dipajang dalam slogan-slogan yang megah. Agama lahir untuk menyentuh kehidupan manusia yang nyata: anak yatim yang membutuhkan uluran tangan, keluarga yang berjuang menjaga keharmonisan, masyarakat yang memerlukan pendidikan, dan lingkungan yang menunggu kepedulian.

Dengan tema “Menebar Maslahat, Menguatkan Umat”, Kemenag menyiapkan berbagai kegiatan yang menyasar beragam lapisan masyarakat.

Mulai dari Lebaran Yatim dan Disabilitas, Gerakan Bersih-Bersih Masjid, 100.000 Khataman Al-Qur’an dan Doa Bersama untuk Bangsa, Muharaman Bersama Gen Z, hingga Nikah Fest dan Islamic Wedding Expo.

Program lainnya meliputi Festival Muharam Internasional, Indonesia Berkiblat, MILFEST 1448 H, RECONNECT, Halal Goes to Campus, serta kolaborasi dalam Halal Brands and Food Expo.

Di tengah berbagai persoalan sosial yang terus bermunculan, program-program tersebut dapat dibaca sebagai upaya mengembalikan fungsi agama ke habitat aslinya: menjadi sumber solusi, bukan sekadar sumber perdebatan.
Sebab bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang moral. Yang sering kurang adalah kemampuan mengubah nilai-nilai moral itu menjadi tindakan nyata.

Konstitusi Indonesia sendiri memberikan landasan kuat bagi semangat tersebut. Pembukaan UUD 1945 menegaskan tujuan negara untuk memajukan kesejahteraan umum, sementara Pasal 29 menjamin kehidupan beragama sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa.

Karena itu, ketika kegiatan keagamaan diarahkan untuk memperkuat solidaritas sosial, membantu kelompok rentan, memberdayakan ekonomi umat, dan menjaga lingkungan, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya kehidupan beragama yang sehat, tetapi juga kehidupan kebangsaan yang lebih kokoh.

Penyuluh Agama dan Pekerjaan yang Tidak Selalu Terlihat

Dalam pelaksanaannya, Kemenag menaruh harapan besar kepada para penyuluh agama yang tersebar di berbagai daerah.
Mereka adalah kelompok yang jarang muncul dalam sorotan kamera, tetapi sering berada di garis depan ketika masyarakat menghadapi persoalan keluarga, konflik sosial, literasi keagamaan, maupun tantangan pembangunan karakter.

Abu Rokhmad menilai para penyuluh memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.

Di banyak tempat, mereka bekerja tanpa kemewahan. Mereka mendengar keluhan warga, mendampingi keluarga, menguatkan komunitas, dan menjelaskan nilai-nilai agama dalam bahasa yang dapat dipahami masyarakat.

Barangkali pekerjaan mereka tidak selalu menjadi berita utama. Namun justru dari ruang-ruang kecil itulah harmoni sosial sering kali dibangun.

Membersihkan Masjid, Membersihkan Kesadaran
Salah satu program yang menarik perhatian adalah Gerakan Bersih-Bersih Masjid.
Sepintas terlihat sederhana. Namun sesungguhnya ia mengandung pesan yang lebih dalam.

Sebab tidak sedikit orang yang begitu bersemangat menjaga kesucian simbol-simbol agama, tetapi terkadang lalai menjaga kebersihan lingkungan, ruang publik, bahkan perilaku sosialnya sendiri.
Padahal Islam sejak awal menempatkan kebersihan sebagai bagian dari nilai keimanan.

Maka membersihkan masjid bukan sekadar menyapu lantai atau mengelap jendela. Ia dapat dimaknai sebagai upaya membersihkan kembali kesadaran kolektif bahwa rumah ibadah harus menjadi pusat peradaban, bukan sekadar bangunan yang ramai saat perayaan lalu sepi setelahnya.
Agama yang Hadir, Bukan Hanya Hadir dalam Pidato

Abu Rokhmad menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 H selaras dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk menghadirkan wajah agama yang damai, inklusif, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.

“Peaceful Muharam 1448 H diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat wajah agama yang menghadirkan kedamaian, memperluas kemanfaatan sosial, dan memperkokoh persaudaraan kebangsaan,” katanya.

Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak akan diukur dari banyaknya seremoni yang berlangsung atau panjangnya daftar kegiatan yang diumumkan.

Keberhasilannya akan terlihat dari pertanyaan yang jauh lebih sederhana: apakah anak yatim merasa lebih diperhatikan, apakah masyarakat menjadi lebih peduli terhadap lingkungan, apakah keluarga menjadi lebih kuat, dan apakah persaudaraan semakin kokoh.

Karena agama yang hidup bukanlah agama yang paling sering dipidatokan. Agama yang hidup adalah agama yang kehadirannya benar-benar dirasakan manusia dalam keseharian mereka.

Dan mungkin, itulah makna terdalam Muharam: bukan sekadar pergantian tahun, melainkan kesempatan untuk memastikan bahwa nilai-nilai kebaikan tidak hanya tersimpan dalam kitab dan ceramah, tetapi berjalan bersama masyarakat di dunia nyata.