ENTERTAIN

LAGI PROBATION: KERJA NGEJAR APA SIH? Ketika Teman Menjadi Lawan, Ambisi Mengalahkan Persahabatan

×

LAGI PROBATION: KERJA NGEJAR APA SIH? Ketika Teman Menjadi Lawan, Ambisi Mengalahkan Persahabatan

Sebarkan artikel ini

Premisnya menarik dan dekat dengan kehidupan anak muda. Sayangnya, cerita berjalan datar, karakter kurang kuat, dan kritik terhadap dunia kerja belum cukup tajam untuk meninggalkan kesan.

swarabhayangkara.com, Jakarta – Dunia kerja kadang lebih menyeramkan daripada cerita horor. Di balik senyum rekan sekantor, obrolan saat makan siang, dan sapaan ramah setiap pagi, bisa saja tersembunyi ambisi, intrik, bahkan pengkhianatan.

Itulah dunia yang coba ditampilkan BASE Entertainment melalui film Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?, garapan sutradara Archie Hekagery. Film yang diproduseri Shanty Harmayn ini menggelar press screening dan press conference di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Dibintangi Aurora Ribero, Rey Bong, Gabriella Ekaputri, Lutfi Afansyah, Daffa Wardhana, Arafah Rianti, Wafda Saifan, dan Indra Birowo, film ini mengangkat kehidupan anak muda yang harus bersaing mendapatkan pekerjaan tetap.

Ceritanya berpusat pada Bintang (Aurora Ribero), yang bersama lima kandidat lainnya harus melewati masa probation. Masalahnya, perusahaan hanya menyediakan satu posisi karyawan tetap. Persahabatan pun perlahan berubah menjadi persaingan. Teamwork bergeser menjadi teamwar.

Premis Menarik, Cerita Kurang Menggigit
Gagasan film ini sebenarnya menarik. Masa percobaan kerja yang semestinya menjadi ajang pembuktian kemampuan justru berubah menjadi arena perundungan, tekanan, manipulasi, dan pengkhianatan.

Realitas semacam ini bukan sesuatu yang asing. Di dunia kerja, tidak semua orang yang tersenyum benar-benar bersahabat. Ada yang datang membawa bantuan, tetapi menyimpan kepentingan. Bahkan, teman dekat bisa berubah menjadi lawan ketika ambisi mulai berbicara.

Sayangnya, premis yang menjanjikan itu tidak sepenuhnya berhasil diterjemahkan menjadi cerita yang kuat.

Alur berjalan biasa-biasa saja. Konflik muncul, persaingan terjadi, tetapi tidak ada ledakan dramatik yang benar-benar membuat penonton ikut geregetan. Skenarionya terasa kurang tajam dalam menggali emosi dan kedalaman persoalan.

Semua tokoh seperti memiliki tugas masing-masing, tetapi belum semuanya memiliki karakter yang kuat. Mereka hadir, berbicara, berselisih, lalu berlalu tanpa meninggalkan kesan mendalam.

Bintang dan Bayang-Bayang Betty La Fea
Tokoh Bintang yang diperankan Aurora Ribero digambarkan polos, lugu, dan kurang percaya diri. Karakter ini sekilas mengingatkan pada Betty La Fea, tokoh telenovela Kolombia yang pernah populer.

Namun, kepolosan Betty memiliki daya tarik dan kekuatan emosional tersendiri. Sementara Bintang terasa belum menemukan ruh yang sama. Dalam beberapa bagian, ia justru terlihat terlalu bloon dan kurang meyakinkan sebagai tokoh utama.

Padahal, penonton membutuhkan karakter yang bukan hanya dikasihani, tetapi juga mampu membuat mereka ikut merasakan perjuangan dan perubahan hidupnya.
Ambisi yang Lebih Abadi daripada Persahabatan

Salah satu sindiran menarik dari film ini adalah bagaimana persahabatan bisa kalah oleh kepentingan. Hari ini berteman, besok saling menjatuhkan. Hari ini saling mendukung, besok berebut posisi.

Situasi ini bahkan terasa akrab dengan kehidupan organisasi dan politik: tidak ada teman yang benar-benar abadi, yang sering kali abadi justru kepentingan.

Sayangnya, kritik sosial tersebut belum digarap lebih dalam. Padahal, dunia kerja menyediakan begitu banyak cerita tentang manusia yang rela mengorbankan kejujuran demi sebuah jabatan.

Film yang Aman, tetapi Kurang Berkesan
Sebagai sutradara, Archie Hekagery belum memperlihatkan sentuhan magis yang membuat film ini istimewa. Cerita bergulir cukup lancar, tetapi tidak banyak kejutan dalam pengadeganan maupun pembangunan emosinya. Bukan film yang buruk, tetapi juga bukan film yang membuat penonton berdecak kagum.

Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih? memiliki tema aktual, dekat dengan kehidupan generasi muda, dan berpotensi menjadi kritik tajam terhadap budaya kerja yang tidak sehat. Sayangnya, potensi itu belum tergarap maksimal.

Pada akhirnya, film ini seperti ingin mengingatkan bahwa dunia kerja bukan sekadar tempat mencari uang, tetapi juga tempat menguji karakter manusia.
Sebab, ada orang yang mengejar karier dengan kompetensi, ada yang mengandalkan kerja keras, tetapi tak sedikit pula yang memilih jalan pintas dengan menjatuhkan orang lain.

Dan itulah ironi yang paling menyedihkan: enam orang berebut satu kursi karyawan tetap, sementara filmnya sendiri belum sepenuhnya berhasil mendapatkan tempat istimewa di hati penonton.

Sebab, membuat film ternyata tak jauh berbeda dengan mencari pekerjaan. Sama-sama membutuhkan kompetensi. Bedanya, penonton tidak wajib meluluskan sebuah film hanya karena sudah melewati masa produksi.