NASIONAL

Kepergian Romo Mudji Sutrisno, Suara Humanisme dan Dialog Lintas Iman Itu Kini Senyap

186
×

Kepergian Romo Mudji Sutrisno, Suara Humanisme dan Dialog Lintas Iman Itu Kini Senyap

Sebarkan artikel ini

 

swarabhayangkara.com, Jakarta — Duka menyelimuti jagat kemanusiaan dan kebudayaan Indonesia. Romo Mudji Sutrisno wafat pada Minggu, 28 Desember 2025, dalam usia 71 tahun.

Kepergiannya bukan sekadar berpulangnya seorang rohaniwan, melainkan juga lenyapnya satu suara jernih yang selama puluhan tahun setia merawat dialog lintas iman, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya sosok yang ia sebut sebagai sahabat dialog dan penjaga nurani kebangsaan.

“Kami berduka mendengar kabar Romo Mudji wafat. Selamat jalan sahabat dialog lintas iman,” ujar Menag di Jakarta, Senin (29/12/2025).

Bagi Menag, Romo Mudji bukan hanya seorang pemuka agama Katolik, tetapi juga seorang budayawan yang memandang iman sebagai ruang perjumpaan—bukan sekat pemisah. Keduanya kerap bertemu dalam berbagai forum dialog antaragama, membincang toleransi, perdamaian, dan masa depan Indonesia yang beragam.

“Saya mengenal Romo Mudji sebagai figur yang sangat menghargai nilai-nilai kebudayaan dalam beragama. Ia kerap menghadirkan perspektif seni dan estetika dalam spiritualitas. Itu sejalan dengan keberagamaan yang inklusif, moderat, dan membumi,” kenang Menag.

Salah satu jejak terakhir Romo Mudji di ruang publik tercatat pada Seminar Natal Nasional 2024 yang digelar Kementerian Agama di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, 19 Desember 2024. Dalam forum bertema “Gereja Berjalan Bersama Negara: Semakin Beriman, Humanis, dan Ekologis”, Romo Mudji hadir sebagai narasumber, menyuarakan pentingnya humanisme dan kepedulian ekologis dalam praktik keagamaan di Indonesia.

Kini, Romo Mudji telah pergi. Namun gagasan, keteladanan, dan sikap rendah hatinya akan terus hidup dalam ingatan mereka yang pernah berdialog, berbeda pendapat, dan belajar darinya. Ia meninggalkan warisan yang sunyi tapi kuat: bahwa iman yang sejati selalu menemukan jalannya melalui kemanusiaan.

Selamat jalan, Romo. Indonesia kehilangan, tetapi nilai-nilai yang engkau tanamkan akan terus bertumbuh. (Is)