NASIONAL

Mulai Tinggalkan Posko, Warga Akhirnya Pulang dari “Sekolah Darurat” MAN 1 Langkat

183
×

Mulai Tinggalkan Posko, Warga Akhirnya Pulang dari “Sekolah Darurat” MAN 1 Langkat

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com,  Langkat — Setelah kurang lebih dua puluh lima hari hidup berdampingan dengan papan tulis, bangku kelas, dan jadwal makan dapur umum, ribuan warga korban banjir di Kecamatan Tanjung Pura, khususnya Desa Pekubuan, akhirnya mulai meninggalkan Posko Pengungsian di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Langkat.

Kepulangan ini menandai satu hal penting: air surut, dan ruang kelas kembali bersiap menjadi ruang belajar—bukan ruang tidur.
Sejak banjir melanda pada 26 November 2025 akibat hujan deras dan luapan sungai yang lebih cepat naik daripada peringatan dini, MAN 1 Langkat mendadak beralih fungsi. Dari lembaga pendidikan menjadi “asrama nasional dadakan” yang menampung ribuan pengungsi, mulai dari balita hingga lansia.

Kepala MAN 1 Langkat, Sugiono, mengatakan bahwa selama hampir satu bulan, madrasahnya bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga pusat logistik, layanan kesehatan, dan dapur umum. “Ruang kelas yang biasanya diisi pelajaran kini diisi kasur, kardus bantuan, dan antrean obat. Semua berjalan demi kemanusiaan,” ujarnya, Minggu (21/12/2025).

Suasana haru mewarnai kepulangan warga. Tangis syukur terdengar, diselingi senyum lelah khas orang yang telah bertahan lebih dari sekadar kuat. Banyak warga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, relawan, tenaga medis, dan semua pihak yang membantu—termasuk kepada bangunan sekolah yang sabar menunggu untuk kembali dipakai belajar.

Posko Pengungsian MAN 1 Langkat bahkan sempat naik kelas menjadi perhatian nasional setelah dikunjungi Presiden Prabowo Subianto. Kunjungan tersebut memberi semangat tersendiri bagi para pengungsi, sekaligus memastikan bahwa negara memang sempat mampir melihat warganya yang terdampak. Presiden meninjau langsung kondisi pengungsi dan menyerahkan bantuan, terutama untuk anak-anak, lansia, dan kelompok rentan—yang selama ini menjadi kelompok paling setia menghadapi bencana.

Selama di posko, warga mendapatkan fasilitas dasar: tempat tidur ala ruang kelas, makanan dari dapur umum, layanan kesehatan, hingga dukungan psikososial. Meski jauh dari kata nyaman, warga mengaku bersyukur karena setidaknya kebutuhan dasar terpenuhi, meski harus berbagi ruang dengan poster tata tertib sekolah.

Kini, seiring surutnya air, warga kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan lumpur, memperbaiki kerusakan, dan memulai lagi hidup yang sempat terendam. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pendataan dan penyaluran bantuan lanjutan—agar pemulihan tidak ikut hanyut bersama banjir berikutnya.

Salah satu perwakilan warga secara khusus menyampaikan terima kasih kepada pihak madrasah dan Kepala MAN 1 Langkat yang membuka pintu sekolah tanpa banyak syarat. “Kalau bukan karena madrasah ini, mungkin kami harus mencari tempat lain yang belum tentu aman,” ujarnya haru.

Sugiono menegaskan bahwa selama masa pengungsian, pihak madrasah, pemerintah daerah, relawan, dan organisasi kemanusiaan bekerja bersama. Aktivitas belajar mengajar memang terganggu, namun keselamatan manusia ditempatkan di atas segalanya—sebuah pelajaran yang tidak tertulis di kurikulum.

Dengan ditinggalkannya Posko Pengungsian MAN 1 Langkat, pihak madrasah berharap proses pemulihan berjalan lancar dan kehidupan kembali normal. Kepala madrasah juga berdoa agar bencana serupa tidak kembali terulang—atau setidaknya, jika datang lagi, negara tidak hanya datang berkunjung, tetapi juga bersiap sejak awal.(Is)