Ekonomi

Riak Kecil di Tengah Badai Besar: Ketika Rakyat Menenun Harapan di Saat Negara Masih Menghitung

45
×

Riak Kecil di Tengah Badai Besar: Ketika Rakyat Menenun Harapan di Saat Negara Masih Menghitung

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta
Langit dunia sedang retak. Di kejauhan, konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan sekadar percikan api di peta global—ia adalah badai yang diam-diam mengirimkan ombak ke pesisir ekonomi negeri ini.

Harga-harga naik tanpa permisi. Energi menjadi mahal seperti harapan yang sering ditunda. Dan rakyat kecil, seperti biasa, berdiri paling depan menerima hantaman pertama.

Di tengah pusaran itu, Dewan Ekonomi Rakyat (DER) mencoba menenun gagasan—sebuah ikhtiar yang terdengar sederhana namun sarat makna: kemandirian pangan dan energi. Sebuah mimpi lama yang kembali dihidupkan, seakan bangsa ini baru tersadar bahwa terlalu lama bergantung adalah bentuk lain dari pelan-pelan melemah.

Ketua Umum DER, A. Edi Wahyudi, berbicara tentang keberanian berdiri di atas kaki sendiri. Tentang ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keadilan yang merata—sesuatu yang sering dijanjikan, namun jarang benar-benar dirasakan.

Namun di balik narasi yang penuh harapan itu, realitas berdiri dengan wajah yang lebih jujur.

Ketika Rakyat Diminta Kuat, Tapi Dibiarkan Sendiri
Di banyak tempat, denyut ekonomi justru bertumpu pada mereka yang nyaris tak terlihat: para pelaku Usaha Kecil dan Menengah, petani, pedagang kecil, dan pekerja informal. Mereka adalah fondasi yang sering dipuji, namun jarang diperkuat.

Pemberdayaan masyarakat kerap hadir sebagai wacana yang indah di ruang-ruang seminar, tetapi kehilangan nyawa ketika menyentuh lapangan. Program ada, tetapi tak selalu tepat sasaran. Bantuan ada, tetapi tak selalu berkelanjutan.

Negara seperti hadir—namun dari kejauhan. Dekat dalam janji, jauh dalam realisasi. Padahal, di saat krisis global seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kebijakan, melainkan keberpihakan yang nyata—yang bisa dirasakan hingga ke warung kecil di sudut kampung.

Badai Global, Luka Lokal
Perang di Timur Tengah menjelma menjadi domino yang menjatuhkan banyak sisi kehidupan. Energi terguncang, distribusi tersendat, dan harga kebutuhan pokok menari tanpa kendali. Apa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, tiba-tiba terasa di meja makan rakyat Indonesia.

Ketergantungan yang selama ini dianggap wajar, kini berubah menjadi titik lemah. Dan di situlah urgensi kemandirian menjadi tak terbantahkan—bukan lagi pilihan ideal, melainkan keharusan yang tak bisa ditunda.

Di Persimpangan Harapan
DER kini berada di tahap awal—menguatkan permodalan, merancang langkah, dan berharap bisa berjalan beriringan dengan pemerintah. Sebuah niat yang baik, namun sejarah mengajarkan bahwa niat saja tidak pernah cukup.
Sebab yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar rencana, melainkan kehadiran.
Bukan sekadar ajakan bersatu,
melainkan bukti bahwa mereka tidak ditinggalkan.

Kemandirian pangan dan energi bukan sekadar proyek ekonomi—ia adalah perlawanan sunyi terhadap ketergantungan. Ia adalah cara bangsa ini menjaga martabatnya di tengah dunia yang semakin tak pasti.

Dan mungkin, di tengah semua ini, ada satu kenyataan yang tak bisa disangkal:
Bahwa rakyat telah terlalu lama belajar bertahan sendiri. Terlalu sering menjadi solusi bagi masalah yang bukan mereka ciptakan.

Kini, ketika badai datang lebih besar dari sebelumnya, pertanyaannya bukan lagi apakah rakyat mampu bertahan—
melainkan, apakah negara akhirnya akan benar-benar hadir.